Saat itu hari Rabu pagi di Surabaya,
15 Januari 2012. Langit pagi mendung waktu aku berputar-putar di daerah Gubeng
untuk membeli tiket kereta api, pulang kampung. Pukul 10.20 aku jalan dari
kosan ke stasiun sendirian. Udara sudah panas, sepatu pink baruku yang sangat
unyu itu nampaknya mempersulit jalanku pula. Suasana agak sepi, kecuali
terdengar suara mas-mas rombengan yang berteriak-teriak barangkali ada warga
yang butuh menjual rongsokan padanya. Sekilas aku senang akan segera bertemu
bapak dan ibu di rumah. Namun, tiba-tiba aku berpikir bagaimana seandainya jika
ada orang yang memintaiku tolong untuk melakukan sesuatu entah apa yang membuatku
tidak bisa mengejar keretaku? Entahlah, aku juga bingung mengapa bisa berpikir
demikian. Aku percepat langkahku.
Stasiun
Gubeng begitu ramai. Kursi untuk calon penumpang yang menunggu kereta hampir
penuh. Aku memutar pandangan dan menemukan tempat kosong di samping nenek-nenek
tua, aku bergegas menghampiri kursi itu. Aku merasa diamati oleh nenek di
sampingku. Tiba-tiba dia berujar, “Mau ke mana, Cu?”
“Ke Blitar, Buk,” aku menoleh dan
memasang wajah ramah. Tidak tahu mengapa aku tidak memanggilnya nenek tetapi
‘Buk’ padahal dia sudah tua.
“Naik
Doho ya?” ya Allah, nenek ini berbicara dengan suara yang gemetaran, setua
itukah usianya?
“Oh,
saya naik yang Penataran, Buk. Ibuk mau ke mana?” tanyaku penuh simpati.
Aku
menangkap seberkas mata air yang membuat mata nenek itu berkaca-kaca, nenek itu
terlihat bingung, apalagi aku? Aku yang sangat asing dengan orang ini tiba-tiba
disuguhi pemandangan aneh dan dalam situasi yang aneh pula, nenek ini kenapa?
Tiba-tiba ia menyodorkan tas kecil yang dipegangnya erat ke arahku, seperti
memasrahkan semua yang dimilikinya. Aku tidak berlebihan, gestur nenek itu
memang begitu. Dan apakah tidak berbahaya? Bukankah aku ini orang asing
baginya?
Nenek
itu menunjukkan KTP yang terdapat di dalam tas kresek kecil di dalam tas tadi.
Aku terkejut, apakah nenek ini tidak bisa mengenali dirinya sendiri sampai ia
butuh untuk menunjukkan KTP-nya demi menjawab pertanyaan “.. Ibuk mau
ke mana?”? Allah, aku belum bisa mencerna sampai di sini.
“Ibuk
orang Nganjuk ya?” selidikku memastikan. Aku lihat nenek ini kelahiran tahun
’40. Foto KTP-nya masih terlihat muda, sekitar 20 tahun lebih muda dari yang
ada di sampingku kini. Aku tidak sempat melihat tanggal-tanggal yang ada di KTP
itu.
“Iya,
Cu,” jawab nenek itu pendek tetapi sarat akan pengaduan yang tidak sanggup ia
ungkapkan dalam untaian kalimat yang jelas.
“Ini tadi habis kontrol dari
Soetomo,” dia menjelaskan lebih jauh. Di dalam tasnya aku melihat obat dalam
plastik kecil sebanyak kira-kira enam butir putih bulat. Plastik tempat obat itu nampaknya sudah
terlalu sering terkena kontak dengan tangan
karena sudah tidak
transparan lagi.
“Ibuk
sendirian? Naik kereta jam berapa?”
Nenek
itu hampir menumpahkan air matanya. Dengan bergetar di berkata,”Nenek haus, Cu.
Tadi mau beli minum nggak berani, itu uang tinggal dua ribu.”
Aku
terhenyak, mengernyitkan kening. Nenek ini ..? Aduh! Jadi dari tadi dia sedang
curhat ke aku, satu-satunya orang yang mau duduk mendekat di sampingnya? Ya
Allah, malangnya.
“Sebentar
ya, Buk. Saya mau ke petugas dulu, Tanya jadwal kereta,” aku hendak
meninggalkannya pergi tetapi dia menggamit tanganku dan membuat aku terduduk
kembali.
“Untuk
apa, Cu?” tanyanya ketakutan. Takut kalau aku akan memanggil security untuk mengusirnya.
“Ndak
apa kok, Buk. Saya cuma mau Tanya jadwal Kereta Api Doho, nanti Ibuk saya
belikan tiket sekalian,” jawabku menenangkan dengan nada yang sangat pelan dan
pengertian.
Nenek
itu membiarkanku beranjak. Rasanya aku dan dia sudah saling mengenal saja.
Seperti dia sudah merawatku sejak aku kecil dan hidup bersama hingga sekarang. Aku yakin
dia telah mempercayaiku dari percakapan kami yang kurang dari lima menit itu.
Kini nenek itu seperti melepaskan tongkat tuntunannya berjalan dan menyandarkan
tangannya pada pundakku. Pertanyaannya,
aku siapa?
“Mas,
Kereta Doho sudah berangkat belum?” aku bertanya pada security di peron Gubeng Lama. Stasiun Gubeng yang ada di sebelah
barat disebut Gubeng Lama, sedangkan yang timur disebut Gubeng Baru. Aku tadi
masuk melalui Gubeng Baru. Entah nenek itu.
“Belum,
Mbak, jam 11 nanti masihan. Mau ngapain emangnya?” security bertanya karena nampaknya aneh jika aku bertengger di
peronnya.
“Mau beli tiket, Mas,” jawabku
polos.
“Ya
buruan sana, Mbak. Keburu habis,” jawabnya dengan pandangan setengah menertawakan
aku. Apa lucunya?
Sempat
aku berpikir untuk memesan dua tiket karena tidak tega membiarkan nenek
tersebut naik kereta sendirian. Tetapi aku urungkan niatku, aku sudah mempunyai
tiket Kereta Penataran. Aku besarkan hati dan yakinkan diriku bahwa nenek itu
akan baik-baik saja tanpa aku. Ya, setidaknya begitu pikirku sekarang. Lantas aku
beli tiket dengan tujuan Nganjuk seharga Rp 5.500,00 yang bahkan si nenek tidak
mampu membelinya! Aku lega tiket yang kubeli ada nomor tempat duduknya. Aku
menghela napas setelah masuk kembali melalui peron. Seperti melepaskan beban
yang berat, aku menguatkan hati menyikapi keadaan di depan mataku.
Aku
pun kembali menghampiri nenek tua yang tengah menungguku dengan wajah gelisah.
Gubeng semakin ramai saja. Tetapi tetap, tidak ada seorang pun yang nampak mau
duduk di kursi yang sama dengan nenek itu. Enggan mungkin, atau entahlah. Aku
juga heran mengapa nenek tua ini duduk di ujung yang sangat pinggir. Jika saja
ada anak yang usil menyenggolnya aku yakin dia akan serta-merta terjatuh. Baru
juga aku amati bahwa si nenek memakai sandal butut, pakaian ala kadarnya, dan
subhanallah! Nenek ini berjilbab. Aku tidak memperhatikan ini bahkan sejak
perbincangan pertama kami. Aku benar-benar takjub.
”Buk,
ini saya sudah dapat tiketnya. Sebentar lagi kereta Ibuk akan datang, Ibuk
nanti naik Kereta Doho ya?” Aku tak bosan-bosannya memberi instruksi takut
kalau-kalau nenek ini punya penyakit pikun.
“Terima
kasih banyak ya, Cu. Kamu baik sekali,” nenek itu memegang erat tanganku dan
pada akhirnya berhasil menitikkan air mata.
Aku
agak kelabakan menghadapi situasi mengharukan ini.
“Sama-sama,
Buk. Ibuk haus? Ini saya punya minum,” aku mengeluarkan air minum bekalku yang
rutin aku bawa jika bepergian dan menyodorkannya ke arah nenek tersebut. Si
nenek nampaknya begitu lemah, membuka tutup botol saja dia kesulitan. Aku
tanggap dan membukakan tutup botol itu untuknya, meminumkannya karena kuatir
botol tersebut akan jatuh di tangan nenek yang gemetaran. Ia hanya meminum
sedikit, tiga teguk mungkin.
“Kamu
jangan minum bekas Nenek ya, Cu. Nenek sakit radang,” katanya sambil
menunjukkan lehernya, radang tenggorokan aku pikir yang dia maksud.
“Buk,
ini tiketnya saya simpan di tas Ibuk ya. Nanti kalau ada petugas yang
memeriksa, Ibuk tunjukkan tiket ini,” pesanku hati-hati. Ibu itu menatapku
seakan-akan aku ini anaknya yang telah lama merantau dan baru pulang ke
peraduan. Ibuk, mengapa menangis lagi? Tanyaku dalam hati.
“Ini
saya ada sedikit uang untuk Ibuk. Ibuk simpan ya, nanti kalau Ibuk butuh
apa-apa bisa Ibuk gunakan,” aku menyelipkan beberapa puluh ribu uang terakhirku
ke dalam tas kresek milik si nenek. Si nenek semakin santer menumpahkan air
matanya. Berulang kali dia mengucapkan terima kasih padaku. Aku sampai tidak
bisa menghitung sudah berapa kali ia ucapkan itu untuk kemurahan hatiku.
Setelah tenang si nenek bercerita tentang kehidupannya.
“Nenek
sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Cu,” dia terisak. Aku menunduk memandangi
kuku-kuku jariku yang panjang belum aku potong. Sangat tidak rapi.
“Anak-anak
Nenek sudah tidak mempedulikan Nenek lagi, Cu,” air matanya semakin deras
tetapi aku dapat menangkap setiap kata yang ia rangkai dengan jelas. Sebenarnya
sudah aku duga semalang inilah hidupnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tidak
lebih berpengalaman tentang asam manisnya garam hidup daripada nenek 72 tahun
ini. Bahkan ketika aku akan mengucapkan sepatah kata,”Sabar..” untuk sekedar
menghiburnya pun dia langsung menepis ke penderitaannya yang berikutnya.
“Nenek
punya adik satu, itu pun kalau ketemu sudah gak pernah ngajak ngomong Nenek
lagi,” pungkasnya.
Aku
terdiam, sangat bingung harus berbuat dan berkata apa. Apa yang mungkin
orang lain pikirkan untuk sekedar lari dari keadaan ini? Aku benar-benar canggung, rasanya
ingin lari tetapi tidak tega. Tidak mungkin! Momen yang sungguh membuatku
berpikir sejuta kali untuk tega membentak-bentak ibuku lagi jika kami sedang
bertengkar. Aku ingat ibuku. Beliau sering sekali aku bentak karena aku kesal
sering bertanya ini-itu berulang-ulang padahal aku sedang sibuk. Sibuk mengedit
foto, bermain-main di jejasos, atau ketika aku asyik mendengarkan musik.
Pikiranku melayang-layang. Aku menangis tanpa sadar. Air mata ini begitu ringan
meluncur. Untuk beberapa detik aku hanyut. Saat sadar aku buru-buru
mengambil sapu tangan dan menghapus ingatan dan air mataku. Malu jika sampai
ada orang melihat aku menangis di tempat umum.
Beberapa orang mungkin mengira aku
dan nenek ini adalah anak dan ibu jika saja pakaian kami tidak kontras. Bukan
maksud menyombongkan diri, aku berpenampilan stylish ala anak kuliahan sementara nenek ini walau tidak kumal,
warna bajunya sudah banyak memudar. Kami
saling menduduki jarak intim1
dan itu membuat kami terlihat semakin dekat. Andai saja aku ini Gatotkaca, akan
segera aku gendong nenek ini dan kubawa terbang ke tempat tinggalnya di
Nganjuk. Mana bisa begitu?
“Buk,
mau ke mana?” tanya seorang wanita di depan kami.
“Ibuk
ini mau ke Kertosono, Mbak. Mbak mau ke mana?” jawabku setengah gelagapan.
“Wo,
saya juga mau ke sana Buk,” wanita yang kutaksir berusia 25-an itu menjawab
dengan raut wajah yang tersenyum manis ke arah nenek.
“Kalau
begitu saya titip ibu ini ya, Mbak?” pintaku dengan nada memohon. Aku percaya
bahwa wanita tersebut perempuan baik-baik. Terlihat dari caranya berpakaian
yang tidak metropolis dan tidak mencolok. Matanya bening dan bulu matanya
lentik. Manis sekali kamu, Mbak.
“Oh
iya, ndak papa. Ibuk dapat tempat duduk kan?” tanya wanita tadi memastikan.
Aku
meminta tas pada nenek untuk memeriksa karcisnya sekali lagi.
“Dapat
kok, Mbak. Ini,” aku memperlihatkan karcis milik nenek ke wanita tadi.
“Gerbong
4 ya? Wah, saya gerbong 1 ini,” katanya lirih. Nampaknya ia agak keberatan jika
harus mengawasi dan menemani nenek ini di gerbong 4 sementara jatah tempat
duduknya ada di gerbong 1.
Aku
pasang wajah melas. Kalau yang ini aku sedikit akting, menjilat demi nenek yang
malang tak apalah.
“Ya
gak papa deh, nanti bisa kok,” sambung wanita tersebut menyanggupi permintaanku
sekali lagi.
“Terima
kasih lo, Mbak,” aku tersenyum sumringah.
“Buk,
nanti Ibuk sama Mbak ini ya naik keretanya?” aku menggunakan nada tanya
sekaligus untuk mengetes apakah nenek ini paham apa yang aku maksudkan.
“Iya,
Cu,” jawabnya agak ragu. Mungkin ia takut jika harus aku tinggalkan. Tetapi mau
bagaimana lagi, kereta kami berbeda.
Sebenarnya
saat perbincanganku dengan wanita bermata lentik tadi berlangsung, si announcer stasiun sudah berceloteh.
Tetapi aku tidak bisa menangkap dengan jelas kereta apa lagi yang selanjutnya
akan datang. Mungkin Doho, mungkin juga Penataran karena jadwalnya berdekatan.
Aku pasang telinga sekali lagi, ternyata Kereta Penataran yang datang dari arah
Stasiun Semut. Sebenarnya nama stasiun tersebut bukan Semut begitu tetapi Surabaya
Kota. Aku juga tidak tahu mengapa orang-orang gerbong menyebutnya Stasiun Semut
dan aku rasa ini bukan poin yang penting di sini.
“Sebentar
ya, Buk,” aku tidak menunggu reaksi dari si nenek untuk menanggapiku, aku
langsung mendekat ke Jalur KA 1. Aku lihat dari arah utara lampu depan kereta menyapu
pandanganku. Itu keretaku.
Aku kembali pada nenek tersebut dan
mengucapkan kata perpisahan.
“Buk,
itu kereta saya sudah datang. Saya pergi duluan ya, Buk. Ibuk hati-hati, nanti
sama Mbak ini ya?” aku berkata setengah terisak. Aku belum menangis, hanya
sulit mengatur napas.
“Iya,
Cu..” nenek itu menangis lagi untuk kesekian kalinya.
“Saya
titip nenek ini ya, Mbak,” pesanku buru-buru pada wanita bermata lentik sebelum
air mataku tumpah.
“Iya,
Mbak,” dia tersenyum meyakinkan.
Ini
untuk kali kedua dalam hidupku aku begitu tersentuh dan menangis saat akan
berpisah dengan seseorang di tempat umum. Aku malu pada
setiap orang yang mampu menangkap air mataku. Aku menjabat tangan nenek
tersebut dan menciumnya. Dia berangsur memelukku dan membisikiku beberapa
kalimat yang tulus.
“Cu, terima kasih ya. Saya doakan
kamu nanti jadi orang yang kaya. Semoga semua yang kamu lakukan barokah.”
Aku melepaskan pelukannya. Jika saja
diijinkan aku lebih memilih untuk didoakan supaya menjadi orang yang bahagia
dan sukses kelak atau menjadi mahasiswa teladan segala umat daripada menjadi
orang kaya. Jangan doakan aku jadi kaya, Nek! Tetapi mana mungkin me-request doa dalam situasi seperti ini?
Bukankah doa yang tumbuh dari hati orang yang mendoakan sendiri akan lebih
mujarab dipandang dari segi keikhlasan dan tidak adanya pemaksaan. Dasar manusia, masih sempat-sempatnya
aku memikirkan hal-hal ekonomik. Astaghfirullah2, aku serakah nampaknya.
