Sunday, May 5, 2013

Mimpi dan Nurani


"Kamu pernah mengubur mimpi?"
"Aku mengalaminya."
"Bagaimana rasanya?"
"Kamu telah merasakannya."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Karena kamu tidak akan bertanya akan sesuatu yang sama sekali tidak kamu ketahui."


Aku masih terdiam. Untuk beberapa saat merasakan hempasan udara yang aku hirup menusuk-nusuk tenggorokanku. Aku membutuhkannya tetapi sekarang udara begitu menyakitkan bagi kita. Tidak seperti beberapa hari yang lalu. Beberapa saat yang lalu saat kita sama sekali lupa akan mimpi kita dan sibuk membicarakan orang lain, mimpi-mimpi orang lain, dan akhirnya juga berujung pada mimpi kita kembali. Haruskah kita kembali?

"Apakah menurutmu aku tidak mampu?"
"Mampu untuk apa?"
"Menjadi mereka yang aku ingin."
"Kau hanya ingin, bukan bercita-cita."
"Apa bedanya? Itu bukan jawaban atas pertanyaanku."
"Apakah pertanyaan harus dijawab dengan penjelasan yang memuaskan?"
"Aku masih saja berpikir untuk bisa menjadi mereka."
"Dirimu adalah kamu yang kamu bukan mereka. Dirimu tidak hanya kamu yang kau ingin tetapi juga yang orang lain ekspektasikan akan kamu."
"Orang lain yang mau aku untuk jadi apa?"

"Tidak selalu. Bukan hanya kamu yang berhak untuk menjadi apa maumu dan bahagia karenanya. Orang-orang di sekitarmu juga berhak untuk bahagia karenamu, karena usahamu."

Dan lalu lalang mimpi-mimpi itu menguap di angkasa. Berpandangan kita melepasnya untuk mengambang bebas. Mungkin mimpi-mimpi itu bukan milik kita yang hanya diijinkan untuk melintas selayang pandang dalam pikiran kita. Yang sekedar diminta untuk dicoba-coba oleh kita yang penasaran. Apakah mimpi dapat selalu dibenarkan?

"Aku harus merelakannya menjadi milik orang lain."
"Sudah sejauh itu kamu berpikir?"
"Sejujurnya aku masih saja menyesal tidak dapat memeliharanyanya."
"Apakah kamu yakin jika kamu sendiri yang memelihara batinmu akan terpuaskan dan nuranimu akan membenarkan?"
"Demikian aku juga tahu bahwa nurani tidak dapat membenarkan apapun. Bahwa semuanya mutlak antara benar dan salah, baik dan buruk, boleh dan tidak."
"Dia memang hal terjujur di dunia."

Sesaat kemudian aku hanya tertunduk dalam kepungan keinginan-keinginanku. Ini tidak mudah menyadari bahwa mimpi tidak dapat selalu dibenarkan dan kamu masih menginginkannya.

"Aku masih ingin."

Sedetik, dua detik, dan entah berapa detik kemudian aku masih memakukan pandangan pada mereka. Kamu tidak merespon. Tidak seteguk suara pun mampu ditelan oleh telingaku. Dan aku hanya menangis. Mungkin dalam hati saja.

"Aku sangat tahu rasanya ingin. Tetapi belajarlah untuk ikhlas."
Sedetik, dua detik, dan entah berapa detik kemudian kamu masih meyakinkan dirimu. Bahwa kamu sebenarnya juga belum bisa menyusun kenyataan dan keharusan dalam bingkai logika. Antara nurani dan ingin yang menjadi penyokong batin manusia. 

Dan semuanya kita yang menentukan. Memiliah-milah yang benar dan salah, baik dan buruk, boleh dan tidak dalam kotak-kotak logika yang jauh dari pembenaran. Membuat apa yang memaksa kita ingin menjadi sebijak nurani. Tidak ada pembenaran untuk kekeliruan karena sedikit pembenaran akan menimbulkan keirian pada kekeliruan yang lain. Membuatnya seakan menjadi perlu untuk terus melakukan pembenaran menyesatkan.

"Kita akan selalu ingin."
Aku ingin kamu mengakui.
"Hingga nanti kita dapat ikhlas dan menemukan ingin itu dalam bentuk lain." 
Kamu masih juga ingin.
Share:

0 comments: