Aku tidak pernah tahu bahwa seiring bertambahnya usia dan hal-hal yang aku lalui, akan ada perasaan-perasaan baru yang sangat tidak familiar aku rasakan.
Aku masih bertanya-tanya hingga sekarang. Apakah jika kita telah berkali-kali terluka, maka rasanya lama kelamaan akan kebas? Sakit memang masih begitu hebat, bahkan membuatmu sampai menangis tersedu-sedu. Kau bahkan berpikir tidak mungkin besok kau akan masuk ke kantor dan harus bertemu banyak orang, apalagi ketawa karier. Malam itu kau pikir kau tak akan bisa tidur sampai Subuh meskipun kau sudah berusaha mengerahkan seluruh air matamu dengan harapan kau akan kelelahan, lalu tertidur.
Nyatanya, semua itu tak terjadi. Kau tetap tidur dan baru bangun esoknya karena panggilan Subuh. Kau tetap datang ke kantor, bertemu dengan banyak orang atau klienmu, mengerjakan pekerjaanmu sampai matahari lepas tenggelam. Namun, tetap saja kan, rasanya tetap sakit. Hanya saja kau lebih banyak diam tetapi tanpa disadari pertahananmu begitu rapuh dan bisa saja kau meledak karena hal-hal kecil.
Sejujurnya aku tidak tahu aku harus berbuat apa. Aku telah berkali-kali patah hati setiap tahunnya. Aku kira aku akan berangsur membaik dan terbiasa. Ternyata setiap patah hati rasanya berbeda, kejutannya juga berbeda. Setiap detik aku patah hati, warna-warna dalam jiwaku, meski bukan lagi padam, aku merasa mereka memudar. Kontrasnya lama-lama menghilang, entah seperti tidak jelas tertutup kabut atau semakin buram bentuknya makin halus melebur dengan udara. Jika dulu aku depresi warnanya gelap dan seperti bayangan, kali ini warnanya semakin kelabu meski samar-samar ada cahaya temaram. Seperti gambaran kalau kau masuk ke surga dan dikelilingi awan. Tapi itu bukan dengan perasaan senang. Rasanya seperti mengulum senyum saat kau menoleh ke belakang dan mendapati dirimu di masa lalu telah berhasil bertahan. Rasanya seperti menginggalkan kehidupan dan lulus ujian yang entah akan berujung ke mana.
Aku sudah tidak berani berharap. Aku hanya berjalan di dunia ini dengan mencari alasan untuk bisa bertahan setiap harinya. Perjuanganku setiap kali bangun dari tempat tidur adalah mengenai aku harus bertahan untuk hari ini. Hari ini saja, mari kita bertahan. Meskipun lelah dan menyakitkan, ayo kita bertahan. Aku katakan pada diriku seperti itu setiap harinya. Aku sudah tidak tahu lagi apa alasan yang bisa aku cari untuk bisa melalui satu hari saja selain aku melihat jam tanganku bahwa ada waktu solat berikutnya yang harus aku kerjakan dan tidak boleh aku terlambat.