“Hati-hati
ya, Nek,” aku rasa sapaan ‘Nek’ pantas untuknya kini. Aku merasa seperti cucu
kesayangannya yang ia lepas untuk pergi jauh mengelana.
“Assalamualaikum3, Cu..”
Aku
terhenyak. Nenek ini masih mendoakan aku lagi? Ya, setidaknya itulah kalimat
terakhir yang dapat aku tangkap. Ia terlihat begitu ringkih dengan tangan dan
suara yang gemetaran. Tetapi kalimat terakhir yang aku dengar dari bibirnya
membuat hatiku turut bergetar. Aku ingat Tuhanku, Allah. Dan satu hal yang
membuat hatiku semakin hangat, membuat mataku semakin basah, kami seiman. Satu
pemahaman akan Tuhan yang berarti nenek tersebut dan aku adalah saudara. Terasa
begitu dekat tanpa jarak.
Keretaku
sudah mendecitkan remnya. Calon-calon penumpang telah berjajar di sepanjang
pinggir jalur 1. Aku balas salam si nenek,”Wa’alamualaikum warahmatullaahi
wabarakatuh4.”
Aku melepaskan genggaman tangannya dan beranjak. Aku tidak menoleh lagi, sibuk
memerangi air mataku yang tidak bisa aku kontrol. Aku sampai lupa untuk
meneliti nomor gerbong kereta di mana jatah tempat dudukku berada. Ah, ya
sudahlah. Aku bisa bertanya pada orang di dalam nanti. Aku naik ke dalam kereta
dengan wajah sembab. Beberapa orang memandangiku heran. Aku tidak peduli dan
berjalan cepat mencari tempat dudukku. Berkali-kali aku tata jalannya napasku. Aku
berdoa semoga nenek itu bisa sampai di rumahnya dengan selamat. Itupun kalau
memang dia punya rumah.
Ya
Rabb, betapa beruntungnya aku hidup di dalam serba kecukupan materi dan kasih
sayang dari keluargaku. Hidupku masih jauh lebih beruntung daripada nenek
malang itu. Padahal aku sering mengeluh pada teman-temanku saat bapak dan ibuku
tidak pernah mempedulikan apapun urusanku atau mengedepankan aku, anaknya
daripada pekerjaan mereka. Contoh kecilnya ketika mengurusi daftar ulang kuliah
hingga mencari tempat kos, aku sama sekali tidak didampingi mereka dengan
alasan tidak bisa meninggalkan tugas sebagai guru. Aku katakan pada
teman-temanku bahwa aku selalu seperti ini, melakukan apapun sendirian sejak aku
kecil. Tidak sama seperti mereka yang selalu atau sering dibuntuti ke mana pun
mereka pergi. Betapa malunya aku pada Allah jika keluhanku tidak akan pernah
sebanding daripada penderitaan si nenek yang sama sekali sudah tidak
mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. Setidaknya walau begitu, bukankah
bapak dan ibuku masih mau mambiayai kuliahku? Mengirimiku uang untuk membakar
tempat kos yang relatif mahal? Bukankah mereka bekerja dan tidak bisa
meninggalkan pekerjaannya tidak lain hanya karena itulah usaha mereka untuk
dapat terus memberiku makan? Allah, maafkanlah aku. Semoga orang-orang yang
selalu mengeluh kekurangan dapat dengan jeli melihat ketidakberuntungan-ketidakberuntungan
yang tidak pernah terpikirkan dalam kepala mereka. Berbuat baiklah selagi mampu
walau hanya sebatas memberi perhatian dan simpati pada orang-orang yang tidak
beruntung. Mungkin dengan begitu hati kita dapat belajar untuk senantiasa
bersyukur akan nikmat yang tidak pernah kita perhitungkan. Hidup ini indah jika
kita dapat mewarnainya dengan berbagi walaupun sedang dalam kesempitan.
Catatan:
Tulisan ini dibuat setahun lalu dan berkali-kali dibaca untuk mengingatkan
(siapapun) agar teguh hatinya dalam menjalankan kewajiban di tempat yang jauh
(dari orang tua). NR



0 comments:
Post a Comment