Saturday, May 17, 2014

Aku, Kau, Mereka, Kita dalam Beberapa Alasan Tak terkatakan


"Kamu hanya lelah."
"Lelah untuk apa?"
"Kau bahkan tidak sadar."
"Jangan menilai tanpa tahu persoalan ini tentang apa."
"Kau kira bukan teman-temanmu?"
Aku menoleh padanya dengan perasaan tertikam.
"Aku juga temanmu. Aku tahu bagaimana perasaanmu yang tengah bermain-main dengan kerinduan dan harapan-harapan tanpa tanggung jawab yang membingungkan dan melukaimu."
"Kau bisa apa? Maksudku, apakah kau merasa ini baik dan sehat?"
"Belum tentu aku bisa apa-apa. Yang jelas semua kini benar terasa berubah, kita semua rindu tetapi tidak mau saling mengadu. Mengaku."

"Lalu, semua akan berakhir begini saja?"
"Entahlah.. Mengapa tak kau coba memulai?"
"Aku telah mencoba menunjukkan celahku. Namun, kau tahu seperti biasa, lebih banyak tidak peka dan lagi-lagi kami tenggelam dalam kebercandaan. Hanya merekalah yang seharusnya tahu seberapa lemah dan butuhnya aku."
"Baiklah. Memang sudah seharusnya ada yang memulai lebih dahulu. Jika itu maumu atau mau kalian, mungkin aku hanya bisa menunggu dan menemani kalian saling tertawa atau bersedih jika kau maupun kalian butuh."
Dia mungkin tersenyum sambil mengatakan itu. Aku kini yang justru lebih getir. Rasanya seperti berjalan sendirian dalam kegelapan malam. Kau sendirian tetapi kau tahu kau tidak sendirian. Mereka ada melihatmu dari kejauhan, mungkin sedang tertawa atau mungkin siap-siap berlari merengkuh lenganmu tetapi itu semua tidak mereka lakukan. Entah mengapa, atau hanya inikah ketika kita harus menapak dalam kaki-kaki dewasa? Walaupun aku selalu tahu aku tidak akan pernah sendirian...
Tunggu sebentar, sepertinya dulu tak serumit ini. Bukankah kita tidak pernah tumbuh dewasa jika bersama? Bagaimana melupakan tawa-tawa renyah tanpa perasaan berdosa setiap salah satu kita tergelincir karena kebodohan? Bagaimana kini menjadi begitu mudah tertawa dan begitu mudah surut renyahnya?
"Kau tahu, aku ingin tidak hanya kau yang menyadari hal itu. Aku begitu merindukan kita yang dulu entah dengan aku yang masih sama atau telah berubah dari aku yang biasanya."
Bagiku mudah dalam menciptakan puzzle cerita dan memberikan clue untuk merangkainya tetapi merasakan puzzle itu tidak segera dirangkai menjadi sangat sulit bagiku. Setiap orang memiliki perekat untuk merangkainya. Dalam setiap aksara miring yang tertuang adalah perkataan-perkataan yang hati-hati aku simpan. Tidak semua kemudian dapat aku jelaskan karena aku tahu kini bukan lagi penjelasan yang dibutuhkan. Menjadi orang lainkah aku?
Seperti itu aku takut akan jawaban dan seperti itu pula pada akhirnya aku tenggelam sendirian.
"Menurutmu apakah aku bisa bertahan? Aku terlanjur lepas dan lari untuk beberapa alasan."
Dia terdiam. Aku menebak kau mungkin menebak aku sudah pasti lari. Aku menduga kau menduga aku sungguh kebingungan. Kini aku melihat bahwa kau mungkin tahu tapi menunggu. Seperti Tuhan saja kau, hahaha.. Hanya saja mungkin kita tidak punya waktu seperti-Nya.
Share:

0 comments: