Friday, October 31, 2014

Refleksi Diri 21 Tahun

Aku pikir diriku remaja berumur 21 tahun yang bertemu dengan seseorang berumur entah berapa yang membuatku risih karena sepertinya dia tidak setuju menyebut diriku re-ma-ja. Remaja karena aku masih suka berkeliaran, bermain-main di luar, bersenang-senang dengan uang orang tua, terlampau santai dengan kehidupan dan masa depan, tidak mau diatur, jarang sekali bangun pagi, tidur sesukanya asal tugas tidak terbengkalai, hingga bermain "api". Kau tahu apa artinya? Aku sama sekali belum dewasa. 
Aku memang sudah memimpikan memakai gaun pengantin sejak berusia 16 tahun, tetapi aku tidak pernah mau tahu bagaimana caranya aku dapat menjemput impianku, membuat diriku pantas dan layak disanding oleh seseorang. Bukan masalah pernikahan saja, aku ingin terbang ke Eropa bahkan menjejakkan tanah di Afrika, setidaknya untuk membuatku begitu bersyukur memiliki udara yang sejuk untuk dihirup dan berjalan pun tidak harus berperang dengan tulang-tulang yang gemerutuk karena terlanjur kurus dan kurang gizi. Belakangan aku juga ingin naik haji. Namun, seperti biasa, aku yang mencatat setiap mimpiku dalam dream list-ku masih saja suka bermalas-malasan dan "memimpikan" semua itu di dalam tidurku. Tiba-tiba aku sudah 21 tahun dan terperangah melihat dream list-ku semakin memanjang. Umur kemudian menjadi hampir segala-galanya bagiku. Mungkin karena frekuensi penyebutannya yang selalu sering. Aku yang selalu dilihat lebih tua atau mungkin beberapa menyebutnya dewasa daripada umurku membuat umur menjadi salah satu hal yang menjadi perhatianku. Yang kemudian menjadi lebih penting adalah kesadaran akan umur yang dipertemukan dengan mimpi-mimpi yang belum kesampaian. Mau diapakan?

Entah apa yang membuatku mulai lagi menuliskan ini. Aku melihat hidupku lebih sering dalam warna-warna senja daripada warna-warni candy. Mengapa aku menyebutnya candy? Karena aku sangat suka dengan Katy Perry dan aku suka gayanya yang selalu ceria penuh warna seperti permen lolipop. Meskipun aku tergila-gila oleh senja, aku tidak akan pernah tidak bahagia jika melihat pelangi. Begitulah.
Beberapa tahun belakangan, aku sadar bahwa hidupku tidak ubahnya seperti senja yang aku idam-idamkan itu. Mungkin terlihat sendu tetapi aku menemukan keindahan dan ketenteraman di dalamnya. Bahkan aku tidak mengelak bahwa aku sangat suka menulis dengan romantika dan metafora berlebih untuk mendramatisir ilustrasiku mengenai sesuatu. Yang aku tulis juga jingga-jingga senja itu-itu saja. Saat aku membuka-buka kembali, rasanya seperti, ya...pengalaman-pengalaman yang aku lewati perlahan menjadi kenangan-kenangan yang terekam dalam kata-kata. Itu menjadi salah satu hartaku. Aku tahu pasti bagaimana perasaan yang terekam dalam setiap huruf di dalam tulisanku. Aku masih menulis hal-hal menyedihkan kalau kata orang. Namun, bagiku, ini bukan hanya tentang kegalauan dan hal-hal yang membuatku tidak bisa "move on". Memang beginilah caraku memaknai sesuatu, memikirkannya secara mendalam, membuat pelajaran tentangnya, mengambil kebaikan darinya. Aku tidak selalu bersedih, buktinya aku suka warna-warni candy :)

Ada begitu banyak titik di dalam hidupku yang membuat diriku berubah dan tumbuh. Namun, apa gunanya perubahan cara pikir dan diri yang semakin mendewasa jika tidak bisa mengendalikan kemauan yang tidak-tidak? Maksudku, apa gunanya kebaikan hanya ditanamkan di pikiran tetapi tidak di dalam perbuatan? Aku terkadang masih begitu, suka sekali menjadi begitu "apa adanya" seperti anak-anak dan tidak mau dewasa jika membawa diriku sendirian.
Kini, setiap malam yang aku lalui dan aku akhiri selalu terbayang wajah kedua orang tuaku. Mau aku bawa ke mana tubuh dan jiwa ini supaya orang tuaku tidak dipertanyakan tanggung jawabnya kelak karena melahirkan aku. Namun, esok paginya aku juga masih bangun kesiangan. Hal ini terus-menerus terjadi dan aku juga tidak bosan-bosannya bertobat setiap sujud. Mungkin Tuhan lelah melihat kelakuanku.
Aku sudah berkali-kali diyakinkan dan diperingatkan, entah oleh orang lain maupun pengalamanku sendiri bahwa aku HARUS selalu menjaga diri. Bukan hanya untuk seseorang, dua orang, orang lain, tetapi untuk diriku sendiri yang akan dicintai Allah seumur jiwaku untuk dunia dan akhirat nanti. Akan menjadi sangat baik untukku jika aku berhenti "bermain api" karena aku bukan remaja lagi.

Setiap kali aku keluar sendirian aku tidak pernah tenang karena aku selalu merasa ada orang lain di belakangku yang membuntutiku. Setiap kali terjebak di dalam keramaian aku merasa ada seseorang yang mengawasiku dan hendak mencelakaiku. Setiap kali punggungku tidak berada di tempat paling belakang aku merasa was-was, tidak bisa memastikan keadaan telah aman untuk diriku dan semuanya. Oleh karena itu, aku suka menjadi yang terakhir meninggalkan kelas, menjadi yang terakhir tersisa di dalam percakapan, menjadi yang terakhir yang bisa diandalkan. Namun, tetap saja, aku tidak bisa sendirian. Banyak hal yang membuatku tidak hanya merasa berbahaya untuk sendirian. Sendiri jika keluar, sendiri di dalam keramaian, sendiri tanpa ada yang menjaga. Mungkin terdengar berlebihan bagi beberapa orang, namun, pengalamanku mengajarkan bahwa "kesendirian" memang bukanlah tempatku.
Saat sendiri mungkin aku bisa berpikir lebih jernih tetapi di saat sendiri pun aku juga dapat menjadi seseorang yang benar-benar bukan diriku. Aku yang tidak terkendalikan, jangan-jangan justru itulah sebenar-benarnya aku?

Bagiku, setiap manusia memang diciptakan dengan sisi gelapnya, kecuali Muhammad yang telah dicuci peras hatinya oleh Jibril sejak masih kanak-kanak. Yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah bagaimana ia dapat mengendalikan sisi gelapnya. Bagiku cukup untuk membuat diriku tidak ragu bahwa aku merupakan makhluk yang mulia jika mampu menegaskan perbedaan itu melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan. Mulia sebagai manusia, mulia sebagai ciptaan-Nya, dan mulia sebagai wanita.

21 tahun ini aku masih terus belajar tentang kehidupan. Aku sadar bahwa 2 per 3 hidupku kelak tidak hanya akan aku habiskan untuk aku nikmati sendiri, bahkan orang tuaku perlahan pasti akan aku "tinggalkan". Sebagai perempuan aku sadar bahwa aku akan mengalami berbagai macam jet lag dalam hidupku. Yang mungkin bisa mulai aku hitung dari sini adalah, (1) berubahnya orientasi hidup keremajaan karena ada seseorang yang mengajak menikah; berhenti bermain-main dengan kehidupan dan mulai sungguh-sungguh berkejaran dengan waktu, (2) menikah itu sendiri; berpisah dengan orang tua dan keluarga, hidup berdua dengan orang yang dulu sama sekali asing, adanya keluarga baru dari suami, pengalaman-pengalaman baru, mungkin juga ujian-ujian baru, (3) hamil; tidak bisa beraktivitas dengan normal, tidak bisa bekerja sesuka hati dan memakai gaya hidup sekenanya, (4) memiliki anak; menjadi madrasah pertama dan utama sebagai seorang ibu, memperluas kemampuan multitasking untuk mengurus anak, suami, rumah, mungkin juga orang tua. Setidaknya aku masih bisa berpikir sejauh itu. Mungkin masih banyak lagi jet lag-jet lag yang lain yang mungkin akan hadir dalam hidup perempuan. Namun, memikirkannya membuat otakku menjadi penuh sesak dan ada baiknya aku mulai saja mengerjakan dan melaluinya satu per satu tanpa takut-takut. Yang jelas ada di dapan mata kini adalah bahwa aku tidak boleh lagi bermain-main dengan waktuku, aku pasti menua setiap detiknya, dan dream list-ku aku sadari semakin ke sini semakin memanjang. Aku pastikan aku akan menjadi aku yang terbaik untuk diriku sendiri dan orang tuaku. Aku percaya bahwa Allah Yang Selalu Bisa Diandalkan juga akan membuat dirinya, siapapun itu, akan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu sama seperti aku.
Sedikit demi sedikit aku mengakui kebodohanku dan berusaha meninggalkannya. Allah Maha Pengampun dan Maha Mengetahui setiap bisik lirih hati manusia. Tidak hanya dengan ada seseorang atau beberapa orang yang harus menyertai kesendirianku di luar dan di tengah keramaian untuk menjagaku, Allah terus-menerus menjagaku dengan cara-cara-Nya yang aku tidak tahu apakah hari ini akan sama dengan caranya besok. Aku berterima kasih karena ditunjukkan pada tanda-tanda kekuasaan-Nya. Ya, aku sadar akan kekhilafanku dan bersyukurnya aku, ini adalah salah satu perasaan yang tidak dapat hadir setiap waktu. Betapa manusianya aku hingga aku selalu butuh pertolongan dari Tuhanku.
Share:

0 comments: