Friday, July 18, 2014

Dalam Tidur


"Aku selalu lebih memilih untuk tetap tidur walaupun bahagiaku hanya dalam mimpi."

Tuhan, aku selalu bertanya-tanya apakah orang lain juga merasakan ini dan bagaimana mereka menghadapi ini? Waktu melingkupi segalanya walaupun ia tak mampu menaungi. Waktu berikan hati-hati yang menua kesempatan dan pemahaman mengenai pertemuan dan perpisahan. Tidak semuanya dapat dirasakan dengan terang tetapi adakalanya kebijaksanaan hati yang harus selalu siap menjumpai senja menenangkan pikiran 'yang baik-baik saja'. Bagaimana aku dahulu tidak mempedulikan hiruk pikuk dan kini aku bahkan jadi peduli pada setitik debu yang mampu memenuhi udara. Yang kini aku justru lebih banyak menatap dengan romantika bahwa debu pun terkadang indah pada tempatnya. Jika aku hanyalah satu dari sekian milyar orang di dunia, apa istimewanya menghargai debu-debu yang membuat apapun menjadi lusuh? Jika kemudian ternyata ada yang selalu dapat menghargai hidup dengan cara-cara paling bijak. Semuanya tak terasa tertelan hilang oleh kemuliaan-kemuliaan orang lain. Satu-satunya dalam sekian milyar, bagaimana melihat dan menentukannya? 

Apa yang terjadi jika hal-hal kurang baik kemudian menjadi terbolak-balik? Atau hanya mengenai tenggelamnya kepiasan dalam mimpi-mimpi indah? Guratan wajah-wajah itu membuatku semakin lama semakin pandai bersembunyi seperti dalam kesenangan seseorang yang lelah memiliki tidur.
Tidak ingin terlalu aku pikirkan, namun bagaimana pun aku tahu suatu saat jika aku bangun aku harus bersikap.

Bagaimana mereka menghadapi ini? Benarkah mereka memilikinya sendirian? Selalu saja sulit memberikan porsi yang pas antara semangat merangkai hati-hati yang baru dan pengalaman-pengalaman yang banyak mengajarkan. Saat pilihan hadir tetapi hati tak mau berpikir, mungkin keberadaan di antara milyaran manusia justru teraba dan terasa karena ketidakmampuannya melakukan hal-hal yang pantas pada milyaran itu. Mungkin beberapa atau tiga, dua, satu; satu saja jika milyaran itu terlalu besar; mengapa pula menaruh hati pada milyaran yang berkeliaran. Menghadirkan pertanyaan apa istimewanya mereka jika banyak sekali yang unik dengan cara-cara mereka sendiri tetapi tidak akan pernah sempurna tanpa kehadiran yang lain. Yang kemudian membuat rasionalitas memanjakan keinginan untuk dua, tiga, empat, dan banyak tanpa ada satu pun keistimewaan yang sempurna untuk hanya satu. Jika pergi maka usai, jika ada maka lanjut. Jika bangun maka menghadapi kenyataan, jika tidur maka melanjutkan kesenangan. Yang mereka istimewa bahkan tidak mampu memikat, bagaimana dengan yang tertimbun milyaran kisah-kisah paling istimewa sepanjang waktu dihidupkan? Yang hanya karena ada maka mendapatkan yang pantas. Untuk merasakan tanpa alasan, bagaimana mungkin untuk hati yang selalu diselimuti bias-bias rasa antara rasionalitas dan romantisme manusia? Jika alasan sudah tidak ada bagaimana bersyukur tanpa harus bertanya masihkah berharga memiliki debu-debu yang semakin lusuh menumpuk? Bagaimana membuat semuanya ini tanpa alasan untuk dapat lebih mencintai kenyataan daripada keberadaan dalam mimpi yang lebih terasa? Alasan yang tidak pernah tercipta kemudian menjadi kepiluan dipertemukan dengan hilangnya seiring dengan bangunnya sang pemimpi. Saat semua ini kemudian terasa lebih baik beralasan maka celakalah satu di antara milyaran yang pernah ada untuk memandang semuanya tanpa alasan. Bagaimana mereka dipersatukan jika tidak salah satunya akan mati lebih bahagia dalam tidurnya?
Share:

0 comments: