Wednesday, September 7, 2016

Jeda



Ku tanya kau ingin apa, kau bilang asal aku suka. Ku kata aku ingin kau yang bahagia saja, kau jawab asal aku bisa tertawa. Sebenarnya, demi siapa kita saling rela? Aku masih belum tahu apakah kau punya alasan serupa. Sejujurnya, aku tak pernah sedekat ini dengan pengorbanan. Dan jikalau pun ku gunakan mata dewasa dalam melihat sedang apa kita, semua tak pernah terasa berat..

Kecuali saat waktu berjalan melambat. Karena kau tahu, bahwa selama bersamamu waktu selalu melesat dengan cepat. Tidak pernah lagi aku hitung mundur untuk segera menanti hari berganti tetapi matahari bergulir begitu saja tanpa kita ketahui. Mabukkah kita?

Dan tahukah pula apa yang membuat semua ini bukan terasa seperti ilusi? Bahwa waktu yang kita lalui tak selamanya cepat. Kita tidak mabuk, Sayang. Sesekali waktu masih berjalan dengan hemat, memberi kita sinyal bahwa rasa senang tak boleh datang terlalu rapat. Asal aku suka dan bisa tertawa, kita rela. Ingatlah, waktu butuh jeda sekalipun ia bahagia melihat hati-hati tanpa praduga.

Tuesday, August 2, 2016

DIY Cardinal Jeans Bag



Sometimes, it feels so frustrated to find your old jeans can't be used anymore because your size is bigger now. You're too in love with it, but it's so useless to keep it in your cupboard. I'm telling you I have a great idea to turn it as something new and useful!



At first, I got this inspiration from youtube. My brother actually challenged me to make my own vlog about DIY crafting. But, it's still a new thing for me and I don't get used to recording while working. So, I'm sorry guys I'll just show you some parts of my job in pictures. If you want to make your DIY bag, check out this channel for the full tutorial.

All the thing you need is everything you can get from your old stuff. Here they are:


  • An old jeans
  • Zipper
  • Patterned fabric
  • Some hooks
  • A thread
Make sure your sewing machine is fine. You need it in a good condition because you'll sew some thick pieces of fabrics.



Behind the scene of the cool bag cardinal jeans.

Since I got married, my hubby suggested me not to use jeans to hang out. But, sometimes I still couldn't do it because I don't have many fabrics trousers. However, there'll always some time when you still can't use a beautiful skirt or gamis. So, I consider begin to collect my fabric trousers.

Since then, I thought that my jeans would be 'aged' because it'll never be used again. Using jeans or not it's literally a choice, I admit. But, for me, it looks quite better and polite if I don't. So, i think no need to critize nor debate.



This old jeans is my hubby's cause honestly, I just still can't move on from mine. It's my first time to cut a very fine cloth into pieces.



I spent 5 hours to make my own bag. But, the result is hardly fantastic! In the inner side, I add some pockets to carry handphone, make up, or anything small. It's a customize overall.



I suggested to use a patterned fabric for the inner and the combination, so, your bag will look great and stunning. Since I moved to my hubby's house this early year, I didn't bring enough stuff of mine. My class will start this month and I don't have any bag to go to campus. Can you guess how glad I am for making this? It's your signature there that nobody would never have the same as yours!

Just don't loose your patience to sew! Sometimes, people who don't even try to touch a sewing machine would think if sewing is really difficult and boring. But, if it's your passion, I'm sure you'll feel challenged every time you see a great new thing about DIY project. Grow your creativity!

Tuesday, July 26, 2016

Siapkah Kita Untuk Menikah?






Mereka yang memiliki keinginan untuk memenuhi hakikat hidupnya sebagai manusia sepenuhnya, akan tiba saatnya untuk memutuskan menemukan pasangan hidupnya. Pertanyaannya mungkin bukan lagi mengenai, "Siapkah kita untuk menikah?" tetapi bagaimana "Mempersiapkan diri untuk menikah?"

Seorang perempuan 22 tahun, fresh graduate jurusan Ilmu Hubungan Internasional bertemu dengan calon suaminya yang berusia 25 tahun, seorang pegawai swasta di salah satu PTN Kota Magelang. Bagaimana terbersit kata "menikah" di benak orang-orang yang terhitung masih muda ini?

"Jodoh itu mungkin dekat dan berputar-putar di sekitarmu tanpa kau menyadarinya."

Kami berasal dari almamater yang sama, Universitas Airlangga. Mungkin pepatah yang mengatakan bahwa jodoh kita sesungguhnya dekat dengan kita atau berputar-putar di sekeliling kita tanpa kita sadari benar. Mungkin saja.

Dia adalah kakak angkatan kuliahku yang hanya sekedar kenal karena pernah mengambil mata kuliah yang sama saat semester 5. Saat itu, tidak sedikit pun terpikirkan olehku bahwa aku akan menjadi lebih dekat dengan orang ini.

Dia yang begitu pendiam dan cenderung 'tidak terlihat' sedangkan aku yang termasuk sebagai mahasiswa cukup aktif yang mengikuti beberapa organisasi baik di dalam maupun di luar kampus memiliki dunia yang berbeda. Teringat kata-kata salah satu dosenku, "Blind spot bisa jadi merupakan peluang atau pilihan terbaik yang kita miliki." Tak pernahkah aku berpikir tentang siapakah blind spot-ku? Tentu saja pernah. Akan tetapi, menurutmu, bagaimana mungkin aku bisa menemukan blind spot?

"Persamaan akan menjadi awal yang menyatukan tetapi jangan lengah, perbedaan akan lebih banyak ditemukan kemudian di dalam pernikahan yang sesungguhnya."

Saat itu, aku sedang berada di akhir semester 6 dan dia baru saja lulus sidang skripsi bahkan belum diwisuda dan memperoleh pekerjaan tetap.

"Aku ingin menikahimu," sebuah kata yang tegas dan jelas ia rangkai begitu dalam menelusup ke telingaku. Wajahku memerah semerah kerudung yang kukenakan, begitu katanya setelah kami menikah dan menceritakan ulang kenangan-kenangan pertemuan kami.

"Kau bercanda, Mas?" sontak aku menutup wajahku dengan malu.

"Aku serius, aku ingin menikahimu," jawabnya.

"Tapi.. tapi, aku sama sekali tidak mengenalmu. Begitu pun dirimu, juga tidak tahu apapun tentang aku," aku tergagap.

"Pikirkanlah. Keseriusanku tidak tergoyahkan oleh hal-hal yang kau ungkapkan." jawabnya telak. Membuatku berpikir sejuta kali lagi untuk menjawabnya. Antara bingung harus berkata apa dan mempercayai bahwa pagi ini aku belum bangun dari mimpi.

Tak pernah kuduga bahwa hari-hariku setelah ajakannya untuk menikah denganku tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Pada awalnya aku kegirangan bahwa ternyata di balik punggungku ada seseorang yang memandangku dari kejauhan. Namun, di sisi lain aku pun harus bertanggung jawab atas apa yang telah aku ketahui darinya. Aku mulai kehilangan fokus dan gundah. Orang tuaku bilang bahwa aku harus lulus dulu sebelum menikah. Mereka paling tahu bahwa anak perempuannya paling tidak bisa memikirkan hal-hal besar secara bercabang. Apa yang harus ku lakukan?


Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW bersabda:

"Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia."

(Muttafaq Alaihi dan Imam Lima)

Mitsaqan Ghalidza atau disebut perjanjian yang amat kokoh, yaitu pernikahan. Ya, bagi kami pernikahan merupakan sebuah janji paling suci yang ada di dunia ini. Kata mitsaqan ghalidza bahkan hanya disebutkan 4 kali di dalam Al-Qur'an. Menunjukkan bahwa maknanya begitu dalam dan kuat dalam kehidupan manusia. Upaya untuk melakukannya semata-mata dilakukan karena Allah.

Mengukur Diri

Bukan masalah kami sudah mapan atau belum, siap atau belum. Akan tetapi, bagaimana upaya kami dalam menjemputnya. Sejujurnya, jika menunggu aku lulus dahulu bisa dikatakan pihakkulah yang menunda adanya niatan suci ini. Namun, akulah yang menakar kemampuanku sendiri. Sampai batas itulah aku mampu untuk menjemputnya, insyaallah. Dan dirinya pulalah yang dapat menakar kemampuan dirinya sendiri, mengapa dia berani mengutarakan keinginan untuk menikahiku padahal dari segi finansial dia sama sekali belum mapan? Aku tidak tahu. Lillahi ta'ala.

Di antara keempat kategori perempuan itu, setidaknya aku pasti berada di antaranya walaupun aku tidak tahu dan tidak mau menebak-nebak aku yang mana. Kami sepakat bahwa jika niat yang baik akan diberi jalan oleh Allah, jika tidak maka kami akan dijauhkan dari segala hal yang lebih banyak membawa mudharat.

Menyamakan Visi

Kami kemudian banyak bertukar pikiran mengenai pandangan tentang masa depan. Misalnya, bagaimana pandangan tentang seorang istri yang menjadi wanita karir, bagaimana jika seorang istri menempuh pendidikan lebih tinggi daripada suami dan siapa yang akan menanggung biayanya, bagaimana cara terbaik dalam mendidik anak-anak kelak, bagaimana menjalin hubungan yang tetap erat antara anak (kami) dengan orang tua, di mana tempat yang tepat untuk ditinggali setelah menikah, kapan saja waktu yang harus diluangkan untuk saling berkunjung ke rumah orang tua, bagaimana mengelola uang bulanan, dan sebagainya.

Dari semua hal itu, secara garis besar kami memiliki pandangan yang sama. Yang paling melegakan bagiku adalah bahwa jika dengan segera setelah aku lulus dia menikahiku, aku diijinkan untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang S-2. Entah dengan cara apa dan kapan waktunya, yang jelas menurutnya, tidak ada yang salah dengan menuntut pendidikan tinggi bagi seorang perempuan bahkan lebih tinggi dari suaminya. Hal-hal teknis tidak menjadi kendala berarti selama hal-hal prinsip telah kami pegang dengan kokoh berlandaskan agama.

Jika telah dekat dengan perencanaan pernikahan, sebaiknya tanyakanlah banyak-banyak hal-hal yang mungkin akan dijumpai dalam pernikahan! Ingat, kalian akan hidup bersama selamanya. Namun, jangan bertanya tentang hal-hal tidak wajar dan di luar batas.

Menyiapkan Mental

Pernikahan bukanlah hal sederhana. Kalian harus siap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. Setiap detail kehidupan ketika lajang bisa jadi akan sangat berbeda ketika sudah menikah nanti. Cobalah untuk memikirkan mulai dari hal-hal kecil.

Misalnya, setelah menikah mungkin waktu untuk hang-out bersama sahabat akan berkurang tetapi akan lebih sering di rumah bersama pasangan. Setelah menikah mungkin akan lebih sering bangun pagi dan saling memperhatikan keperluan masing-masing pasangan ketimbang hanya menyiapkan sarapan sekenanya atau menyetrika baju sendiri secara dadakan. Setelah menikah mungkin akan hidup jauh dari orang tua dan tinggal di lingkungan yang sama sekali baru.

Jangan takut. Ini bukan untuk membuat mundur niat untuk menikah. Akan tetapi, ada baiknya memikirkan ini, karena sesiap apapun juga seseorang yang akan menikah, akan selalu ada hal-hal yang terjadi di luar dugaan.Setidaknya dengan mulai memperkirakan hal-hal kecil akan membantu alam bawah sadar untuk lebih cepat beradaptasi kelak.

Kesiapan Finansial

Kemampuan finansial menjadi salah satu tolok ukur bagaimana kehidupan pernikahan akan dapat berlangsung dengan baik. Penulis katakan salah satu karena memang bukan satu-satunya. Akan menjadi lebih ringan untuk perempuan karena ia tidak bertanggung jawab atas nafkah. Akan tetapi akan sangat berbeda dengan laki-laki karena ia adalah calon kepala keluarga.

Samakan pemahaman kalian mengenai siapa yang wajib memenuhi kebutuhan nafkah lahir di dalam keluarga. Pastikan bahwa pihak laki-laki dapat menunjukkan tanggung jawabnya kelak sebagai kepala keluarga. Tidak menutup kemungkinan bahwa pihak perempuan akhirnya juga dapat menjadi sumber penghasilan keluarga.

Di Indonesia, Jawa khususnya, kesiapan finansial yang biasanya menjadi tanggung jawab pihak perempuan adalah pesta pernikahan atau resepsi. Namun, hal tersebut bukan lagi menjadi sesuatu yang rigid dan tabu lagi untuk dibicarakan secara terang-terangan. Kedua belah pihak dapat mendiskusikannya dengan lebih terbuka.

Ada baiknya hal tersebut dibicarakan dalam-dalam karena tidak ada gunanya pesta yang begitu megah jika setelah menikah pasangan pengantin baru tersebut justru harus dikejar hutang. Menikah bukanlah untuk kebahagiaan sehari atau dua hari tetapi mencari kebahagiaan bersama-sama selamanya.


PS: Penulis juga akan me-review sebuah buku tentang pernikahan. Semoga menginspirasi, ya!

Monday, July 25, 2016

Kasih Sayang Perempuan, Kasih Sang Ibu, Kasih Tanpa Batas

Maryam Bunda Suci Sang Nabi (2014) karya Sibel Eraslan

Pembaca pasti bertanya-tanya, mengapa gambar sekeranjang buah yang menjadi cover di novel ini? Tentu saja, karena Maryam dapat 'menurunkan' makanan dari langit! Bagaimana bisa? Simak sinopsis bukunya dalam review ini.

Maryam Bunda Suci Sang Nabi merupakan novel yang diterjemahkan dari novelis terkenal asal Turki, Sibel Eraslan. Dalam versi Indonesia yang diterbitkan oleh Penerbit Kaysa Media, novel Maryam terbit sebagai seri terakhir dari seri 4 wanita penghuni surga; Khadijah, Fatimah, Asiyah, dan Maryam. Kisah Maryam dituturkan secara fiksional oleh Merzangus kepada istri wali Romawi yang memimpin sidang penyaliban Nabi Isa.

Bagian Kaf
Hanna, istri Imran dan Al-Isya, istri Zakaria merupakan dua bersaudara yang sama-sama dimakan usia dan malang nasibnya merindukan seorang anak. Saat itu, perpecahan di antara para rahib Al-Quds semakin meruncing. Mayoritas rahib memihak pada wali Roma untuk mendapatkan kepentingan politik. Sudah dua tahun perempuan Yahudi dilarang untuk belajar baca-tulis dan pergi ke masjid.

Wednesday, July 20, 2016

Gigih dan Terlatih dengan "Man Jadda Wajada"

Negeri 5 Menara (2012) karya Ahmad Fuadi
source: nesca87.wordpress.com

Menjaring ilmu tidak hanya dilakukan secara alami melalui kehidupan sehari-hari. Ilmu tentang kehidupan telah termaktubkan di dalam kitab-kitab suci yang diwahyukan Tuhan sejak nabi-nabi terdahulu hingga nabi pamungkas, Muhammad SAW, yaitu Al-Quranul Kariim. Memperdalam ilmu agama dan mencari selamat dunia akhirat merupakan buah kesadaran atas manusia yang ingin mengabdi pada Tuhan semata. Perjalanan Alif Fikri dalam menempuh ilmu di pondok pesantren tidak lain merupakan gagasan dari orang tuanya yang melek terhadap agama dan juga ilmu dunia.

Berawal dari keprihatinan sang ibu akan kualitas imam-imam yang ada masa kini, Alif digagas untuk melanjutkan pendidikan ke institusi non formal, yaitu sebuah pondok pesantren. Sang ibu berharap bahwa Alif dapat menjadi imam berkualitas yang dapat memperbaiki kehidupan masyarakat dari sisi dalam dengan pendekatan religi. Masa depan umat manusia dipegang kuncinya oleh para penggerak yang berkemampuan ulung dan berbudi luhur. Ibu Alif melihat bahwa sosok Buya Hamka adalah salah satu referensi yang patut dicetakkan pada pribadi anaknya bahkan sejak Alif masih berusia satu bulan di dalam kandungan. 

Namun, keinginan sang ibu mendapat pertentangan dari Alif sendiri.

Belajar Menyelami Kehidupan Melalui Kota yang Terabaikan


Padang Bulan (2011) karya Andrea Hirata

Padang Bulan merupakan dwilogi pertama Padang Bulan karya Andrea Hirata. Padang Bulan berkisah tentang Ikal dewasa yang sebelumnya telah banyak diceritakan Andrea di dalam tetralogi Laskar Pelangi. Kisah Ikal dimulai dengan perkenalan dengan sahabat-sahabatnya, yaitu Enong dan Detektif M. Nur. Enong merupakan perempuan kecil kelas 6 SD yang harus menjadi tulang punggung keluarga secara tiba-tiba setelah ayahnya meninggal tertimbun pasir di penggalian timah.

Sehari sebelum meninggal, ayah Enong menghadiahi Enong kamus Bahasa Inggris karena tahu Enong sangat terobsesi dengan pelajaran Bahasa Inggris walaupun nanti mungkin juga tidak akan berguna bagi orang-orang yang tiap harinya bermandikan lumpur mencari timah. Enong dan Ikal memiliki ikatan tak terpetakan melalui Bahasa Inggris.

Tanpa disangka Enong menjadi perempuan pertama yang berhasil mendulang timah. Para lelaki pendulang timah yang tak terima dengan keberhasilan Enong membuntutinya menuju tempat menambang di tengah hutan. Enong yang tak sadar bahwa telah dibuntuti tetap asyik dengan aktivitasnya hingga kemudian suara anjing menyalak-nyalak mengepung Enong. Terkaget-kaget karena serangan yang tiba-tiba itu, Enong lari tunggang langgang menyelamatkan diri.

Friday, May 20, 2016

Tidurlah, Sayang..
Jangan kuatir kita tak kan bertemu
Jangan kuatir orang-orang ini tak kan menunggu
Karena sesungguhnya kita semua tengah menunggu
Dijemput tanpa rasa takut
Sayang, pejamkanlah matamu..
Ini bukan tentang akhir
Akan tetap ada aku dan kamu
Hingga mata kita beradu
Lagi, jangan kelabu.


~NR~ sambungan dari catatan tertanggal 9 April 2013

pastorbrianmoss.com
Malam-malam ini aku tak lagi sendiri
Wajahmu menggangguku
bahwa wajahmu ada di situ,
dekat denganku,
yang aku tidak tahu mengapa,
hingga sejak kapan,
hingga sampai kapan,
wajahmu akan menggangguku.


Thursday, May 19, 2016

Cinta Tidak Mempertanyakan


Kadang, bahasa tidak dapat mewakili segalanya
Rasa tidak selalu mampu bersuara dalam kata
Waktu tidak selalu dapat bersua dalam rima
Kadang, diam yang membelenggu
Lebih mahir menciptakan ikatan
Daripada kata-kata yang sarat pujian

Rinduku yang terlalu dalam
Tidak akan pernah cukup aku utarakan
Sedangkan perjuanganmu yang terlampau hebat

Thursday, September 24, 2015

Tanyalah Dirimu


Bahkan kali ini aku juga tidak ingin mengujimu. Cukup dengan beberapa kata, "Ah, betapa aku masih ingat rasanya," aku tahu kau akan segera berantakan. Terkadang aku hanya ingin menatapmu, sesederhana itu, dan bukan kepada yang lain. Akuilah bahwa kau telah memilih manusia biasa yang begitu lemah dihadapkan pada naluri berburunya, yaitu aku. Aku dahulu petualang dan kau masih nekat mengajakku membangun istana. Kau bilang aku bisa tinggal dengan nyaman di sana dan kau tidak akan pernah membiarkanku sendirian lagi, kesepian mungkin.

Tuesday, May 19, 2015

Alasan


Di tengah keterasinganku terhadap diriku sendiri, aku mencoba mengingatkan diriku lagi.

Kau tahu, kau adalah salah satu alasan mengapa aku harus bertahan, kuat, dan tegar. Ya! Karena aku pasti harus lebih bersyukur dengan hidupku yang seperti ini. Aku tidak perlu berjuang hingga berdarah-darah bukan untuk mendapatkan hal yang serupa denganmu? Dan aku tahu pasti kau pasti memahaminya bahkan jika kau pernah merasa iri. Aku pasti akan menyelesaikan ini semua.
Bahwa engkau masih tetap bisa percayaiku. Bahwa aku masih sama kawanmu yang dulu. Bahwa aku masih tidak takut bermimpi seperti beberapa tahun lalu. Bahwa aku pasti menirumu untuk bangkit berulang kali walau sakit dan perih. Bahwa aku akan berniat mengejarmu atau membawamu lari meskipun aku tahu kita akan jatuh ratusan kali. Ingatkah kau tentang aku yang seperti itu?

Friday, May 15, 2015


"Aku ingat engkau berkata, tak mungkin aku tanpa dirimu.
Cinta yang terlanjur membara, tak mungkin akan terpisahkan.
Adakah rintangan ini lelahkan dirimu?"
Yovie & Nuno - Jalan Diam-Diam

Hey, selamat pagi siapapun kamu yang ada di sana! Bagaimana kamu mengawali harimu pagi ini? Kau tahu, dalam setiap inch cahaya matahari yang menerpaku, aku terus berharap kamulah yang seharusnya membuat perasaanku hangat. Namun, aku terus bersyukur Tuhan memberiku waktu untuk menunggumu. Menurutmu, bagaimana jika suatu hari kita bertemu? :)

Saturday, April 18, 2015

Could it be?

Kini, benar-benar kusadari bahwa aku hanya memiliki sajadahku untuk mengadu. Aku bisa apa jika ternyata tidak setiap orang dapat selalu berdiri juga menggunakan hati mereka tidak hanya raganya? Apa artinya pelukan jika tanpa rasa? Apa artinya teguran jika tidak disampaikan? Apa artinya ketulusan jika tidak ditunjukkan? Apa artinya semua ini? Aku telah terlampau menuhankan perasaanku dan kini hanya tersisa aku tersungkur berdua bersamanya karena kecewa terhadap apa yang aku bangun dan rangkai sendiri.

detektif-fisika-doni.blogspot.com

Friday, March 20, 2015

Dear You

"Terdapat 3 hal yang paling menyiksa di dunia ini.

Satu, pemikiran yang dibungkam,

Dua, mimpi yang dilarang, dan,

Tiga, perasaan yang ditahan."

ig @duniajilbab

Aku terbangun dalam keadaan tersedu-sedu. Aku tahu apa yang tengah aku saksikan dan rasakan, namun, aku sangat enggan membuka mata dan menikmati derasnya perasaan yang meluap bersama air mata. Aku sadar buliran apa yang jatuh menyatu bersama runtuhnya kepercayaan diriku menjadi orang dengan perasaan murni. Beginilah aku terkadang merindukan sesuatu. Sangat dalam. Alam bawah sadarku merindukannya, sedangkan air mataku yang aku sadari jatuh justru tidak segera aku seka.
Aku yang selalu memimpikan romantika dalam kisah-kisah dongeng masa lalu terjebak dalam perasaan yang tidak terkendalikan. Terkadang aku sungguh percaya diri bahwa akan ada seseorang yang benar-benar akan mengubahku, melindungiku, dan mencintaiku tanpa syarat. Kemudian setiap kali hantu bawah sadarku muncul, aku tahu aku yang begitu lemah tidak akan pernah pantas jika hanya menerima dan menerima. Aku pula harus memberi, aku pula harus berusaha. Berusaha menetapkan keinginan dan kemauan pada satu orang yang akan aku tatap seumur hidupku walaupun aku tahu berpetualang mungkin akan sangat menyenangkan.

Thursday, March 5, 2015

Seperti Padamu

Rasanya masih mencengkeram hingga hari ini, setelah sekian tahun aku berkontemplasi dengan batinku yang terus mengadu dan logikaku yang tidak berhenti berargumen. Walau kini sudah tidak sesak lagi, rasanya masih sama seperti dulu. Aku tahu aku masih begitu menginginkannya. Kau tahu, mimpi-mimpi itu tidak begitu saja hilang. Aku merindukannya begitu saja. Mungkin sama seperti aku merindukanmu beberapa waktu lalu, saat harapanku benar-benar ditekan oleh kesendirian. Aku benar-benar mengharapkanmu waktu itu dan aku tahu kita tidak dapat bertemu begitu saja. 

https://twitter.com/haykamu

Friday, October 31, 2014

Refleksi Diri 21 Tahun

Aku pikir diriku remaja berumur 21 tahun yang bertemu dengan seseorang berumur entah berapa yang membuatku risih karena sepertinya dia tidak setuju menyebut diriku re-ma-ja. Remaja karena aku masih suka berkeliaran, bermain-main di luar, bersenang-senang dengan uang orang tua, terlampau santai dengan kehidupan dan masa depan, tidak mau diatur, jarang sekali bangun pagi, tidur sesukanya asal tugas tidak terbengkalai, hingga bermain "api". Kau tahu apa artinya? Aku sama sekali belum dewasa. 
Aku memang sudah memimpikan memakai gaun pengantin sejak berusia 16 tahun, tetapi aku tidak pernah mau tahu bagaimana caranya aku dapat menjemput impianku, membuat diriku pantas dan layak disanding oleh seseorang. Bukan masalah pernikahan saja, aku ingin terbang ke Eropa bahkan menjejakkan tanah di Afrika, setidaknya untuk membuatku begitu bersyukur memiliki udara yang sejuk untuk dihirup dan berjalan pun tidak harus berperang dengan tulang-tulang yang gemerutuk karena terlanjur kurus dan kurang gizi. Belakangan aku juga ingin naik haji. Namun, seperti biasa, aku yang mencatat setiap mimpiku dalam dream list-ku masih saja suka bermalas-malasan dan "memimpikan" semua itu di dalam tidurku. Tiba-tiba aku sudah 21 tahun dan terperangah melihat dream list-ku semakin memanjang. Umur kemudian menjadi hampir segala-galanya bagiku. Mungkin karena frekuensi penyebutannya yang selalu sering. Aku yang selalu dilihat lebih tua atau mungkin beberapa menyebutnya dewasa daripada umurku membuat umur menjadi salah satu hal yang menjadi perhatianku. Yang kemudian menjadi lebih penting adalah kesadaran akan umur yang dipertemukan dengan mimpi-mimpi yang belum kesampaian. Mau diapakan?

Friday, July 18, 2014

Dalam Tidur


"Aku selalu lebih memilih untuk tetap tidur walaupun bahagiaku hanya dalam mimpi."

Tuhan, aku selalu bertanya-tanya apakah orang lain juga merasakan ini dan bagaimana mereka menghadapi ini? Waktu melingkupi segalanya walaupun ia tak mampu menaungi. Waktu berikan hati-hati yang menua kesempatan dan pemahaman mengenai pertemuan dan perpisahan. Tidak semuanya dapat dirasakan dengan terang tetapi adakalanya kebijaksanaan hati yang harus selalu siap menjumpai senja menenangkan pikiran 'yang baik-baik saja'. Bagaimana aku dahulu tidak mempedulikan hiruk pikuk dan kini aku bahkan jadi peduli pada setitik debu yang mampu memenuhi udara. Yang kini aku justru lebih banyak menatap dengan romantika bahwa debu pun terkadang indah pada tempatnya. Jika aku hanyalah satu dari sekian milyar orang di dunia, apa istimewanya menghargai debu-debu yang membuat apapun menjadi lusuh? Jika kemudian ternyata ada yang selalu dapat menghargai hidup dengan cara-cara paling bijak. Semuanya tak terasa tertelan hilang oleh kemuliaan-kemuliaan orang lain. Satu-satunya dalam sekian milyar, bagaimana melihat dan menentukannya? 

Apa yang terjadi jika hal-hal kurang baik kemudian menjadi terbolak-balik? Atau hanya mengenai tenggelamnya kepiasan dalam mimpi-mimpi indah? Guratan wajah-wajah itu membuatku semakin lama semakin pandai bersembunyi seperti dalam kesenangan seseorang yang lelah memiliki tidur.

Tuesday, July 8, 2014

Selamat Datang


Dunia tidak tahu bagaimana dia berbicara. Yang manusia inginkan dari sebuah kisah terkadang hanya sebuah keniscayaan yang sederhana. Yang bahwa berpikir terlalu rumit akan membuat semuanya menjadi terasa sulit dan mustahil. Harapan-harapan yang digantung tinggi-tinggi seketika dapat melesat dan lepas karena kacau dalam dalam menimbang.
Peduli atau tidak, suka atau tidak, dalam penyederhanaannya dunia tercipta dengan hitam putihnya.

Saturday, May 17, 2014

Aku, Kau, Mereka, Kita dalam Beberapa Alasan Tak terkatakan


"Kamu hanya lelah."
"Lelah untuk apa?"
"Kau bahkan tidak sadar."
"Jangan menilai tanpa tahu persoalan ini tentang apa."
"Kau kira bukan teman-temanmu?"
Aku menoleh padanya dengan perasaan tertikam.
"Aku juga temanmu. Aku tahu bagaimana perasaanmu yang tengah bermain-main dengan kerinduan dan harapan-harapan tanpa tanggung jawab yang membingungkan dan melukaimu."
"Kau bisa apa? Maksudku, apakah kau merasa ini baik dan sehat?"
"Belum tentu aku bisa apa-apa. Yang jelas semua kini benar terasa berubah, kita semua rindu tetapi tidak mau saling mengadu. Mengaku."

Thursday, May 1, 2014

Kita mudah ingat, mudah lupa

"Kita mudah mengingat salah dan luka
tetapi dengan mudah lupa,
bahwa kita juga sering tertawa, bahagia."


Masih dalam jingga-jingga senja
Hingga tiba ufuk dengan ayatullah yang bersahutan
yang tiap hari bergulir
Masih juga dalam warna yang sama
Dan walaupun regenerasi semesta terus berlanjut
Beberapa diriku mungkin tidak sadar,
Bahwa setiap hari diri mereka juga berganti
Menggulir dengan waktu.

~NR~ catatan dari tanggal 4/7/2013 saat berada di pondok dan merenung.