Kakak, bahwa sebenarnya aku ingin berbicara dengan hatiku. Mendamaikannya dengan kebodohan yang mungkin aku lakukan jika tidak aku katakan sekarang.
Kakak, bahwa sebenarnya adikmu belum mampu menahan mata untuk tetap terbuka hingga larut malam. Silau karena layar laptop yang menyerang mata tanpa ampun dengan hitam putihnya.
Kakak, bahwa sebenarnya aku masih ingin ibu menyisiri rambutku setiap pagi. Membuatku siap dalam situasi apapun untuk menghadapi hari, bukan kini bangun yang terburu-buru karena tidur melampaui dini hari.
Kakak, bahwa sebenarnya aku tidak pernah menyangka akan butuh untuk mengatakan ini. Tidak selamanya hati mampu tidak peduli.
Kakak, bahwa sebenarnya yang tidak peduli adalah aku yang mengabaikan waktu. Berjalan santai tanpa beban meninggalkan dirimu dan ibu untuk orang-orang baru.
Kakak, bahwa sebenarnya tidak ada yang pantas untuk dipertahankan kecuali keikhlasan. Dalam keharubiruan semuanya bukan milik kita.
Kakak, bahwa sebenarnya rindu itu perlahan membunuh rasa bahagiaku. Menyembul begitu saja tanpa memberikanku kesempatan untuk menikmati senja sepiku.
Kakak, bahwa sebenarnya aku akan terus menjadi adikmu. Dewasa dalam waktu yang entah kapan karena akan selalu ada engkau, kakakku.
Kakak, bahwa sebenarnya aku inginkan kamu seperti inginku disuapi ibu. Ke manakah aku harus mengguru?
Kakak, bahwa sebenarnya aku tidak tahu bolehkah mengharap kekosongan. Meniup-niup seruling tanpa lubang dan berharap harmoni nada dalam setiap tempaan.
Kakak, bahwa sebenarnya menunggumu menjawab hanya akan menjadi sebuah penantian. Dalam jarak antara kekanakan dan kedewasaan.
Karena kita tidak akan pernah kembali menjadi kecil-kerdil, Kakak.
Karena waktu akan terus menua, Kakak.
Karena ibu suatu saat akan dijemput, Kakak.
Karena batas hitam-putih lama-lama juga memudar, Kakak.
Karena rindu akan menjadi pertanda adanya hati yang terikat, Kakak.
Untuk Kakak, ada tidaknya engkau bukan menjadi persoalan.



0 comments:
Post a Comment