Saat begitu ingin merindu padahal tidak ada yang bisa diajak beradu
pilu. Bahkan hati memiliki siapa, memilih siapa juga entah. Setiap pasang mata
yang menyelinap masuk memperlihatkan isyarat-isyarat pembeda, jika bukan pesaing
maka pencinta. Tidak ada satu pun yang terabaikan. Padahal juga tidak benar
bahwa abu-abu tidak diciptakan. Dan lalu, apakah semua bisa benar jika bukan
rival maka akan selalu kawan, yang menemani hati ini?
Jika yang dipercayai adalah pertemuan di kemudian hari dengan hati yang
suci. Mengharapkan kemurnian cinta padahal belum pasti hati ini juga masih saja
suci, bersih tanpa noda. Yang lebih parah adalah saat tidak sadarnya bahwa hati
yang kotor tidak disebabkan oleh orang lain. Namun, oleh tingkah sendiri yang
selalu berpikir miring, bertindak menyimpang, dan tiada ampun mendikte diri
pada kesenangan, mendengki sesuka hati, melakukan pembenaran atas dasar
kebutuhan. Tiada hentinya mengagumi diri sendiri sebagai ciptaan paling
sempurna. Dengan segala tipu daya hati yang gelap membenarkan bahwa manusia
yang insane adalah benar seperti itu
manusia seharusnya hidup, bertindak, berperilaku, bersikap, berpikir,
beranggapan pada setiap hal yang mampu ditampung kepala. Padahal demikian yang
membedakan manusia dengan makhluk lain adalah kesadaran akan kegilaan yang
mampu menguasai hati apabila menganggap kegilaan sebagai kehebatan. Kemanusiawiaan
yang terlalu ‘manusiawi’.
Siapa yang tahu hati ini sudah terkena
penyakit?
Hanya tidak mudah menjadi manusia. Menjadi yang teristimewa sekaligus
terhina dina. Tidakkah diciptakan mahkluk lain agar manusia bisa belajar
merawat hati yang terlanjur berpenyakit? Bukan belajar dari generasi lain,
orang lain, manusia lain tetapi makhluk lain. Karena dengan pengalaman dari sesama
manusia hanya akan meninggalkan sebuah kesimpulan tanpa revisi, begitulah semestinya kehidupan. Semua maklum.
Siapa yang tahu hati ini sudah terkena
penyakit?
Jika semua maklum, apa makna bersih, putih, suci, dan murni?
~NR~




0 comments:
Post a Comment