Sunday, March 17, 2013

Jangan Doakan Aku Jadi Kaya, Nek!


Saat itu hari Rabu pagi di Surabaya, 15 Januari 2012. Langit pagi mendung waktu aku berputar-putar di daerah Gubeng untuk membeli tiket kereta api, pulang kampung. Pukul 10.20 aku jalan dari kosan ke stasiun sendirian. Udara sudah panas, sepatu pink baruku yang sangat unyu itu nampaknya mempersulit jalanku pula. Suasana agak sepi, kecuali terdengar suara mas-mas rombengan yang berteriak-teriak barangkali ada warga yang butuh menjual rongsokan padanya. Sekilas aku senang akan segera bertemu bapak dan ibu di rumah. Namun, tiba-tiba aku berpikir bagaimana seandainya jika ada orang yang memintaiku tolong untuk melakukan sesuatu entah apa yang membuatku tidak bisa mengejar keretaku? Entahlah, aku juga bingung mengapa bisa berpikir demikian. Aku percepat langkahku.
            Stasiun Gubeng begitu ramai. Kursi untuk calon penumpang yang menunggu kereta hampir penuh. Aku memutar pandangan dan menemukan tempat kosong di samping nenek-nenek tua, aku bergegas menghampiri kursi itu. Aku merasa diamati oleh nenek di sampingku. Tiba-tiba dia berujar, “Mau ke mana, Cu?”
“Ke Blitar, Buk,” aku menoleh dan memasang wajah ramah. Tidak tahu mengapa aku tidak memanggilnya nenek tetapi ‘Buk’ padahal dia sudah tua.
“Naik Doho ya?” ya Allah, nenek ini berbicara dengan suara yang gemetaran, setua itukah usianya?
“Oh, saya naik yang Penataran, Buk. Ibuk mau ke mana?” tanyaku penuh simpati.
Aku menangkap seberkas mata air yang membuat mata nenek itu berkaca-kaca, nenek itu terlihat bingung, apalagi aku? Aku yang sangat asing dengan orang ini tiba-tiba disuguhi pemandangan aneh dan dalam situasi yang aneh pula, nenek ini kenapa? Tiba-tiba ia menyodorkan tas kecil yang dipegangnya erat ke arahku, seperti memasrahkan semua yang dimilikinya. Aku tidak berlebihan, gestur nenek itu memang begitu. Dan apakah tidak berbahaya? Bukankah aku ini orang asing baginya?
Nenek itu menunjukkan KTP yang terdapat di dalam tas kresek kecil di dalam tas tadi. Aku terkejut, apakah nenek ini tidak bisa mengenali dirinya sendiri sampai ia butuh untuk menunjukkan KTP-nya demi menjawab pertanyaan “.. Ibuk mau ke mana?”? Allah, aku belum bisa mencerna sampai di sini.
“Ibuk orang Nganjuk ya?” selidikku memastikan. Aku lihat nenek ini kelahiran tahun ’40. Foto KTP-nya masih terlihat muda, sekitar 20 tahun lebih muda dari yang ada di sampingku kini. Aku tidak sempat melihat tanggal-tanggal yang ada di KTP itu.
“Iya, Cu,” jawab nenek itu pendek tetapi sarat akan pengaduan yang tidak sanggup ia ungkapkan dalam untaian kalimat yang jelas.
“Ini tadi habis kontrol dari Soetomo,” dia menjelaskan lebih jauh. Di dalam tasnya aku melihat obat dalam plastik kecil sebanyak kira-kira enam butir putih bulat. Plastik tempat obat itu nampaknya sudah terlalu sering terkena kontak dengan tangan karena sudah tidak transparan lagi.
“Ibuk sendirian? Naik kereta jam berapa?”
Nenek itu hampir menumpahkan air matanya. Dengan bergetar di berkata,”Nenek haus, Cu. Tadi mau beli minum nggak berani, itu uang tinggal dua ribu.”
Aku terhenyak, mengernyitkan kening. Nenek ini ..? Aduh! Jadi dari tadi dia sedang curhat ke aku, satu-satunya orang yang mau duduk mendekat di sampingnya? Ya Allah, malangnya.
