Thursday, April 10, 2014

Di Mana Aku Sekarang


Dan pertanyaan berikutnya yang kuharapkan adalah,
Di mana kamu sekarang? Diamlah di tempat dan jangan lakukan apapun.
Ya Tuhan, setelah beberapa tahun ini aku begitu menikmati kesendirian dan kebersamaan secara bertimbunan,
Akhirnya aku benar-benar merasa bahwa akan selalu ada titik di mana aku akan merasa begitu sepi,
akan selalu ada celah-celah tidak terjangkau yang membuatku ingin datang kembali,
dengan diri ini yang tidak berhenti memaksa pendirian untuk bersyukur,
aku masih tetap begitu.

Adakah perlunya bahwa aku memang harus membunuh hal ini dengan orang lain, dengan beberapa yang lain, dengan yang memahamiku?
Rasa-rasanya orang yang paling mengerti aku seperti emakku pun mungkin juga susah memahami putrinya.
Sesampai di sini aku sangat sadar bahwa setiap kedipan dan bukaan yang mataku butuhkan hanya sekedar lakukan,
Toh, terpejam maupun terbuka terasa tak ada beda.
Yang hijau, yang sejuk, yang hangat dari semua yang aku suka,
bahkan tidak mampu membuatku terkurung dalam kesendirian bersama mereka,
aku selalu ke mana-mana,
mengintai dari kejauhan,
menghela dari kesempitan,
mengharap dari ketiadaan.
Aku masih inginkan mereka,
yang aku tahu kini menjadi jauh,
dengan perasaan yang tidak menentu menjadi semakin jauh,
dengan hal-hal yang tidak ingin diucap membuat jauh berubah menjadi lelah.
Suatu ketika hal ini hanyalah pengulangan.
Dan kini aku tahu kapankah suatu ketika itu,
sudah aku rasa, sudah ada dalam waktu sebelum ini, kini, dan berikutnya,
yang aku belum tahu sampai kapan akan seperti ini.
Mungkin lelah terlanjur singgah,
menggerogoti hati yang ingin lebih sering bersua,
saat sama-sama lelah akhirnya semua tertahan,
dekat tapi terpisah,
atau jangan-jangan hanya sisiku yang mengira ini semua mudah?
Yang dulu-dulu, rasa tidak terkatakan itu memang akhirnya juga musnah,
tetapi yang perlu kau tahu bukan hanya yang tidak enak, yang nyaman pun turut menjadi biasa pada akhirnya.
Aku hanya sedang butuh pertanyaan: di mana kamu sekarang?
Share:

0 comments: