Tuesday, April 2, 2013

Segenggam Pasir


Apakah salah menelan perasaan yang membuncah dari dalam dada sendirian? Bukankah yang mencipta juga bukan kita? Aku bahkan tidak pernah mengira ini akan ada. Saat aku pikir aku akan selalu sendirian menikmati ini, tidak ada yang berhak mengadu bahwa keegoisanku adalah tidak membaginya. Saat aku tahu ini apa, aku bahkan semakin tahu bahwa anugerah ini lebih dari sekedar jauh. Jauh tak terhingga sampai sudut horizon. Mengapa Tuhan menitipkannya sedangkan kau mungkin tidak pernah merasakannya?
Ini seperti menggenggam pasir kering. Yang rontok seketika saat nafsu berupaya menahannya tetapi akan diam begitu saja di sela-sela jari saat ambisi tidak terlalu berminat mempertahankannya. Bukankah pasir bukan emas yang dapat dipertukarkan dengan kebahagiaan? Bukankah pasir terlalu tidak berharga untuk diperebutkan? Lalu masih saja salah menyimpannya di dalam lumbung sempit tempat hati merakitnya menjadi batu permata? Tidak ada yang pantas untuk diperdebatkan karena ia hanyalah segenggam pasir.
Bahkan aku tidak tahu bagaimana mungkin seseorang mengenali butiran yang tercecer itu sebagai sepotong hati yang tidak akan membenci kerapuhan yang merongrongnya. Bolehkah memelihara benda usang demi kepuasan? Kepuasan yang bahkan juga tak dapat dimengerti melalui logika mana pun. Apa indahnya mempertahankan yang mati karena gersang tanpa balas? Kau bahkan tidak peduli seberapa banyak butirannya kini tercecer dalam membunuh jauh di antara kamu dan aku. Hingga dalam setiap langkahku akan mengurangi jumlahnya dalam genggamanku. Semakin mendekat aku, semakin membeku pasir (untuk)mu.
Share:

0 comments: