Friday, March 20, 2015

Dear You

"Terdapat 3 hal yang paling menyiksa di dunia ini.

Satu, pemikiran yang dibungkam,

Dua, mimpi yang dilarang, dan,

Tiga, perasaan yang ditahan."

ig @duniajilbab

Aku terbangun dalam keadaan tersedu-sedu. Aku tahu apa yang tengah aku saksikan dan rasakan, namun, aku sangat enggan membuka mata dan menikmati derasnya perasaan yang meluap bersama air mata. Aku sadar buliran apa yang jatuh menyatu bersama runtuhnya kepercayaan diriku menjadi orang dengan perasaan murni. Beginilah aku terkadang merindukan sesuatu. Sangat dalam. Alam bawah sadarku merindukannya, sedangkan air mataku yang aku sadari jatuh justru tidak segera aku seka.
Aku yang selalu memimpikan romantika dalam kisah-kisah dongeng masa lalu terjebak dalam perasaan yang tidak terkendalikan. Terkadang aku sungguh percaya diri bahwa akan ada seseorang yang benar-benar akan mengubahku, melindungiku, dan mencintaiku tanpa syarat. Kemudian setiap kali hantu bawah sadarku muncul, aku tahu aku yang begitu lemah tidak akan pernah pantas jika hanya menerima dan menerima. Aku pula harus memberi, aku pula harus berusaha. Berusaha menetapkan keinginan dan kemauan pada satu orang yang akan aku tatap seumur hidupku walaupun aku tahu berpetualang mungkin akan sangat menyenangkan.

Thursday, March 5, 2015

Seperti Padamu

Rasanya masih mencengkeram hingga hari ini, setelah sekian tahun aku berkontemplasi dengan batinku yang terus mengadu dan logikaku yang tidak berhenti berargumen. Walau kini sudah tidak sesak lagi, rasanya masih sama seperti dulu. Aku tahu aku masih begitu menginginkannya. Kau tahu, mimpi-mimpi itu tidak begitu saja hilang. Aku merindukannya begitu saja. Mungkin sama seperti aku merindukanmu beberapa waktu lalu, saat harapanku benar-benar ditekan oleh kesendirian. Aku benar-benar mengharapkanmu waktu itu dan aku tahu kita tidak dapat bertemu begitu saja. 

https://twitter.com/haykamu

Friday, October 31, 2014

Refleksi Diri 21 Tahun

Aku pikir diriku remaja berumur 21 tahun yang bertemu dengan seseorang berumur entah berapa yang membuatku risih karena sepertinya dia tidak setuju menyebut diriku re-ma-ja. Remaja karena aku masih suka berkeliaran, bermain-main di luar, bersenang-senang dengan uang orang tua, terlampau santai dengan kehidupan dan masa depan, tidak mau diatur, jarang sekali bangun pagi, tidur sesukanya asal tugas tidak terbengkalai, hingga bermain "api". Kau tahu apa artinya? Aku sama sekali belum dewasa. 
Aku memang sudah memimpikan memakai gaun pengantin sejak berusia 16 tahun, tetapi aku tidak pernah mau tahu bagaimana caranya aku dapat menjemput impianku, membuat diriku pantas dan layak disanding oleh seseorang. Bukan masalah pernikahan saja, aku ingin terbang ke Eropa bahkan menjejakkan tanah di Afrika, setidaknya untuk membuatku begitu bersyukur memiliki udara yang sejuk untuk dihirup dan berjalan pun tidak harus berperang dengan tulang-tulang yang gemerutuk karena terlanjur kurus dan kurang gizi. Belakangan aku juga ingin naik haji. Namun, seperti biasa, aku yang mencatat setiap mimpiku dalam dream list-ku masih saja suka bermalas-malasan dan "memimpikan" semua itu di dalam tidurku. Tiba-tiba aku sudah 21 tahun dan terperangah melihat dream list-ku semakin memanjang. Umur kemudian menjadi hampir segala-galanya bagiku. Mungkin karena frekuensi penyebutannya yang selalu sering. Aku yang selalu dilihat lebih tua atau mungkin beberapa menyebutnya dewasa daripada umurku membuat umur menjadi salah satu hal yang menjadi perhatianku. Yang kemudian menjadi lebih penting adalah kesadaran akan umur yang dipertemukan dengan mimpi-mimpi yang belum kesampaian. Mau diapakan?

Friday, July 18, 2014

Dalam Tidur


"Aku selalu lebih memilih untuk tetap tidur walaupun bahagiaku hanya dalam mimpi."

Tuhan, aku selalu bertanya-tanya apakah orang lain juga merasakan ini dan bagaimana mereka menghadapi ini? Waktu melingkupi segalanya walaupun ia tak mampu menaungi. Waktu berikan hati-hati yang menua kesempatan dan pemahaman mengenai pertemuan dan perpisahan. Tidak semuanya dapat dirasakan dengan terang tetapi adakalanya kebijaksanaan hati yang harus selalu siap menjumpai senja menenangkan pikiran 'yang baik-baik saja'. Bagaimana aku dahulu tidak mempedulikan hiruk pikuk dan kini aku bahkan jadi peduli pada setitik debu yang mampu memenuhi udara. Yang kini aku justru lebih banyak menatap dengan romantika bahwa debu pun terkadang indah pada tempatnya. Jika aku hanyalah satu dari sekian milyar orang di dunia, apa istimewanya menghargai debu-debu yang membuat apapun menjadi lusuh? Jika kemudian ternyata ada yang selalu dapat menghargai hidup dengan cara-cara paling bijak. Semuanya tak terasa tertelan hilang oleh kemuliaan-kemuliaan orang lain. Satu-satunya dalam sekian milyar, bagaimana melihat dan menentukannya? 

Apa yang terjadi jika hal-hal kurang baik kemudian menjadi terbolak-balik? Atau hanya mengenai tenggelamnya kepiasan dalam mimpi-mimpi indah? Guratan wajah-wajah itu membuatku semakin lama semakin pandai bersembunyi seperti dalam kesenangan seseorang yang lelah memiliki tidur.

Tuesday, July 8, 2014

Selamat Datang


Dunia tidak tahu bagaimana dia berbicara. Yang manusia inginkan dari sebuah kisah terkadang hanya sebuah keniscayaan yang sederhana. Yang bahwa berpikir terlalu rumit akan membuat semuanya menjadi terasa sulit dan mustahil. Harapan-harapan yang digantung tinggi-tinggi seketika dapat melesat dan lepas karena kacau dalam dalam menimbang.
Peduli atau tidak, suka atau tidak, dalam penyederhanaannya dunia tercipta dengan hitam putihnya.

Saturday, May 17, 2014

Aku, Kau, Mereka, Kita dalam Beberapa Alasan Tak terkatakan


"Kamu hanya lelah."
"Lelah untuk apa?"
"Kau bahkan tidak sadar."
"Jangan menilai tanpa tahu persoalan ini tentang apa."
"Kau kira bukan teman-temanmu?"
Aku menoleh padanya dengan perasaan tertikam.
"Aku juga temanmu. Aku tahu bagaimana perasaanmu yang tengah bermain-main dengan kerinduan dan harapan-harapan tanpa tanggung jawab yang membingungkan dan melukaimu."
"Kau bisa apa? Maksudku, apakah kau merasa ini baik dan sehat?"
"Belum tentu aku bisa apa-apa. Yang jelas semua kini benar terasa berubah, kita semua rindu tetapi tidak mau saling mengadu. Mengaku."

Thursday, May 1, 2014

Kita mudah ingat, mudah lupa

"Kita mudah mengingat salah dan luka
tetapi dengan mudah lupa,
bahwa kita juga sering tertawa, bahagia."


Masih dalam jingga-jingga senja
Hingga tiba ufuk dengan ayatullah yang bersahutan
yang tiap hari bergulir
Masih juga dalam warna yang sama
Dan walaupun regenerasi semesta terus berlanjut
Beberapa diriku mungkin tidak sadar,
Bahwa setiap hari diri mereka juga berganti
Menggulir dengan waktu.

~NR~ catatan dari tanggal 4/7/2013 saat berada di pondok dan merenung.

Thursday, April 10, 2014

Di Mana Aku Sekarang


Dan pertanyaan berikutnya yang kuharapkan adalah,
Di mana kamu sekarang? Diamlah di tempat dan jangan lakukan apapun.
Ya Tuhan, setelah beberapa tahun ini aku begitu menikmati kesendirian dan kebersamaan secara bertimbunan,
Akhirnya aku benar-benar merasa bahwa akan selalu ada titik di mana aku akan merasa begitu sepi,
akan selalu ada celah-celah tidak terjangkau yang membuatku ingin datang kembali,
dengan diri ini yang tidak berhenti memaksa pendirian untuk bersyukur,
aku masih tetap begitu.

Pernahkah?


Apakah pernah kau berupaya membuka hatimu?
Dengan pertanyaan yang sama setiap waktu,
apakah semuanya bermakna satu?
Adakah di antaranya rasa penasaran akan aku?
Masihkah aku sama seperti dulu,
ataukah aku sama sekali baru?
Pernahkah kau secara tidak sengaja menggunakan hatimu
dalam salah satu pertanyaan apa-kabarmu?

Wednesday, November 13, 2013

Jika Aku Tahu



Jika aku tahu siapa yang selalu memandangiku di belakangku,
Aku tidak akan memandang punggung orang lain juga.
Jika aku tahu siapa yang diam-diam menanggapi perkataanku pada diriku sendiri,
Aku juga tidak akan sibuk berkeliling mencari orang-orang yang mungkin peduli masalahku.

Tuesday, October 1, 2013

Punggungmu dan Aku

ec.europa.eu

Dari jauh aku berusaha melihatmu walaupun aku tahu itu hanya punggungmu yang membelakangiku. Mataku yakin bahwa sesosok hitam itu perlahan berubah menjadi setitik kecil yang lambat laun pasti menghilang ditelan horizon. Kamu dan aku sedang tidak berjalan menuju masa lalu. Hanya cara yang berbeda membuat kita mengambil haluan yang tidak sama. Namun, seberbeda apapun, bukankah kita masih berpijak di bumi?

Tuesday, August 27, 2013

Kapan Kita Ba(l)ikan?

Apakah aku menohokmu?
Dalam ke relung hatimu?
Bukan urusanku lagi kini
Ketahuilah, mungkin kita masih di tempat yang sama
tetapi hanya ingat, waktu yang berjalan membuat kita berbeda
Entah kita berjalan saling menjangkau jauh
atau justru kita berkejar-kejaran tanpa kita tahu punggung siapa yang ada di depan
Sayang, kapan kita ba(l)ikan?

Wednesday, June 19, 2013

Siapa yang Tahu

Siapa yang tahu hati ini sudah terkena penyakit?
Saat begitu ingin merindu padahal tidak ada yang bisa diajak beradu pilu. Bahkan hati memiliki siapa, memilih siapa juga entah. Setiap pasang mata yang menyelinap masuk memperlihatkan isyarat-isyarat pembeda, jika bukan pesaing maka pencinta. Tidak ada satu pun yang terabaikan. Padahal juga tidak benar bahwa abu-abu tidak diciptakan. Dan lalu, apakah semua bisa benar jika bukan rival maka akan selalu kawan, yang menemani hati ini?
www.ladieshealingboutique.com
Siapa yang tahu hati ini sudah terkena penyakit?

Untuk Sebuah Jatuh

Pernah kau merasa perlu berlari? Saat ini menjadi bukan hal yang ingin kau lalui dengan biasa karena terlalu menggelikan untuk dirasakan sebongkah hati yang tidak tenang. Ingin begitu saja tiba di masa mendatang dan melihat hasilnya. Bayanganmu nyata atau tidak, yang kau takutkan terjadi atau tidak, harapanmu menjelma atau tidak.


Saat berlari, apakah kau pernah tengok ke belakang? Berupaya mengambil kembali bekal yang tertinggal atau membiarkannya berlalu begitu saja. Ada beberapa yang penting hingga terpaksa membuatmu kembali dan beberapa yang tidak kau biarkan. Celakanya saat kau berkemas kau menemukan lebih banyak hal yang kau anggap sangat penting yang perlu kau bawa. Padahal kedua tangan dan tasmu sudah penuh. Dan tidak jarang akhirnya kau enggan beranjak. Celaka.

Sunday, May 5, 2013

Mimpi dan Nurani


"Kamu pernah mengubur mimpi?"
"Aku mengalaminya."
"Bagaimana rasanya?"
"Kamu telah merasakannya."
"Bagaimana kamu tahu?"
"Karena kamu tidak akan bertanya akan sesuatu yang sama sekali tidak kamu ketahui."


Aku masih terdiam. Untuk beberapa saat merasakan hempasan udara yang aku hirup menusuk-nusuk tenggorokanku. Aku membutuhkannya tetapi sekarang udara begitu menyakitkan bagi kita. Tidak seperti beberapa hari yang lalu. Beberapa saat yang lalu saat kita sama sekali lupa akan mimpi kita dan sibuk membicarakan orang lain, mimpi-mimpi orang lain, dan akhirnya juga berujung pada mimpi kita kembali. Haruskah kita kembali?

"Apakah menurutmu aku tidak mampu?"
"Mampu untuk apa?"
"Menjadi mereka yang aku ingin."
"Kau hanya ingin, bukan bercita-cita."
"Apa bedanya? Itu bukan jawaban atas pertanyaanku."
"Apakah pertanyaan harus dijawab dengan penjelasan yang memuaskan?"
"Aku masih saja berpikir untuk bisa menjadi mereka."
"Dirimu adalah kamu yang kamu bukan mereka. Dirimu tidak hanya kamu yang kau ingin tetapi juga yang orang lain ekspektasikan akan kamu."
"Orang lain yang mau aku untuk jadi apa?"

"Tidak selalu. Bukan hanya kamu yang berhak untuk menjadi apa maumu dan bahagia karenanya. Orang-orang di sekitarmu juga berhak untuk bahagia karenamu, karena usahamu."

Pulang

Aku hanya ingin pulang pada tempat yang aku tidak pernah merasa asing. Aroma yang membuat tubuhku betah untuk tinggal. Kursi-kursi tua yang dengan mudah membuat tertidur dalam beberapa detik.
Dan kini aku berada jauh darinya. Apakah pulang juga harus selalu ke rumah? Bagaimana jika pada seseorang? Seseorang yang tidak akan pernah membuatmu merasa asing bersamanya. Dia yang kamu kenal sebagaimana ia biasanya memperlakukanmu. Itu membuatmu merindukannya saat waktu mengajakmu pulang.

Friday, April 26, 2013

Keinginan (Mau)


Banyak sekali keinginanku, termasuk memilikimu, termasuk lepas dari jerat sirathal mustaqim. Akan ada banyak dosa jika aku menginginkan cinta di saat aku belum bisa mencintai fitrahku sendiri. Sedangkan saat waktu belum datang, kau sudah tiba duluan. Hati yang tidak tahu di mana bagian jiwa yang lain, atau mungkin juga itu kamu, siapa yang menduga? Sedangkan aku sepenuhnya sadar bahwa masih terus dicucuri kasih, bagaimana mungkin bisa membaginya denganmu? Padahal aku tahu hatiku masih saja mau kamu. Semua terasa benar padahal aku juga belum pelajari yang haq dan yang bathil dengan seksama dari Al-Karim. Sejujurnya, tidak sejengkal kaki pun aku juga ingin jauh dari Ar-Rahman-Ar-Rahim. Tetapi berada di antara ini, beberapa kali aku harus siap memutuskan. Menjadi maumu pada akhirnya aku juga harus menjadi baik. Menjadi baik apakah selalu berarti memuliakanmu, menjauhkanmu dari mauku, mengambil jarak pada keinginanku? Sedangkan aku begitu khawatir waktu itu tidak akan tiba dan kamu dan aku yang ada pada saat ini adalah kesempatan terbaik yang pernah ada. 
Sementara itu, Yang Khaliq tak hentinya memintaku untuk menatap-Nya, menggodaku untuk singgah di peraduan-Nya, menetapkan hati pada harapan-harapan yang lebih menjanjikan daripada keraguan dan ketakutan akan masa yang tidak bisa ditebak akan kamu dan aku. Aku yang bingung harus memenuhi panggilan-Nya dan membiarkanmu menjadi mau-mau yang lain. Padahal aku tidak harus mengikatmu. Bahkan tanganku belum genap untuk menggenggam ucapan-ucapanku. Padahal aku tahu kamu dekat juga dengan Tuhan-Mu. Bahwa kamu mungkin juga bisa berhenti memupuk ketakutan akan waktu-waktu di depanmu. Bukankah kita berdoa pada keagungan yang sama? Mungkinkah Dia jawab dua pertanyaan dan permintaan dalam satu keberuntungan, kenyataan, dan takdir yang sama? Dia Maha Tahu, kamu punya mau, dan masih (boleh) aku mau kamu.


"Mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai dan menemukan percikan Tuhan di dalam dirinya," Paulo Ceolho.

Dan saat itu aku dan kamu tidak harus saling mau. Hanya akan kita temukan Tuhan yang tidak pernah membuat kita untuk saling menduakan, antara aku dan Dia (bagi kamu) atau pun antara kamu dan Dia (bagiku). Yang ada adalah kita dalam deru napas-Nya.

Sunday, April 14, 2013

Untuk Logika


Hingga suatu saat aku kelelahan sendiri dalam mencari arti, mendefinisikan diri, dan menguak misteri untuk hak-hak hakiki. Padahal yang disebut hakiki apa dan bagaimana aku juga tidak tahu. Adakalanya hidup ini harus terus berjalan mencari penjelasan. Adakalanya penjelasan tidak dibutuhkan untuk orang-orang yang puas dengan ketidaktahuan. Suatu saat aku akan terdiam dan membiarkan logikaku memberontaki semua. Bahwa adakalanya mereka semua juga harus diam dengan pertanyaan-pertanyaannya yang menuntut segala sesuatunya menjadi rasional. Tidak pernahkah yang tidak masuk akal menjadi benar di mata logika? Sedang yang ditentang adalah udara yang dihirup, udara yang tertiup, dan udara yang hidup. Walaupun tidak terlihat, itu memang ada! Semua ini bukan untuk terdiam dan putus asa pada ketidakpuasaan. Namun, memberi waktu pada semua, logika yang tengil untuk mencerna untuk apa dirinya ada dalam hal-hal di luar akal, tidak masuk sebab-akibat. Logika hanya butuh penerimaan.

