Aku pikir diriku remaja berumur 21 tahun yang bertemu dengan seseorang berumur entah berapa yang membuatku risih karena sepertinya dia tidak setuju menyebut diriku re-ma-ja. Remaja karena aku masih suka berkeliaran, bermain-main di luar, bersenang-senang dengan uang orang tua, terlampau santai dengan kehidupan dan masa depan, tidak mau diatur, jarang sekali bangun pagi, tidur sesukanya asal tugas tidak terbengkalai, hingga bermain "api". Kau tahu apa artinya? Aku sama sekali belum dewasa.
Aku memang sudah memimpikan memakai gaun pengantin sejak berusia 16 tahun, tetapi aku tidak pernah mau tahu bagaimana caranya aku dapat menjemput impianku, membuat diriku pantas dan layak disanding oleh seseorang. Bukan masalah pernikahan saja, aku ingin terbang ke Eropa bahkan menjejakkan tanah di Afrika, setidaknya untuk membuatku begitu bersyukur memiliki udara yang sejuk untuk dihirup dan berjalan pun tidak harus berperang dengan tulang-tulang yang gemerutuk karena terlanjur kurus dan kurang gizi. Belakangan aku juga ingin naik haji. Namun, seperti biasa, aku yang mencatat setiap mimpiku dalam dream list-ku masih saja suka bermalas-malasan dan "memimpikan" semua itu di dalam tidurku. Tiba-tiba aku sudah 21 tahun dan terperangah melihat dream list-ku semakin memanjang. Umur kemudian menjadi hampir segala-galanya bagiku. Mungkin karena frekuensi penyebutannya yang selalu sering. Aku yang selalu dilihat lebih tua atau mungkin beberapa menyebutnya dewasa daripada umurku membuat umur menjadi salah satu hal yang menjadi perhatianku. Yang kemudian menjadi lebih penting adalah kesadaran akan umur yang dipertemukan dengan mimpi-mimpi yang belum kesampaian. Mau diapakan?


















