Wednesday, June 19, 2013

Untuk Sebuah Jatuh

Pernah kau merasa perlu berlari? Saat ini menjadi bukan hal yang ingin kau lalui dengan biasa karena terlalu menggelikan untuk dirasakan sebongkah hati yang tidak tenang. Ingin begitu saja tiba di masa mendatang dan melihat hasilnya. Bayanganmu nyata atau tidak, yang kau takutkan terjadi atau tidak, harapanmu menjelma atau tidak.


Saat berlari, apakah kau pernah tengok ke belakang? Berupaya mengambil kembali bekal yang tertinggal atau membiarkannya berlalu begitu saja. Ada beberapa yang penting hingga terpaksa membuatmu kembali dan beberapa yang tidak kau biarkan. Celakanya saat kau berkemas kau menemukan lebih banyak hal yang kau anggap sangat penting yang perlu kau bawa. Padahal kedua tangan dan tasmu sudah penuh. Dan tidak jarang akhirnya kau enggan beranjak. Celaka.
Aku berupaya berlari dengan normal. Melalui setapak demi setapak langkah yang seharusnya tanpa ada skip ke langkah berikutnya. Terkadang melambat melihat bagian-bagian diriku yang dulu tidak bisa ku bawa berlari. Namun, kembali kencang mengingat perubahan berlari lebih cepat, takut tidak ada yang bisa aku tangkap. Ketika ketakutan dan harapan akan hal yang tidak ku ketahui membuatku berpikir, perlukah aku berlari, tombol skip harusnya ada. Tidak akan aku rasakan sakitnya jatuh atau susahnya berjuang. Yang ada hanya napasku yang sudah kembali teratur dan tenang.
Namun, ke mana lagi harus berlari jika kau sudah jatuh pada sebuah cinta? Membawanya lari bersamamu? Jika mungkin? Jika ia berlari lebih cepat? Jika ia telah jatuh lebih dalam dan tidak bisa berlari? Apa yang bisa hentakan kaki beri untuk sebuah jatuh yang tidak biasa?

~NR~
Share:

0 comments: