Thursday, April 10, 2014

Di Mana Aku Sekarang


Dan pertanyaan berikutnya yang kuharapkan adalah,
Di mana kamu sekarang? Diamlah di tempat dan jangan lakukan apapun.
Ya Tuhan, setelah beberapa tahun ini aku begitu menikmati kesendirian dan kebersamaan secara bertimbunan,
Akhirnya aku benar-benar merasa bahwa akan selalu ada titik di mana aku akan merasa begitu sepi,
akan selalu ada celah-celah tidak terjangkau yang membuatku ingin datang kembali,
dengan diri ini yang tidak berhenti memaksa pendirian untuk bersyukur,
aku masih tetap begitu.

Pernahkah?


Apakah pernah kau berupaya membuka hatimu?
Dengan pertanyaan yang sama setiap waktu,
apakah semuanya bermakna satu?
Adakah di antaranya rasa penasaran akan aku?
Masihkah aku sama seperti dulu,
ataukah aku sama sekali baru?
Pernahkah kau secara tidak sengaja menggunakan hatimu
dalam salah satu pertanyaan apa-kabarmu?

Wednesday, November 13, 2013

Jika Aku Tahu



Jika aku tahu siapa yang selalu memandangiku di belakangku,
Aku tidak akan memandang punggung orang lain juga.
Jika aku tahu siapa yang diam-diam menanggapi perkataanku pada diriku sendiri,
Aku juga tidak akan sibuk berkeliling mencari orang-orang yang mungkin peduli masalahku.

Tuesday, October 1, 2013

Punggungmu dan Aku

ec.europa.eu

Dari jauh aku berusaha melihatmu walaupun aku tahu itu hanya punggungmu yang membelakangiku. Mataku yakin bahwa sesosok hitam itu perlahan berubah menjadi setitik kecil yang lambat laun pasti menghilang ditelan horizon. Kamu dan aku sedang tidak berjalan menuju masa lalu. Hanya cara yang berbeda membuat kita mengambil haluan yang tidak sama. Namun, seberbeda apapun, bukankah kita masih berpijak di bumi?

Tuesday, August 27, 2013

Kapan Kita Ba(l)ikan?

Apakah aku menohokmu?
Dalam ke relung hatimu?
Bukan urusanku lagi kini
Ketahuilah, mungkin kita masih di tempat yang sama
tetapi hanya ingat, waktu yang berjalan membuat kita berbeda
Entah kita berjalan saling menjangkau jauh
atau justru kita berkejar-kejaran tanpa kita tahu punggung siapa yang ada di depan
Sayang, kapan kita ba(l)ikan?

Wednesday, June 19, 2013

Siapa yang Tahu

Siapa yang tahu hati ini sudah terkena penyakit?
Saat begitu ingin merindu padahal tidak ada yang bisa diajak beradu pilu. Bahkan hati memiliki siapa, memilih siapa juga entah. Setiap pasang mata yang menyelinap masuk memperlihatkan isyarat-isyarat pembeda, jika bukan pesaing maka pencinta. Tidak ada satu pun yang terabaikan. Padahal juga tidak benar bahwa abu-abu tidak diciptakan. Dan lalu, apakah semua bisa benar jika bukan rival maka akan selalu kawan, yang menemani hati ini?
www.ladieshealingboutique.com
Siapa yang tahu hati ini sudah terkena penyakit?

Untuk Sebuah Jatuh

Pernah kau merasa perlu berlari? Saat ini menjadi bukan hal yang ingin kau lalui dengan biasa karena terlalu menggelikan untuk dirasakan sebongkah hati yang tidak tenang. Ingin begitu saja tiba di masa mendatang dan melihat hasilnya. Bayanganmu nyata atau tidak, yang kau takutkan terjadi atau tidak, harapanmu menjelma atau tidak.


Saat berlari, apakah kau pernah tengok ke belakang? Berupaya mengambil kembali bekal yang tertinggal atau membiarkannya berlalu begitu saja. Ada beberapa yang penting hingga terpaksa membuatmu kembali dan beberapa yang tidak kau biarkan. Celakanya saat kau berkemas kau menemukan lebih banyak hal yang kau anggap sangat penting yang perlu kau bawa. Padahal kedua tangan dan tasmu sudah penuh. Dan tidak jarang akhirnya kau enggan beranjak. Celaka.

Sunday, May 5, 2013

Mimpi dan Nurani


"Kamu pernah mengubur mimpi?"
"Aku mengalaminya."
"Bagaimana rasanya?"
"Kamu telah merasakannya."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Karena kamu tidak akan bertanya akan sesuatu yang sama sekali tidak kamu ketahui."


Aku masih terdiam. Untuk beberapa saat merasakan hempasan udara yang aku hirup menusuk-nusuk tenggorokanku. Aku membutuhkannya tetapi sekarang udara begitu menyakitkan bagi kita. Tidak seperti beberapa hari yang lalu. Beberapa saat yang lalu saat kita sama sekali lupa akan mimpi kita dan sibuk membicarakan orang lain, mimpi-mimpi orang lain, dan akhirnya juga berujung pada mimpi kita kembali. Haruskah kita kembali?

"Apakah menurutmu aku tidak mampu?"
"Mampu untuk apa?"
"Menjadi mereka yang aku ingin."
"Kau hanya ingin, bukan bercita-cita."
"Apa bedanya? Itu bukan jawaban atas pertanyaanku."
"Apakah pertanyaan harus dijawab dengan penjelasan yang memuaskan?"
"Aku masih saja berpikir untuk bisa menjadi mereka."
"Dirimu adalah kamu yang kamu bukan mereka. Dirimu tidak hanya kamu yang kau ingin tetapi juga yang orang lain ekspektasikan akan kamu."
"Orang lain yang mau aku untuk jadi apa?"

"Tidak selalu. Bukan hanya kamu yang berhak untuk menjadi apa maumu dan bahagia karenanya. Orang-orang di sekitarmu juga berhak untuk bahagia karenamu, karena usahamu."

Pulang

Aku hanya ingin pulang pada tempat yang aku tidak pernah merasa asing. Aroma yang membuat tubuhku betah untuk tinggal. Kursi-kursi tua yang dengan mudah membuat tertidur dalam beberapa detik.
Dan kini aku berada jauh darinya. Apakah pulang juga harus selalu ke rumah? Bagaimana jika pada seseorang? Seseorang yang tidak akan pernah membuatmu merasa asing bersamanya. Dia yang kamu kenal sebagaimana ia biasanya memperlakukanmu. Itu membuatmu merindukannya saat waktu mengajakmu pulang.

Friday, April 26, 2013

Keinginan (Mau)


Banyak sekali keinginanku, termasuk memilikimu, termasuk lepas dari jerat sirathal mustaqim. Akan ada banyak dosa jika aku menginginkan cinta di saat aku belum bisa mencintai fitrahku sendiri. Sedangkan saat waktu belum datang, kau sudah tiba duluan. Hati yang tidak tahu di mana bagian jiwa yang lain, atau mungkin juga itu kamu, siapa yang menduga? Sedangkan aku sepenuhnya sadar bahwa masih terus dicucuri kasih, bagaimana mungkin bisa membaginya denganmu? Padahal aku tahu hatiku masih saja mau kamu. Semua terasa benar padahal aku juga belum pelajari yang haq dan yang bathil dengan seksama dari Al-Karim. Sejujurnya, tidak sejengkal kaki pun aku juga ingin jauh dari Ar-Rahman-Ar-Rahim. Tetapi berada di antara ini, beberapa kali aku harus siap memutuskan. Menjadi maumu pada akhirnya aku juga harus menjadi baik. Menjadi baik apakah selalu berarti memuliakanmu, menjauhkanmu dari mauku, mengambil jarak pada keinginanku? Sedangkan aku begitu khawatir waktu itu tidak akan tiba dan kamu dan aku yang ada pada saat ini adalah kesempatan terbaik yang pernah ada. 
Sementara itu, Yang Khaliq tak hentinya memintaku untuk menatap-Nya, menggodaku untuk singgah di peraduan-Nya, menetapkan hati pada harapan-harapan yang lebih menjanjikan daripada keraguan dan ketakutan akan masa yang tidak bisa ditebak akan kamu dan aku. Aku yang bingung harus memenuhi panggilan-Nya dan membiarkanmu menjadi mau-mau yang lain. Padahal aku tidak harus mengikatmu. Bahkan tanganku belum genap untuk menggenggam ucapan-ucapanku. Padahal aku tahu kamu dekat juga dengan Tuhan-Mu. Bahwa kamu mungkin juga bisa berhenti memupuk ketakutan akan waktu-waktu di depanmu. Bukankah kita berdoa pada keagungan yang sama? Mungkinkah Dia jawab dua pertanyaan dan permintaan dalam satu keberuntungan, kenyataan, dan takdir yang sama? Dia Maha Tahu, kamu punya mau, dan masih (boleh) aku mau kamu.


"Mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai dan menemukan percikan Tuhan di dalam dirinya," Paulo Ceolho.

Dan saat itu aku dan kamu tidak harus saling mau. Hanya akan kita temukan Tuhan yang tidak pernah membuat kita untuk saling menduakan, antara aku dan Dia (bagi kamu) atau pun antara kamu dan Dia (bagiku). Yang ada adalah kita dalam deru napas-Nya.

Sunday, April 14, 2013

Untuk Logika


Hingga suatu saat aku kelelahan sendiri dalam mencari arti, mendefinisikan diri, dan menguak misteri untuk hak-hak hakiki. Padahal yang disebut hakiki apa dan bagaimana aku juga tidak tahu. Adakalanya hidup ini harus terus berjalan mencari penjelasan. Adakalanya penjelasan tidak dibutuhkan untuk orang-orang yang puas dengan ketidaktahuan. Suatu saat aku akan terdiam dan membiarkan logikaku memberontaki semua. Bahwa adakalanya mereka semua juga harus diam dengan pertanyaan-pertanyaannya yang menuntut segala sesuatunya menjadi rasional. Tidak pernahkah yang tidak masuk akal menjadi benar di mata logika? Sedang yang ditentang adalah udara yang dihirup, udara yang tertiup, dan udara yang hidup. Walaupun tidak terlihat, itu memang ada! Semua ini bukan untuk terdiam dan putus asa pada ketidakpuasaan. Namun, memberi waktu pada semua, logika yang tengil untuk mencerna untuk apa dirinya ada dalam hal-hal di luar akal, tidak masuk sebab-akibat. Logika hanya butuh penerimaan.

Kemarau dan Hujan


Rasa rinduku seperti kemarau yang menginginkan hujan. Tak akan sepetak kemarau pun mampu memilikinya kecuali dengan syarat yang berat. Leburnya udara kering yang menjelma menjadi tetesan air.
Rasa rinduku seperti kemarau yang butuh hujan. Akan berakhir membahagiakan jika hujan datang tepat waktu. Namun, akan membuat kerinduan semakin lekat ketika hujan tak mau datang.
Rasa rinduku seperti kemarau yang membayangkan hujan. Menyejukkan retakan tanah dan menyesaki udara kering di antaranya dengan kesegaran. Memenuhi diriku akan semua tentang kamu yang bahkan membuatku terkadang lupa aku hanya sedang bersama haiku yang merindukanmu.
Rasa rinduku seperti kemarau yang melukai ketulusan hujan. Membakar setiap benda dengan beringas saat hujan terlampau lama tak mau singgah. Menjadi liar saat hujan tidak hirau untuk sekedar menyapa. Menghilang begitu saja tanpa perasaan bersalah saat kau mulai memadamkan kemarahanku dengan airmu.
Rasa rinduku yang seperti kemarau tidak akan menyatu dengan hujan. Karena kemarau dan hujan akan saling membunuh. Kemarau dan hujan tidak dapat hadir bersamaan. Kemarau dan hujan tidak dapat pernah bertemu di tanah yang subur atau kering sekaligus. Kemarau dan hujan ada tetapi tidak untuk menjaga sepetak tanah berdua. Kemarau dan hujan kodratnya memang berbeda. Kemarau dan hujan tidak menyatu untuk mengkompromi bumi dan waktu. 
Aku hanya merindukanmu. Dengan cara kemarau pada hujan, mungkinkah hati bertemu?

Tuesday, April 2, 2013

Kepada Kakak

Kakak, bahwa sebenarnya aku ingin berbicara dengan hatiku. Mendamaikannya dengan kebodohan yang mungkin aku lakukan jika tidak aku katakan sekarang.
Kakak, bahwa sebenarnya adikmu belum mampu menahan mata untuk tetap terbuka hingga larut malam. Silau karena layar laptop yang menyerang mata tanpa ampun dengan hitam putihnya.
Kakak, bahwa sebenarnya aku masih ingin ibu menyisiri rambutku setiap pagi. Membuatku siap dalam situasi apapun untuk menghadapi hari, bukan kini bangun yang terburu-buru karena tidur melampaui dini hari.
Kakak, bahwa sebenarnya aku tidak pernah menyangka akan butuh untuk mengatakan ini. Tidak selamanya hati mampu tidak peduli.
Kakak, bahwa sebenarnya yang tidak peduli adalah aku yang mengabaikan waktu. Berjalan santai tanpa beban meninggalkan dirimu dan ibu untuk orang-orang baru.
Kakak, bahwa sebenarnya tidak ada yang pantas untuk dipertahankan kecuali keikhlasan. Dalam keharubiruan semuanya bukan milik kita.
Kakak, bahwa sebenarnya rindu itu perlahan membunuh rasa bahagiaku. Menyembul begitu saja tanpa memberikanku kesempatan untuk menikmati senja sepiku.
Kakak, bahwa sebenarnya aku akan terus menjadi adikmu. Dewasa dalam waktu yang entah kapan karena akan selalu ada engkau, kakakku.
Kakak, bahwa sebenarnya aku inginkan kamu seperti inginku disuapi ibu. Ke manakah aku harus mengguru?
Kakak, bahwa sebenarnya aku tidak tahu bolehkah mengharap kekosongan. Meniup-niup seruling tanpa lubang dan berharap harmoni nada dalam setiap tempaan.
Kakak, bahwa sebenarnya menunggumu menjawab hanya akan menjadi sebuah penantian. Dalam jarak antara kekanakan dan kedewasaan.

Karena kita tidak akan pernah kembali menjadi kecil-kerdil, Kakak.
Karena waktu akan terus menua, Kakak.
Karena ibu suatu saat akan dijemput, Kakak.
Karena batas hitam-putih lama-lama juga memudar, Kakak.
Karena rindu akan menjadi pertanda adanya hati yang terikat, Kakak.


Untuk Kakak, ada tidaknya engkau bukan menjadi persoalan.

Segenggam Pasir


Apakah salah menelan perasaan yang membuncah dari dalam dada sendirian? Bukankah yang mencipta juga bukan kita? Aku bahkan tidak pernah mengira ini akan ada. Saat aku pikir aku akan selalu sendirian menikmati ini, tidak ada yang berhak mengadu bahwa keegoisanku adalah tidak membaginya. Saat aku tahu ini apa, aku bahkan semakin tahu bahwa anugerah ini lebih dari sekedar jauh. Jauh tak terhingga sampai sudut horizon. Mengapa Tuhan menitipkannya sedangkan kau mungkin tidak pernah merasakannya?
Ini seperti menggenggam pasir kering. Yang rontok seketika saat nafsu berupaya menahannya tetapi akan diam begitu saja di sela-sela jari saat ambisi tidak terlalu berminat mempertahankannya. Bukankah pasir bukan emas yang dapat dipertukarkan dengan kebahagiaan? Bukankah pasir terlalu tidak berharga untuk diperebutkan? Lalu masih saja salah menyimpannya di dalam lumbung sempit tempat hati merakitnya menjadi batu permata? Tidak ada yang pantas untuk diperdebatkan karena ia hanyalah segenggam pasir.
Bahkan aku tidak tahu bagaimana mungkin seseorang mengenali butiran yang tercecer itu sebagai sepotong hati yang tidak akan membenci kerapuhan yang merongrongnya. Bolehkah memelihara benda usang demi kepuasan? Kepuasan yang bahkan juga tak dapat dimengerti melalui logika mana pun. Apa indahnya mempertahankan yang mati karena gersang tanpa balas? Kau bahkan tidak peduli seberapa banyak butirannya kini tercecer dalam membunuh jauh di antara kamu dan aku. Hingga dalam setiap langkahku akan mengurangi jumlahnya dalam genggamanku. Semakin mendekat aku, semakin membeku pasir (untuk)mu.

Saturday, March 30, 2013

Doa-Doa


Dan apabila rindu itu datang, bolehkah aku menengok apa-apa yang terbayang? Mencicipi sedikit keniscayaan dalam waktu yang tenang. Mungkin kau juga pernah merasakan. Apakah kau menikamnya sendirian? Mampukah menolak malam yang menawarkan jutaan rasa yang tercipta bersama gelombang petang? Mengantarkanmu dalam harapan-harapan yang pernah diinginkan dari sisi lain waktu, yang dulu, itu dulu. Bukankah kita sama-sama pernah memilikinya? Lalu biarkanlah semua mengalir dalam udara malam. Menyatu dengan alam yang membawanya sebagai bisik-bisik angin pada Tuhan. Entah esok pagi suara hati kita akan sampai atau hanya akan menguap bersama hilangnya embun. Yang jelas kau dan aku akan sama-sama tahu bahwa Tuhan pasti melihat udara yang berwarna-warni karena doa-doa. Doa-doa yang hanya terbaca oleh pertanda sampai jumpa.

Thursday, March 21, 2013

ibu


ibu, aku merindukanmu
bahkan jika aku rindu,
apakah dapat rasa ini menyesap ke dalam dadamu?
bahkan jika aku katakan,
apakah dapat gelap ini menjadi terang?
padahal seharusnya aku tahu tak perlu bertanya
ragu rasa yang sama pada dirimu
kau pasti ibu
yang melakukan semua itu terlebih dulu
bukan hanya aku.

sendiri dan benar

semua terasa benar
yang mampu membahagiakanmu saat sedih
tidak peduli bagaimana hal itu dapat saja
membuat yang lain ganti bersedih
asal senang bisa berpindah
semua terasa benar

dan sendirikah?
siapa lagi yang mampu rasa
tuhan terlalu jauh
teman terlalu tak butuh
jika pun bisa
setiap oran tidak mau
menelan kebimbangan dan kesedihan sendirian
tapi saat sendiri,
ini untuk apa?
untuk apa lagi?
berkata-kata tidak mampu mengubah semua
kecurigaan telanjur menodai ketulusan
dan keinginan pupus dari harapan
yang disandar bahkan ingkar
dan masih tetap sendirikah?
tanpa tuhan?

semua ini terasa semakin benar
bahwa semua tidak lebih sebatas sepi dan menyayat
bisa begitu mereka benar-benar hidup?
di antara kepungan kesebatangkaraan?
berjalan dengan menuntun diri sendiri
mencoba merangkak
tidak lagi sanggup jatuh
rapuh dan teguh dalam satu langkah sekaligus.

nenek itu hadir lagi.
tanpa mengenalnya terkadang aku yakin
orang-orang yang sendirian itulah malaikat.
yang menelan keputusasaan sendirian.
hanya berharap keadilan pada tuhan.
masih saja tanpa sandaran.

Sunday, March 17, 2013

mawar ibu

tidak banyak, hanya sejumput
sepadang purnama setengah hati memberi sinar
hanya malam hari, sekali sebulan
seperti itu aku pada ibuku
lalu ibu tetap seperti biasa
menelankanku sarapan,
mencucikanku pakaian,
merapikanku dandanan
aku pikir masih seperti itu.
menjelang senja buta
ibu tidak lagi lakukan itu
hanya aku yang jauh
bukan aku yang butuh
ibu masih ingin merengkuh
membunuh jauh
asal ada aku, ada ibu
dia mawar dan aku sebagian kecil olehnya
yang berasal darinya
durinya,
anggunnya,
kehormatannya,
wanitanya.
aku pernah dalam rahimnya.

Jangan Doakan Aku Jadi Kaya, Nek!


Saat itu hari Rabu pagi di Surabaya, 15 Januari 2012. Langit pagi mendung waktu aku berputar-putar di daerah Gubeng untuk membeli tiket kereta api, pulang kampung. Pukul 10.20 aku jalan dari kosan ke stasiun sendirian. Udara sudah panas, sepatu pink baruku yang sangat unyu itu nampaknya mempersulit jalanku pula. Suasana agak sepi, kecuali terdengar suara mas-mas rombengan yang berteriak-teriak barangkali ada warga yang butuh menjual rongsokan padanya. Sekilas aku senang akan segera bertemu bapak dan ibu di rumah. Namun, tiba-tiba aku berpikir bagaimana seandainya jika ada orang yang memintaiku tolong untuk melakukan sesuatu entah apa yang membuatku tidak bisa mengejar keretaku? Entahlah, aku juga bingung mengapa bisa berpikir demikian. Aku percepat langkahku.
            Stasiun Gubeng begitu ramai. Kursi untuk calon penumpang yang menunggu kereta hampir penuh. Aku memutar pandangan dan menemukan tempat kosong di samping nenek-nenek tua, aku bergegas menghampiri kursi itu. Aku merasa diamati oleh nenek di sampingku. Tiba-tiba dia berujar, “Mau ke mana, Cu?”
“Ke Blitar, Buk,” aku menoleh dan memasang wajah ramah. Tidak tahu mengapa aku tidak memanggilnya nenek tetapi ‘Buk’ padahal dia sudah tua.
“Naik Doho ya?” ya Allah, nenek ini berbicara dengan suara yang gemetaran, setua itukah usianya?
“Oh, saya naik yang Penataran, Buk. Ibuk mau ke mana?” tanyaku penuh simpati.
Aku menangkap seberkas mata air yang membuat mata nenek itu berkaca-kaca, nenek itu terlihat bingung, apalagi aku? Aku yang sangat asing dengan orang ini tiba-tiba disuguhi pemandangan aneh dan dalam situasi yang aneh pula, nenek ini kenapa? Tiba-tiba ia menyodorkan tas kecil yang dipegangnya erat ke arahku, seperti memasrahkan semua yang dimilikinya. Aku tidak berlebihan, gestur nenek itu memang begitu. Dan apakah tidak berbahaya? Bukankah aku ini orang asing baginya?
Nenek itu menunjukkan KTP yang terdapat di dalam tas kresek kecil di dalam tas tadi. Aku terkejut, apakah nenek ini tidak bisa mengenali dirinya sendiri sampai ia butuh untuk menunjukkan KTP-nya demi menjawab pertanyaan “.. Ibuk mau ke mana?”? Allah, aku belum bisa mencerna sampai di sini.
“Ibuk orang Nganjuk ya?” selidikku memastikan. Aku lihat nenek ini kelahiran tahun ’40. Foto KTP-nya masih terlihat muda, sekitar 20 tahun lebih muda dari yang ada di sampingku kini. Aku tidak sempat melihat tanggal-tanggal yang ada di KTP itu.
“Iya, Cu,” jawab nenek itu pendek tetapi sarat akan pengaduan yang tidak sanggup ia ungkapkan dalam untaian kalimat yang jelas.
“Ini tadi habis kontrol dari Soetomo,” dia menjelaskan lebih jauh. Di dalam tasnya aku melihat obat dalam plastik kecil sebanyak kira-kira enam butir putih bulat. Plastik tempat obat itu nampaknya sudah terlalu sering terkena kontak dengan tangan karena sudah tidak transparan lagi.
“Ibuk sendirian? Naik kereta jam berapa?”
Nenek itu hampir menumpahkan air matanya. Dengan bergetar di berkata,”Nenek haus, Cu. Tadi mau beli minum nggak berani, itu uang tinggal dua ribu.”
Aku terhenyak, mengernyitkan kening. Nenek ini ..? Aduh! Jadi dari tadi dia sedang curhat ke aku, satu-satunya orang yang mau duduk mendekat di sampingnya? Ya Allah, malangnya.
“Sebentar ya, Buk. Saya mau ke petugas dulu, Tanya jadwal kereta,” aku hendak meninggalkannya pergi tetapi dia menggamit tanganku dan membuat aku terduduk kembali.
“Untuk apa, Cu?” tanyanya ketakutan. Takut kalau aku akan memanggil security untuk mengusirnya.
“Ndak apa kok, Buk. Saya cuma mau Tanya jadwal Kereta Api Doho, nanti Ibuk saya belikan tiket sekalian,” jawabku menenangkan dengan nada yang sangat pelan dan pengertian.
Nenek itu membiarkanku beranjak. Rasanya aku dan dia sudah saling mengenal saja. Seperti dia sudah merawatku sejak aku kecil dan hidup bersama hingga sekarang. Aku yakin dia telah mempercayaiku dari percakapan kami yang kurang dari lima menit itu. Kini nenek itu seperti melepaskan tongkat tuntunannya berjalan dan menyandarkan tangannya pada pundakku. Pertanyaannya, aku siapa?
“Mas, Kereta Doho sudah berangkat belum?” aku bertanya pada security di peron Gubeng Lama. Stasiun Gubeng yang ada di sebelah barat disebut Gubeng Lama, sedangkan yang timur disebut Gubeng Baru. Aku tadi masuk melalui Gubeng Baru. Entah nenek itu.
“Belum, Mbak, jam 11 nanti masihan. Mau ngapain emangnya?” security bertanya karena nampaknya aneh jika aku bertengger di peronnya.
“Mau beli tiket, Mas,” jawabku polos.
“Ya buruan sana, Mbak. Keburu habis,” jawabnya dengan pandangan setengah menertawakan aku. Apa lucunya?
Sempat aku berpikir untuk memesan dua tiket karena tidak tega membiarkan nenek tersebut naik kereta sendirian. Tetapi aku urungkan niatku, aku sudah mempunyai tiket Kereta Penataran. Aku besarkan hati dan yakinkan diriku bahwa nenek itu akan baik-baik saja tanpa aku. Ya, setidaknya begitu pikirku sekarang. Lantas aku beli tiket dengan tujuan Nganjuk seharga Rp 5.500,00 yang bahkan si nenek tidak mampu membelinya! Aku lega tiket yang kubeli ada nomor tempat duduknya. Aku menghela napas setelah masuk kembali melalui peron. Seperti melepaskan beban yang berat, aku menguatkan hati menyikapi keadaan di depan mataku.
Aku pun kembali menghampiri nenek tua yang tengah menungguku dengan wajah gelisah. Gubeng semakin ramai saja. Tetapi tetap, tidak ada seorang pun yang nampak mau duduk di kursi yang sama dengan nenek itu. Enggan mungkin, atau entahlah. Aku juga heran mengapa nenek tua ini duduk di ujung yang sangat pinggir. Jika saja ada anak yang usil menyenggolnya aku yakin dia akan serta-merta terjatuh. Baru juga aku amati bahwa si nenek memakai sandal butut, pakaian ala kadarnya, dan subhanallah! Nenek ini berjilbab. Aku tidak memperhatikan ini bahkan sejak perbincangan pertama kami. Aku benar-benar takjub.
”Buk, ini saya sudah dapat tiketnya. Sebentar lagi kereta Ibuk akan datang, Ibuk nanti naik Kereta Doho ya?” Aku tak bosan-bosannya memberi instruksi takut kalau-kalau nenek ini punya penyakit pikun.
“Terima kasih banyak ya, Cu. Kamu baik sekali,” nenek itu memegang erat tanganku dan pada akhirnya berhasil menitikkan air mata.
Aku agak kelabakan menghadapi situasi mengharukan ini.
“Sama-sama, Buk. Ibuk haus? Ini saya punya minum,” aku mengeluarkan air minum bekalku yang rutin aku bawa jika bepergian dan menyodorkannya ke arah nenek tersebut. Si nenek nampaknya begitu lemah, membuka tutup botol saja dia kesulitan. Aku tanggap dan membukakan tutup botol itu untuknya, meminumkannya karena kuatir botol tersebut akan jatuh di tangan nenek yang gemetaran. Ia hanya meminum sedikit, tiga teguk mungkin.
“Kamu jangan minum bekas Nenek ya, Cu. Nenek sakit radang,” katanya sambil menunjukkan lehernya, radang tenggorokan aku pikir yang dia maksud.
“Buk, ini tiketnya saya simpan di tas Ibuk ya. Nanti kalau ada petugas yang memeriksa, Ibuk tunjukkan tiket ini,” pesanku hati-hati. Ibu itu menatapku seakan-akan aku ini anaknya yang telah lama merantau dan baru pulang ke peraduan. Ibuk, mengapa menangis lagi? Tanyaku dalam hati.
“Ini saya ada sedikit uang untuk Ibuk. Ibuk simpan ya, nanti kalau Ibuk butuh apa-apa bisa Ibuk gunakan,” aku menyelipkan beberapa puluh ribu uang terakhirku ke dalam tas kresek milik si nenek. Si nenek semakin santer menumpahkan air matanya. Berulang kali dia mengucapkan terima kasih padaku. Aku sampai tidak bisa menghitung sudah berapa kali ia ucapkan itu untuk kemurahan hatiku. Setelah tenang si nenek bercerita tentang kehidupannya.
“Nenek sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Cu,” dia terisak. Aku menunduk memandangi kuku-kuku jariku yang panjang belum aku potong. Sangat tidak rapi.
“Anak-anak Nenek sudah tidak mempedulikan Nenek lagi, Cu,” air matanya semakin deras tetapi aku dapat menangkap setiap kata yang ia rangkai dengan jelas. Sebenarnya sudah aku duga semalang inilah hidupnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tidak lebih berpengalaman tentang asam manisnya garam hidup daripada nenek 72 tahun ini. Bahkan ketika aku akan mengucapkan sepatah kata,”Sabar..” untuk sekedar menghiburnya pun dia langsung menepis ke penderitaannya yang berikutnya.
“Nenek punya adik satu, itu pun kalau ketemu sudah gak pernah ngajak ngomong Nenek lagi,” pungkasnya.
Aku terdiam, sangat bingung harus berbuat dan berkata apa. Apa yang mungkin orang lain pikirkan untuk sekedar lari dari keadaan ini? Aku benar-benar canggung, rasanya ingin lari tetapi tidak tega. Tidak mungkin! Momen yang sungguh membuatku berpikir sejuta kali untuk tega membentak-bentak ibuku lagi jika kami sedang bertengkar. Aku ingat ibuku. Beliau sering sekali aku bentak karena aku kesal sering bertanya ini-itu berulang-ulang padahal aku sedang sibuk. Sibuk mengedit foto, bermain-main di jejasos, atau ketika aku asyik mendengarkan musik. Pikiranku melayang-layang. Aku menangis tanpa sadar. Air mata ini begitu ringan meluncur. Untuk beberapa detik aku hanyut. Saat sadar aku buru-buru mengambil sapu tangan dan menghapus ingatan dan air mataku. Malu jika sampai ada orang melihat aku menangis di tempat umum.
Beberapa orang mungkin mengira aku dan nenek ini adalah anak dan ibu jika saja pakaian kami tidak kontras. Bukan maksud menyombongkan diri, aku berpenampilan stylish ala anak kuliahan sementara nenek ini walau tidak kumal, warna bajunya sudah banyak memudar. Kami saling menduduki jarak intim1 dan itu membuat kami terlihat semakin dekat. Andai saja aku ini Gatotkaca, akan segera aku gendong nenek ini dan kubawa terbang ke tempat tinggalnya di Nganjuk. Mana bisa begitu?
“Buk, mau ke mana?” tanya seorang wanita di depan kami.
“Ibuk ini mau ke Kertosono, Mbak. Mbak mau ke mana?” jawabku setengah gelagapan.
“Wo, saya juga mau ke sana Buk,” wanita yang kutaksir berusia 25-an itu menjawab dengan raut wajah yang tersenyum manis ke arah nenek.
“Kalau begitu saya titip ibu ini ya, Mbak?” pintaku dengan nada memohon. Aku percaya bahwa wanita tersebut perempuan baik-baik. Terlihat dari caranya berpakaian yang tidak metropolis dan tidak mencolok. Matanya bening dan bulu matanya lentik. Manis sekali kamu, Mbak.
“Oh iya, ndak papa. Ibuk dapat tempat duduk kan?” tanya wanita tadi memastikan.
Aku meminta tas pada nenek untuk memeriksa karcisnya sekali lagi.
“Dapat kok, Mbak. Ini,” aku memperlihatkan karcis milik nenek ke wanita tadi.
“Gerbong 4 ya? Wah, saya gerbong 1 ini,” katanya lirih. Nampaknya ia agak keberatan jika harus mengawasi dan menemani nenek ini di gerbong 4 sementara jatah tempat duduknya ada di gerbong 1.
Aku pasang wajah melas. Kalau yang ini aku sedikit akting, menjilat demi nenek yang malang tak apalah.
“Ya gak papa deh, nanti bisa kok,” sambung wanita tersebut menyanggupi permintaanku sekali lagi.
“Terima kasih lo, Mbak,” aku tersenyum sumringah.
“Buk, nanti Ibuk sama Mbak ini ya naik keretanya?” aku menggunakan nada tanya sekaligus untuk mengetes apakah nenek ini paham apa yang aku maksudkan.
“Iya, Cu,” jawabnya agak ragu. Mungkin ia takut jika harus aku tinggalkan. Tetapi mau bagaimana lagi, kereta kami berbeda.
Sebenarnya saat perbincanganku dengan wanita bermata lentik tadi berlangsung, si announcer stasiun sudah berceloteh. Tetapi aku tidak bisa menangkap dengan jelas kereta apa lagi yang selanjutnya akan datang. Mungkin Doho, mungkin juga Penataran karena jadwalnya berdekatan. Aku pasang telinga sekali lagi, ternyata Kereta Penataran yang datang dari arah Stasiun Semut. Sebenarnya nama stasiun tersebut bukan Semut begitu tetapi Surabaya Kota. Aku juga tidak tahu mengapa orang-orang gerbong menyebutnya Stasiun Semut dan aku rasa ini bukan poin yang penting di sini.
“Sebentar ya, Buk,” aku tidak menunggu reaksi dari si nenek untuk menanggapiku, aku langsung mendekat ke Jalur KA 1. Aku lihat dari arah utara lampu depan kereta menyapu pandanganku. Itu keretaku.
Aku kembali pada nenek tersebut dan mengucapkan kata perpisahan.
“Buk, itu kereta saya sudah datang. Saya pergi duluan ya, Buk. Ibuk hati-hati, nanti sama Mbak ini ya?” aku berkata setengah terisak. Aku belum menangis, hanya sulit mengatur napas.
“Iya, Cu..” nenek itu menangis lagi untuk kesekian kalinya.
“Saya titip nenek ini ya, Mbak,” pesanku buru-buru pada wanita bermata lentik sebelum air mataku tumpah.
“Iya, Mbak,” dia tersenyum meyakinkan.
Ini untuk kali kedua dalam hidupku aku begitu tersentuh dan menangis saat akan berpisah dengan seseorang di tempat umum. Aku malu pada setiap orang yang mampu menangkap air mataku. Aku menjabat tangan nenek tersebut dan menciumnya. Dia berangsur memelukku dan membisikiku beberapa kalimat yang tulus.
“Cu, terima kasih ya. Saya doakan kamu nanti jadi orang yang kaya. Semoga semua yang kamu lakukan barokah.”
Aku melepaskan pelukannya. Jika saja diijinkan aku lebih memilih untuk didoakan supaya menjadi orang yang bahagia dan sukses kelak atau menjadi mahasiswa teladan segala umat daripada menjadi orang kaya. Jangan doakan aku jadi kaya, Nek! Tetapi mana mungkin me-request doa dalam situasi seperti ini? Bukankah doa yang tumbuh dari hati orang yang mendoakan sendiri akan lebih mujarab dipandang dari segi keikhlasan dan tidak adanya pemaksaan. Dasar manusia, masih sempat-sempatnya aku memikirkan hal-hal ekonomik. Astaghfirullah2, aku serakah nampaknya.
“Hati-hati ya, Nek,” aku rasa sapaan ‘Nek’ pantas untuknya kini. Aku merasa seperti cucu kesayangannya yang ia lepas untuk pergi jauh mengelana.
“Assalamualaikum3, Cu..”
Aku terhenyak. Nenek ini masih mendoakan aku lagi? Ya, setidaknya itulah kalimat terakhir yang dapat aku tangkap. Ia terlihat begitu ringkih dengan tangan dan suara yang gemetaran. Tetapi kalimat terakhir yang aku dengar dari bibirnya membuat hatiku turut bergetar. Aku ingat Tuhanku, Allah. Dan satu hal yang membuat hatiku semakin hangat, membuat mataku semakin basah, kami seiman. Satu pemahaman akan Tuhan yang berarti nenek tersebut dan aku adalah saudara. Terasa begitu dekat tanpa jarak.
Keretaku sudah mendecitkan remnya. Calon-calon penumpang telah berjajar di sepanjang pinggir jalur 1. Aku balas salam si nenek,”Wa’alamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh4.” Aku melepaskan genggaman tangannya dan beranjak. Aku tidak menoleh lagi, sibuk memerangi air mataku yang tidak bisa aku kontrol. Aku sampai lupa untuk meneliti nomor gerbong kereta di mana jatah tempat dudukku berada. Ah, ya sudahlah. Aku bisa bertanya pada orang di dalam nanti. Aku naik ke dalam kereta dengan wajah sembab. Beberapa orang memandangiku heran. Aku tidak peduli dan berjalan cepat mencari tempat dudukku. Berkali-kali aku tata jalannya napasku. Aku berdoa semoga nenek itu bisa sampai di rumahnya dengan selamat. Itupun kalau memang dia punya rumah.
Ya Rabb, betapa beruntungnya aku hidup di dalam serba kecukupan materi dan kasih sayang dari keluargaku. Hidupku masih jauh lebih beruntung daripada nenek malang itu. Padahal aku sering mengeluh pada teman-temanku saat bapak dan ibuku tidak pernah mempedulikan apapun urusanku atau mengedepankan aku, anaknya daripada pekerjaan mereka. Contoh kecilnya ketika mengurusi daftar ulang kuliah hingga mencari tempat kos, aku sama sekali tidak didampingi mereka dengan alasan tidak bisa meninggalkan tugas sebagai guru. Aku katakan pada teman-temanku bahwa aku selalu seperti ini, melakukan apapun sendirian sejak aku kecil. Tidak sama seperti mereka yang selalu atau sering dibuntuti ke mana pun mereka pergi. Betapa malunya aku pada Allah jika keluhanku tidak akan pernah sebanding daripada penderitaan si nenek yang sama sekali sudah tidak mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. Setidaknya walau begitu, bukankah bapak dan ibuku masih mau mambiayai kuliahku? Mengirimiku uang untuk membakar tempat kos yang relatif mahal? Bukankah mereka bekerja dan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya tidak lain hanya karena itulah usaha mereka untuk dapat terus memberiku makan? Allah, maafkanlah aku. Semoga orang-orang yang selalu mengeluh kekurangan dapat dengan jeli melihat ketidakberuntungan-ketidakberuntungan yang tidak pernah terpikirkan dalam kepala mereka. Berbuat baiklah selagi mampu walau hanya sebatas memberi perhatian dan simpati pada orang-orang yang tidak beruntung. Mungkin dengan begitu hati kita dapat belajar untuk senantiasa bersyukur akan nikmat yang tidak pernah kita perhitungkan. Hidup ini indah jika kita dapat mewarnainya dengan berbagi walaupun sedang dalam kesempitan.