Kemarau dan Hujan


Rasa rinduku seperti kemarau yang menginginkan hujan. Tak akan sepetak kemarau pun mampu memilikinya kecuali dengan syarat yang berat. Leburnya udara kering yang menjelma menjadi tetesan air.
Rasa rinduku seperti kemarau yang butuh hujan. Akan berakhir membahagiakan jika hujan datang tepat waktu. Namun, akan membuat kerinduan semakin lekat ketika hujan tak mau datang.
Rasa rinduku seperti kemarau yang membayangkan hujan. Menyejukkan retakan tanah dan menyesaki udara kering di antaranya dengan kesegaran. Memenuhi diriku akan semua tentang kamu yang bahkan membuatku terkadang lupa aku hanya sedang bersama haiku yang merindukanmu.
Rasa rinduku seperti kemarau yang melukai ketulusan hujan. Membakar setiap benda dengan beringas saat hujan terlampau lama tak mau singgah. Menjadi liar saat hujan tidak hirau untuk sekedar menyapa. Menghilang begitu saja tanpa perasaan bersalah saat kau mulai memadamkan kemarahanku dengan airmu.
Rasa rinduku yang seperti kemarau tidak akan menyatu dengan hujan. Karena kemarau dan hujan akan saling membunuh. Kemarau dan hujan tidak dapat hadir bersamaan. Kemarau dan hujan tidak dapat pernah bertemu di tanah yang subur atau kering sekaligus. Kemarau dan hujan ada tetapi tidak untuk menjaga sepetak tanah berdua. Kemarau dan hujan kodratnya memang berbeda. Kemarau dan hujan tidak menyatu untuk mengkompromi bumi dan waktu. 
Aku hanya merindukanmu. Dengan cara kemarau pada hujan, mungkinkah hati bertemu?

Tuesday, April 2, 2013

Kepada Kakak

Kakak, bahwa sebenarnya aku ingin berbicara dengan hatiku. Mendamaikannya dengan kebodohan yang mungkin aku lakukan jika tidak aku katakan sekarang.
Kakak, bahwa sebenarnya adikmu belum mampu menahan mata untuk tetap terbuka hingga larut malam. Silau karena layar laptop yang menyerang mata tanpa ampun dengan hitam putihnya.
Kakak, bahwa sebenarnya aku masih ingin ibu menyisiri rambutku setiap pagi. Membuatku siap dalam situasi apapun untuk menghadapi hari, bukan kini bangun yang terburu-buru karena tidur melampaui dini hari.
Kakak, bahwa sebenarnya aku tidak pernah menyangka akan butuh untuk mengatakan ini. Tidak selamanya hati mampu tidak peduli.
Kakak, bahwa sebenarnya yang tidak peduli adalah aku yang mengabaikan waktu. Berjalan santai tanpa beban meninggalkan dirimu dan ibu untuk orang-orang baru.
Kakak, bahwa sebenarnya tidak ada yang pantas untuk dipertahankan kecuali keikhlasan. Dalam keharubiruan semuanya bukan milik kita.
Kakak, bahwa sebenarnya rindu itu perlahan membunuh rasa bahagiaku. Menyembul begitu saja tanpa memberikanku kesempatan untuk menikmati senja sepiku.
Kakak, bahwa sebenarnya aku akan terus menjadi adikmu. Dewasa dalam waktu yang entah kapan karena akan selalu ada engkau, kakakku.
Kakak, bahwa sebenarnya aku inginkan kamu seperti inginku disuapi ibu. Ke manakah aku harus mengguru?
Kakak, bahwa sebenarnya aku tidak tahu bolehkah mengharap kekosongan. Meniup-niup seruling tanpa lubang dan berharap harmoni nada dalam setiap tempaan.
Kakak, bahwa sebenarnya menunggumu menjawab hanya akan menjadi sebuah penantian. Dalam jarak antara kekanakan dan kedewasaan.

Karena kita tidak akan pernah kembali menjadi kecil-kerdil, Kakak.
Karena waktu akan terus menua, Kakak.
Karena ibu suatu saat akan dijemput, Kakak.
Karena batas hitam-putih lama-lama juga memudar, Kakak.
Karena rindu akan menjadi pertanda adanya hati yang terikat, Kakak.


Untuk Kakak, ada tidaknya engkau bukan menjadi persoalan.