Pernah kau merasa
perlu berlari? Saat ini menjadi bukan hal yang ingin kau lalui dengan biasa
karena terlalu menggelikan untuk dirasakan sebongkah hati yang tidak tenang.
Ingin begitu saja tiba di masa mendatang dan melihat hasilnya. Bayanganmu nyata
atau tidak, yang kau takutkan terjadi atau tidak, harapanmu menjelma atau
tidak.
Saat berlari, apakah kau pernah tengok ke belakang? Berupaya mengambil kembali bekal yang tertinggal atau membiarkannya berlalu begitu saja. Ada beberapa yang penting hingga terpaksa membuatmu kembali dan beberapa yang tidak kau biarkan. Celakanya saat kau berkemas kau menemukan lebih banyak hal yang kau anggap sangat penting yang perlu kau bawa. Padahal kedua tangan dan tasmu sudah penuh. Dan tidak jarang akhirnya kau enggan beranjak. Celaka.
Saat berlari, apakah kau pernah tengok ke belakang? Berupaya mengambil kembali bekal yang tertinggal atau membiarkannya berlalu begitu saja. Ada beberapa yang penting hingga terpaksa membuatmu kembali dan beberapa yang tidak kau biarkan. Celakanya saat kau berkemas kau menemukan lebih banyak hal yang kau anggap sangat penting yang perlu kau bawa. Padahal kedua tangan dan tasmu sudah penuh. Dan tidak jarang akhirnya kau enggan beranjak. Celaka.
Aku berupaya berlari
dengan normal. Melalui setapak demi setapak langkah yang seharusnya tanpa ada skip ke langkah berikutnya. Terkadang
melambat melihat bagian-bagian diriku yang dulu tidak bisa ku bawa berlari.
Namun, kembali kencang mengingat perubahan berlari lebih cepat, takut tidak ada
yang bisa aku tangkap. Ketika ketakutan dan harapan akan hal yang tidak ku
ketahui membuatku berpikir, perlukah aku berlari, tombol skip harusnya ada. Tidak akan aku rasakan sakitnya jatuh atau
susahnya berjuang. Yang ada hanya napasku yang sudah kembali teratur dan
tenang.
Namun, ke mana lagi
harus berlari jika kau sudah jatuh pada sebuah cinta? Membawanya lari
bersamamu? Jika mungkin? Jika ia berlari lebih cepat? Jika ia telah jatuh lebih
dalam dan tidak bisa berlari? Apa yang bisa hentakan kaki beri untuk sebuah
jatuh yang tidak biasa?
~NR~




0 comments:
Post a Comment