Beberapa hal tidak dapat diubah sama sekali.
Perkataan yang terucap,
Sakit yang membuat hati retak,
Dan waktu yang menciptakan kenangan-kenangan.
Hati, sekali terluka, semua tak kan pernah terasa sama.
Seperti gelas kaca yang pecah,
Atau cermin yang jatuh berkeping-keping,
Kau mungkin menyambung dan merangkainya kembali menjadi bentuk asalnya,
Meski dapat menampung air, gelasnya tak akan bening,
Meski mampu menciptakan refleksi, ia tak akan pernah memperlihatkan bayangan yang sempurna.
Kata-kata yang menyudutkan, prasangka, dan ego untuk mempertahankan diri,
Adalah ruang-ruang yang mengisi di antara kepingan-kepingan itu.
Untuk setiap sudut kehidupan,
Terkadang melepas dan mencoba tak memikirkan apa pun akan lebih baik.
Membuat diri menerima bahwa hidup tidak sempurna,
Tidak setiap kekeliruan bisa dikoreksi.
Tidak setiap hubungan bisa dipertahankan dan diperbaiki,
Tidak setiap kata maaf bisa dimaknai dari dua sisi,
Tidak setiap ketulusan diterima,
Tidak setiap usaha dihargai.
Bosmu mungkin rese,
Rekan kerjamu mungkin penjilat,
Teman-temanmu mungkin hanya suka diajak senang-senang,
Tetanggamu mungkin ahli gosip,
Keluargamu mungkin terlalu bersemangat dan berharap lebih pada kemampuanmu,
Kehidupan memang tidak menjanjikan apa-apa kecuali kematian.
Tapi kau harus bertahan.
Jangan jadi korban.
Ajari dirimu untuk memilih siapa yang berhak kau jaga dalam-dalam di hatimu,
Diam-diam saja karena di luar banyak serigala yang pandai mengendus kecemburuan.
Belajarlah hidup baik-baik saja dengan luka.
Orang lain lebih suka menilai dari pada peduli.
Seni kehidupan adalah membuat diri berdamai dengan kekacauan.
Dan ingat, keluarga adalah sebaik-baiknya pertalian,
Dengan Tuhan sebagai sebaik-baiknya sandaran.