“Sebentar ya, Buk. Saya mau ke petugas dulu, Tanya jadwal kereta,” aku hendak meninggalkannya pergi tetapi dia menggamit tanganku dan membuat aku terduduk kembali.
“Untuk apa, Cu?” tanyanya ketakutan. Takut kalau aku akan memanggil security untuk mengusirnya.
“Ndak apa kok, Buk. Saya cuma mau Tanya jadwal Kereta Api Doho, nanti Ibuk saya belikan tiket sekalian,” jawabku menenangkan dengan nada yang sangat pelan dan pengertian.
Nenek itu membiarkanku beranjak. Rasanya aku dan dia sudah saling mengenal saja. Seperti dia sudah merawatku sejak aku kecil dan hidup bersama hingga sekarang. Aku yakin dia telah mempercayaiku dari percakapan kami yang kurang dari lima menit itu. Kini nenek itu seperti melepaskan tongkat tuntunannya berjalan dan menyandarkan tangannya pada pundakku. Pertanyaannya, aku siapa?
“Mas, Kereta Doho sudah berangkat belum?” aku bertanya pada security di peron Gubeng Lama. Stasiun Gubeng yang ada di sebelah barat disebut Gubeng Lama, sedangkan yang timur disebut Gubeng Baru. Aku tadi masuk melalui Gubeng Baru. Entah nenek itu.
“Belum, Mbak, jam 11 nanti masihan. Mau ngapain emangnya?” security bertanya karena nampaknya aneh jika aku bertengger di peronnya.
“Mau beli tiket, Mas,” jawabku polos.
“Ya buruan sana, Mbak. Keburu habis,” jawabnya dengan pandangan setengah menertawakan aku. Apa lucunya?
Sempat aku berpikir untuk memesan dua tiket karena tidak tega membiarkan nenek tersebut naik kereta sendirian. Tetapi aku urungkan niatku, aku sudah mempunyai tiket Kereta Penataran. Aku besarkan hati dan yakinkan diriku bahwa nenek itu akan baik-baik saja tanpa aku. Ya, setidaknya begitu pikirku sekarang. Lantas aku beli tiket dengan tujuan Nganjuk seharga Rp 5.500,00 yang bahkan si nenek tidak mampu membelinya! Aku lega tiket yang kubeli ada nomor tempat duduknya. Aku menghela napas setelah masuk kembali melalui peron. Seperti melepaskan beban yang berat, aku menguatkan hati menyikapi keadaan di depan mataku.
Aku pun kembali menghampiri nenek tua yang tengah menungguku dengan wajah gelisah. Gubeng semakin ramai saja. Tetapi tetap, tidak ada seorang pun yang nampak mau duduk di kursi yang sama dengan nenek itu. Enggan mungkin, atau entahlah. Aku juga heran mengapa nenek tua ini duduk di ujung yang sangat pinggir. Jika saja ada anak yang usil menyenggolnya aku yakin dia akan serta-merta terjatuh. Baru juga aku amati bahwa si nenek memakai sandal butut, pakaian ala kadarnya, dan subhanallah! Nenek ini berjilbab. Aku tidak memperhatikan ini bahkan sejak perbincangan pertama kami. Aku benar-benar takjub.
”Buk, ini saya sudah dapat tiketnya. Sebentar lagi kereta Ibuk akan datang, Ibuk nanti naik Kereta Doho ya?” Aku tak bosan-bosannya memberi instruksi takut kalau-kalau nenek ini punya penyakit pikun.
“Terima kasih banyak ya, Cu. Kamu baik sekali,” nenek itu memegang erat tanganku dan pada akhirnya berhasil menitikkan air mata.
Aku agak kelabakan menghadapi situasi mengharukan ini.
“Sama-sama, Buk. Ibuk haus? Ini saya punya minum,” aku mengeluarkan air minum bekalku yang rutin aku bawa jika bepergian dan menyodorkannya ke arah nenek tersebut. Si nenek nampaknya begitu lemah, membuka tutup botol saja dia kesulitan. Aku tanggap dan membukakan tutup botol itu untuknya, meminumkannya karena kuatir botol tersebut akan jatuh di tangan nenek yang gemetaran. Ia hanya meminum sedikit, tiga teguk mungkin.
“Kamu jangan minum bekas Nenek ya, Cu. Nenek sakit radang,” katanya sambil menunjukkan lehernya, radang tenggorokan aku pikir yang dia maksud.
“Buk, ini tiketnya saya simpan di tas Ibuk ya. Nanti kalau ada petugas yang memeriksa, Ibuk tunjukkan tiket ini,” pesanku hati-hati. Ibu itu menatapku seakan-akan aku ini anaknya yang telah lama merantau dan baru pulang ke peraduan. Ibuk, mengapa menangis lagi? Tanyaku dalam hati.
“Ini saya ada sedikit uang untuk Ibuk. Ibuk simpan ya, nanti kalau Ibuk butuh apa-apa bisa Ibuk gunakan,” aku menyelipkan beberapa puluh ribu uang terakhirku ke dalam tas kresek milik si nenek. Si nenek semakin santer menumpahkan air matanya. Berulang kali dia mengucapkan terima kasih padaku. Aku sampai tidak bisa menghitung sudah berapa kali ia ucapkan itu untuk kemurahan hatiku. Setelah tenang si nenek bercerita tentang kehidupannya.
“Nenek sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Cu,” dia terisak. Aku menunduk memandangi kuku-kuku jariku yang panjang belum aku potong. Sangat tidak rapi.
“Anak-anak Nenek sudah tidak mempedulikan Nenek lagi, Cu,” air matanya semakin deras tetapi aku dapat menangkap setiap kata yang ia rangkai dengan jelas. Sebenarnya sudah aku duga semalang inilah hidupnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tidak lebih berpengalaman tentang asam manisnya garam hidup daripada nenek 72 tahun ini. Bahkan ketika aku akan mengucapkan sepatah kata,”Sabar..” untuk sekedar menghiburnya pun dia langsung menepis ke penderitaannya yang berikutnya.
“Nenek punya adik satu, itu pun kalau ketemu sudah gak pernah ngajak ngomong Nenek lagi,” pungkasnya.
Aku terdiam, sangat bingung harus berbuat dan berkata apa. Apa yang mungkin orang lain pikirkan untuk sekedar lari dari keadaan ini? Aku benar-benar canggung, rasanya ingin lari tetapi tidak tega. Tidak mungkin! Momen yang sungguh membuatku berpikir sejuta kali untuk tega membentak-bentak ibuku lagi jika kami sedang bertengkar. Aku ingat ibuku. Beliau sering sekali aku bentak karena aku kesal sering bertanya ini-itu berulang-ulang padahal aku sedang sibuk. Sibuk mengedit foto, bermain-main di jejasos, atau ketika aku asyik mendengarkan musik. Pikiranku melayang-layang. Aku menangis tanpa sadar. Air mata ini begitu ringan meluncur. Untuk beberapa detik aku hanyut. Saat sadar aku buru-buru mengambil sapu tangan dan menghapus ingatan dan air mataku. Malu jika sampai ada orang melihat aku menangis di tempat umum.
Beberapa orang mungkin mengira aku dan nenek ini adalah anak dan ibu jika saja pakaian kami tidak kontras. Bukan maksud menyombongkan diri, aku berpenampilan stylish ala anak kuliahan sementara nenek ini walau tidak kumal, warna bajunya sudah banyak memudar. Kami saling menduduki jarak intim1 dan itu membuat kami terlihat semakin dekat. Andai saja aku ini Gatotkaca, akan segera aku gendong nenek ini dan kubawa terbang ke tempat tinggalnya di Nganjuk. Mana bisa begitu?
“Buk, mau ke mana?” tanya seorang wanita di depan kami.
“Ibuk ini mau ke Kertosono, Mbak. Mbak mau ke mana?” jawabku setengah gelagapan.
“Wo, saya juga mau ke sana Buk,” wanita yang kutaksir berusia 25-an itu menjawab dengan raut wajah yang tersenyum manis ke arah nenek.
“Kalau begitu saya titip ibu ini ya, Mbak?” pintaku dengan nada memohon. Aku percaya bahwa wanita tersebut perempuan baik-baik. Terlihat dari caranya berpakaian yang tidak metropolis dan tidak mencolok. Matanya bening dan bulu matanya lentik. Manis sekali kamu, Mbak.
