Friday, April 26, 2013

Keinginan (Mau)


Banyak sekali keinginanku, termasuk memilikimu, termasuk lepas dari jerat sirathal mustaqim. Akan ada banyak dosa jika aku menginginkan cinta di saat aku belum bisa mencintai fitrahku sendiri. Sedangkan saat waktu belum datang, kau sudah tiba duluan. Hati yang tidak tahu di mana bagian jiwa yang lain, atau mungkin juga itu kamu, siapa yang menduga? Sedangkan aku sepenuhnya sadar bahwa masih terus dicucuri kasih, bagaimana mungkin bisa membaginya denganmu? Padahal aku tahu hatiku masih saja mau kamu. Semua terasa benar padahal aku juga belum pelajari yang haq dan yang bathil dengan seksama dari Al-Karim. Sejujurnya, tidak sejengkal kaki pun aku juga ingin jauh dari Ar-Rahman-Ar-Rahim. Tetapi berada di antara ini, beberapa kali aku harus siap memutuskan. Menjadi maumu pada akhirnya aku juga harus menjadi baik. Menjadi baik apakah selalu berarti memuliakanmu, menjauhkanmu dari mauku, mengambil jarak pada keinginanku? Sedangkan aku begitu khawatir waktu itu tidak akan tiba dan kamu dan aku yang ada pada saat ini adalah kesempatan terbaik yang pernah ada. 
Sementara itu, Yang Khaliq tak hentinya memintaku untuk menatap-Nya, menggodaku untuk singgah di peraduan-Nya, menetapkan hati pada harapan-harapan yang lebih menjanjikan daripada keraguan dan ketakutan akan masa yang tidak bisa ditebak akan kamu dan aku. Aku yang bingung harus memenuhi panggilan-Nya dan membiarkanmu menjadi mau-mau yang lain. Padahal aku tidak harus mengikatmu. Bahkan tanganku belum genap untuk menggenggam ucapan-ucapanku. Padahal aku tahu kamu dekat juga dengan Tuhan-Mu. Bahwa kamu mungkin juga bisa berhenti memupuk ketakutan akan waktu-waktu di depanmu. Bukankah kita berdoa pada keagungan yang sama? Mungkinkah Dia jawab dua pertanyaan dan permintaan dalam satu keberuntungan, kenyataan, dan takdir yang sama? Dia Maha Tahu, kamu punya mau, dan masih (boleh) aku mau kamu.


"Mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai dan menemukan percikan Tuhan di dalam dirinya," Paulo Ceolho.

Dan saat itu aku dan kamu tidak harus saling mau. Hanya akan kita temukan Tuhan yang tidak pernah membuat kita untuk saling menduakan, antara aku dan Dia (bagi kamu) atau pun antara kamu dan Dia (bagiku). Yang ada adalah kita dalam deru napas-Nya.
Share:

0 comments: