Rasa rinduku seperti kemarau yang menginginkan hujan. Tak akan sepetak kemarau pun mampu memilikinya kecuali dengan syarat yang berat. Leburnya udara kering yang menjelma menjadi tetesan air.
Rasa rinduku seperti kemarau yang butuh hujan. Akan berakhir membahagiakan jika hujan datang tepat waktu. Namun, akan membuat kerinduan semakin lekat ketika hujan tak mau datang.
Rasa rinduku seperti kemarau yang membayangkan hujan. Menyejukkan retakan tanah dan menyesaki udara kering di antaranya dengan kesegaran. Memenuhi diriku akan semua tentang kamu yang bahkan membuatku terkadang lupa aku hanya sedang bersama haiku yang merindukanmu.
Rasa rinduku seperti kemarau yang melukai ketulusan hujan. Membakar setiap benda dengan beringas saat hujan terlampau lama tak mau singgah. Menjadi liar saat hujan tidak hirau untuk sekedar menyapa. Menghilang begitu saja tanpa perasaan bersalah saat kau mulai memadamkan kemarahanku dengan airmu.
Rasa rinduku yang seperti kemarau tidak akan menyatu dengan hujan. Karena kemarau dan hujan akan saling membunuh. Kemarau dan hujan tidak dapat hadir bersamaan. Kemarau dan hujan tidak dapat pernah bertemu di tanah yang subur atau kering sekaligus. Kemarau dan hujan ada tetapi tidak untuk menjaga sepetak tanah berdua. Kemarau dan hujan kodratnya memang berbeda. Kemarau dan hujan tidak menyatu untuk mengkompromi bumi dan waktu.
Aku hanya merindukanmu. Dengan cara kemarau pada hujan, mungkinkah hati bertemu?




0 comments:
Post a Comment