Catatan:
1  jarak intim berdasarkan ilmu sosiologi merupakan keterlibatan seseorang dengan tubuh lain pada radius 0-45 cm
2  aku mohon ampunan pada Allah
3  keselamatan bagimu
4 semoga keselamatan dan kesejahteraan menyertaimu juga dan semoga Allah merahmati dan memberkatimu


Tulisan ini dibuat setahun lalu dan berkali-kali dibaca untuk mengingatkan (siapapun) agar teguh hatinya dalam menjalankan kewajiban di tempat yang jauh (dari orang tua). NR

Thursday, February 14, 2013

lagu dari hati

Bahkan hati kami mendendangkan lagu yang sama,
"Laailaahailla anta subhanaka inni kuntu minaddholimiin".

Allah, jika dia dan aku tidak harus bersama jangan biarkan jauhnya kami seperti diamnya dua orang yang tidak bertegur sapa atau bertengkar. Namun, apabila dia dan aku dekat maka jangan biarkan masing-masing dari kami  menjadi dekat yang tidak engkau ridhoi. Yang Maha Membolak-Balikkan Hati, teguhkanlah hatiku jika dia sudah banyak goyah. Hati yang suci hanya untuk hati yang suci dan begitu pula aku berharap untuk diriku. Amin.

*doa di tengah guyuran hujan di hari yang dipesankan dan dijanjikan untuk tidak diperingati oleh seseorang (dia)