“Oh iya, ndak papa. Ibuk dapat tempat duduk kan?” tanya wanita tadi memastikan.
Aku meminta tas pada nenek untuk memeriksa karcisnya sekali lagi.
“Dapat kok, Mbak. Ini,” aku memperlihatkan karcis milik nenek ke wanita tadi.
“Gerbong 4 ya? Wah, saya gerbong 1 ini,” katanya lirih. Nampaknya ia agak keberatan jika harus mengawasi dan menemani nenek ini di gerbong 4 sementara jatah tempat duduknya ada di gerbong 1.
Aku pasang wajah melas. Kalau yang ini aku sedikit akting, menjilat demi nenek yang malang tak apalah.
“Ya gak papa deh, nanti bisa kok,” sambung wanita tersebut menyanggupi permintaanku sekali lagi.
“Terima kasih lo, Mbak,” aku tersenyum sumringah.
“Buk, nanti Ibuk sama Mbak ini ya naik keretanya?” aku menggunakan nada tanya sekaligus untuk mengetes apakah nenek ini paham apa yang aku maksudkan.
“Iya, Cu,” jawabnya agak ragu. Mungkin ia takut jika harus aku tinggalkan. Tetapi mau bagaimana lagi, kereta kami berbeda.
Sebenarnya saat perbincanganku dengan wanita bermata lentik tadi berlangsung, si announcer stasiun sudah berceloteh. Tetapi aku tidak bisa menangkap dengan jelas kereta apa lagi yang selanjutnya akan datang. Mungkin Doho, mungkin juga Penataran karena jadwalnya berdekatan. Aku pasang telinga sekali lagi, ternyata Kereta Penataran yang datang dari arah Stasiun Semut. Sebenarnya nama stasiun tersebut bukan Semut begitu tetapi Surabaya Kota. Aku juga tidak tahu mengapa orang-orang gerbong menyebutnya Stasiun Semut dan aku rasa ini bukan poin yang penting di sini.
“Sebentar ya, Buk,” aku tidak menunggu reaksi dari si nenek untuk menanggapiku, aku langsung mendekat ke Jalur KA 1. Aku lihat dari arah utara lampu depan kereta menyapu pandanganku. Itu keretaku.
Aku kembali pada nenek tersebut dan mengucapkan kata perpisahan.
“Buk, itu kereta saya sudah datang. Saya pergi duluan ya, Buk. Ibuk hati-hati, nanti sama Mbak ini ya?” aku berkata setengah terisak. Aku belum menangis, hanya sulit mengatur napas.
“Iya, Cu..” nenek itu menangis lagi untuk kesekian kalinya.
“Saya titip nenek ini ya, Mbak,” pesanku buru-buru pada wanita bermata lentik sebelum air mataku tumpah.
“Iya, Mbak,” dia tersenyum meyakinkan.
Ini untuk kali kedua dalam hidupku aku begitu tersentuh dan menangis saat akan berpisah dengan seseorang di tempat umum. Aku malu pada setiap orang yang mampu menangkap air mataku. Aku menjabat tangan nenek tersebut dan menciumnya. Dia berangsur memelukku dan membisikiku beberapa kalimat yang tulus.
“Cu, terima kasih ya. Saya doakan kamu nanti jadi orang yang kaya. Semoga semua yang kamu lakukan barokah.”
Aku melepaskan pelukannya. Jika saja diijinkan aku lebih memilih untuk didoakan supaya menjadi orang yang bahagia dan sukses kelak atau menjadi mahasiswa teladan segala umat daripada menjadi orang kaya. Jangan doakan aku jadi kaya, Nek! Tetapi mana mungkin me-request doa dalam situasi seperti ini? Bukankah doa yang tumbuh dari hati orang yang mendoakan sendiri akan lebih mujarab dipandang dari segi keikhlasan dan tidak adanya pemaksaan. Dasar manusia, masih sempat-sempatnya aku memikirkan hal-hal ekonomik. Astaghfirullah2, aku serakah nampaknya.
“Hati-hati ya, Nek,” aku rasa sapaan ‘Nek’ pantas untuknya kini. Aku merasa seperti cucu kesayangannya yang ia lepas untuk pergi jauh mengelana.
Assalamualaikum3, Cu..”
Aku terhenyak. Nenek ini masih mendoakan aku lagi? Ya, setidaknya itulah kalimat terakhir yang dapat aku tangkap. Ia terlihat begitu ringkih dengan tangan dan suara yang gemetaran. Tetapi kalimat terakhir yang aku dengar dari bibirnya membuat hatiku turut bergetar. Aku ingat Tuhanku, Allah. Dan satu hal yang membuat hatiku semakin hangat, membuat mataku semakin basah, kami seiman. Satu pemahaman akan Tuhan yang berarti nenek tersebut dan aku adalah saudara. Terasa begitu dekat tanpa jarak.
Keretaku sudah mendecitkan remnya. Calon-calon penumpang telah berjajar di sepanjang pinggir jalur 1. Aku balas salam si nenek,”Waalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh4.” Aku melepaskan genggaman tangannya dan beranjak. Aku tidak menoleh lagi, sibuk memerangi air mataku yang tidak bisa aku kontrol. Aku sampai lupa untuk meneliti nomor gerbong kereta di mana jatah tempat dudukku berada. Ah, ya sudahlah. Aku bisa bertanya pada orang di dalam nanti. Aku naik ke dalam kereta dengan wajah sembab. Beberapa orang memandangiku heran. Aku tidak peduli dan berjalan cepat mencari tempat dudukku. Berkali-kali aku tata jalannya napasku. Aku berdoa semoga nenek itu bisa sampai di rumahnya dengan selamat. Itupun kalau memang dia punya rumah.
Ya Rabb, betapa beruntungnya aku hidup di dalam serba kecukupan materi dan kasih sayang dari keluargaku. Hidupku masih jauh lebih beruntung daripada nenek malang itu. Padahal aku sering mengeluh pada teman-temanku saat bapak dan ibuku tidak pernah mempedulikan apapun urusanku atau mengedepankan aku, anaknya daripada pekerjaan mereka. Contoh kecilnya ketika mengurusi daftar ulang kuliah hingga mencari tempat kos, aku sama sekali tidak didampingi mereka dengan alasan tidak bisa meninggalkan tugas sebagai guru. Aku katakan pada teman-temanku bahwa aku selalu seperti ini, melakukan apapun sendirian sejak aku kecil. Tidak sama seperti mereka yang selalu atau sering dibuntuti ke mana pun mereka pergi. Betapa malunya aku pada Allah jika keluhanku tidak akan pernah sebanding daripada penderitaan si nenek yang sama sekali sudah tidak mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. Setidaknya walau begitu, bukankah bapak dan ibuku masih mau mambiayai kuliahku? Mengirimiku uang untuk membakar tempat kos yang relatif mahal? Bukankah mereka bekerja dan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya tidak lain hanya karena itulah usaha mereka untuk dapat terus memberiku makan? Allah, maafkanlah aku. Semoga orang-orang yang selalu mengeluh kekurangan dapat dengan jeli melihat ketidakberuntungan-ketidakberuntungan yang tidak pernah terpikirkan dalam kepala mereka. Berbuat baiklah selagi mampu walau hanya sebatas memberi perhatian dan simpati pada orang-orang yang tidak beruntung. Mungkin dengan begitu hati kita dapat belajar untuk senantiasa bersyukur akan nikmat yang tidak pernah kita perhitungkan. Hidup ini indah jika kita dapat mewarnainya dengan berbagi walaupun sedang dalam kesempitan.

Catatan:
1  jarak intim berdasarkan ilmu sosiologi merupakan keterlibatan seseorang dengan tubuh lain pada radius 0-45 cm
2  aku mohon ampunan pada Allah
3  keselamatan bagimu
4 semoga keselamatan dan kesejahteraan menyertaimu juga dan semoga Allah merahmati dan memberkatimu


Tulisan ini dibuat setahun lalu dan berkali-kali dibaca untuk mengingatkan (siapapun) agar teguh hatinya dalam menjalankan kewajiban di tempat yang jauh (dari orang tua). NR
Share:

0 comments: