Tuesday, October 1, 2013

Punggungmu dan Aku

ec.europa.eu

Dari jauh aku berusaha melihatmu walaupun aku tahu itu hanya punggungmu yang membelakangiku. Mataku yakin bahwa sesosok hitam itu perlahan berubah menjadi setitik kecil yang lambat laun pasti menghilang ditelan horizon. Kamu dan aku sedang tidak berjalan menuju masa lalu. Hanya cara yang berbeda membuat kita mengambil haluan yang tidak sama. Namun, seberbeda apapun, bukankah kita masih berpijak di bumi?
Mungkin kau tidak sedang menengadah pada cahaya rembulan tetapi terbakar terik. 
Bahagianya aku, kita juga masih berdoa pada Tuhan yang sama. Tuhan mungkin geli membaca kertas doaku yang penuh namamu. Padahal kau sendiri jarang mengirim surat pada Tuhan mengadukan sikapku. Ya, Tuhan juga tahu karena dia menciptakan punggungmu tidak bisa melihat. Jika pun kau mau mengadu tentangku kau pasti lebih dulu membalikkan punggungmu dan mendapatiku sedang tersenyum. Punggungmu masih saja tidak pernah protes aku nikmati yang suatu saat akan habis masanya karena haluanmu sudah terlampau jauh.
Share:

0 comments: