Monday, July 25, 2016

Kasih Sayang Perempuan, Kasih Sang Ibu, Kasih Tanpa Batas

Maryam Bunda Suci Sang Nabi (2014) karya Sibel Eraslan

Pembaca pasti bertanya-tanya, mengapa gambar sekeranjang buah yang menjadi cover di novel ini? Tentu saja, karena Maryam dapat 'menurunkan' makanan dari langit! Bagaimana bisa? Simak sinopsis bukunya dalam review ini.

Maryam Bunda Suci Sang Nabi merupakan novel yang diterjemahkan dari novelis terkenal asal Turki, Sibel Eraslan. Dalam versi Indonesia yang diterbitkan oleh Penerbit Kaysa Media, novel Maryam terbit sebagai seri terakhir dari seri 4 wanita penghuni surga; Khadijah, Fatimah, Asiyah, dan Maryam. Kisah Maryam dituturkan secara fiksional oleh Merzangus kepada istri wali Romawi yang memimpin sidang penyaliban Nabi Isa.

Bagian Kaf
Hanna, istri Imran dan Al-Isya, istri Zakaria merupakan dua bersaudara yang sama-sama dimakan usia dan malang nasibnya merindukan seorang anak. Saat itu, perpecahan di antara para rahib Al-Quds semakin meruncing. Mayoritas rahib memihak pada wali Roma untuk mendapatkan kepentingan politik. Sudah dua tahun perempuan Yahudi dilarang untuk belajar baca-tulis dan pergi ke masjid.


Ribuan untaian doa Hanna akan seorang anak akhirnya dikabulkan oleh Allah. Ia pun bernadzar bahwa bayi yang dikandungnya akan dia kurbankan untuk Baitul Maqdis. Sudah menjadi kebiasaan bagi penduduk Palestina bahwa anak laki-laki mereka jika sudah mulai tumbuh akan diserahkan untuk mengabdi pada Baitul Maqdis, Al-Aqsa. Hanna bahkan sudah mengundang para dukun bayi yang akan mendaftarkan nama anaknya ke Baitul Maqdis meskipun tidak ada seorang pun yang tahu akan lahir bayi perempuan atau laki-lakikah kelak.

"Tidak mungkin mendapati dua kebahagiaan dalam waktu yang bersamaan, dua musim semi yang datang silih berganti," demikian dikatakan para wanita Palestina pada masa lalu. Benar saja, setelah menerima kabar gembira, Hanna harus tabah atas kepergian suaminya. Ia pun juga harus menerima takdir atas kelahiran bayi perempuannya.

Di tengah kelemahan fisiknya setelah melahirkan di usia yang amat renta, Hanna membawa Maryam yang baru berumur beberapa hari ke Baitul Maqdis. Para penjaga masjid pun gaduh karena perempuan dilarang masuk ke masjid. Dengan bersimpah darah Hanna mengatakan Maryam telah ia kurbankan untuk berada di jalan Allah!

Bagian Ha'
Hak kepengasuhan Maryam selanjutnya dipegang oleh Nabi Zakaria, pamannya sendiri. Setelah genap usia 6 tahun, Maryam mulai benar-benar masuk Baitul Maqdis. Maryam kecil sudah terbiasa berbicara dengan hewan yang ada di jalanan seperti kucing, anjing, atau pun keledai. Hal tersebut kemudian yang tidak menjadikan masalah ketika para rahib jahat berupaya mencelakainya dengan memasukkan singa dan ular ke dalam kamar Maryam di Baitul Maqdis.

Maryam kemudian dibuatkan mihrab khusus oleh Nabi Zakaria di dalam Baitul Maqdis. Tempat itu disegel dengan pintu 7 lapis dan 7 kunci yang hanya bisa diakses oleh Nabi Zakaria. Di dalam mihrab itulah setiap pagi dan  petang Nabi Zakaria keluar atau masuk untuk mengajarkan Maryam kitab-kitab.

Kecerdasannya dalam belajar, kesabaran, keteguhan, dan ketaqwaannya pada Allah di balik mihrab tersebut terpancar dari wajahnya. 4000 santri dan hafiz di Baitul Maqdis yang kesemuanya laki-laki tidak ada yang dapat melampaui kepiawaian Maryam. Maryam pun pandai menulis hattat. Dirinya pernah ditantang untuk menulis hattat di tempat umum tetapi setiap pena yang digunakan akan selalu patah. Ternyata, tangan Maryam dilindungi oleh Allah dari pena haram yang belum dibayar oleh pihak masjid.

Suatu hari di musim paceklik, Nabi Zakaria terkejut mendapati buah-buahan musim dingin yang terhidang di dalam mihrab Maryam. Orang-orang hanya mampu memakan sepotong roti kering dan sebutir zaitun setiap harinya pada saat itu.

"Makanan ini datang dari sisi Allah. Jika menghendaki, Allah akan mampu melimpahkan rezeki yang tak terbatas," ujar Maryam kepada pamannya.

Doa-doa dan kasih sayang Maryam menyebar ke berbagai penjuru dan membuat orang-orang mencintainya. Ia mengunjungi orang sakit, mengusap keningnya dengan air hangat, dan mendoakan kesembuhan untuk mereka. Ia pun juga sangat mengasihi anak yatim.

Suatu hari, Maryam mencuri-curi untuk ikut salat di barisan paling belakang kubah Sahra Suci, tempat bagi perempuan dilarang masuk. Namun, Maryam mendapat hukuman keras dari para rahib. Ia harus dihukum mati karena tindakannya.

Kebiasaan Maryam berdialog dengan malaikat tidak berhenti hingga suatu malam Jibril menjelma sebagai seorang manusia dan memberitakan kepada Maryam bahwa akan lahir seorang bayi laki-laki suci darinya.

"Dia (Maryam) berkata, "Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!" (QS. Maryam: 20)

Bagian Ya'
Posisi Maryam semakin di ujung tanduk. Kandungannya pun semakin besar. Ia akhirnya dibawa keluar dari Baitul Maqdis secara sembunyi-sembunyi oleh Nabi Zakaria. Akan tetapi Maryam harus meneruskan perjalanan sendiri karena semua orang tengah memburunya. Nabi Zakaria berupaya keras menghalang-halangi mereka supaya Maryam berhasil menjauh ke arah barat daya Baitul Maqdis, Betlehem. Dengan kesedihan hatinya karena seorang diri dan kesakitannya yang luar biasa, Maryam melahirkan Nabi Isa seorang diri di bawah sebuah pohon kurma.

Selang 40 hari, Maryam kembali ke al-Quds dengan membawa bayinya. Orang-orang membuntuti Maryam dan bertanya-tanya mengapa ia membawa seorang bayi dan keluar dari al-Quds? Kerumunan orang yang mengikuti Maryam pun kaget karena bayi yang digendong Maryam bisa berbicara adan mengaku sebagai seorang nabi.

Bagian 'Ain
Maryam berhijrah ke Mesir karena diusir penduduk al-Quds. Isa kecil tumbuh di sana sebagai anak lelaki yang kecerdasannya di atas rata-rata. Ia seakan-akan mampu membaca ilham dari Allah Yang Maha Kuasa.  Ia sering kali memecahkan kasus pencurian yang terjadi di masyarakat. Isa dan Maryam merupakan anak dan ibu yang ikatannya tidak dapat dipisahkan.

Bagian Shad
Kota Al-Quds diperintah secara langsung oleh Herodes di bawah kekuasaan Raja Romawi bernama Agustus atau Cesar saat Isa lahir. Isa dan Maryam pun melakukan perjalanan kembali ke tanah asal mereka. Nabi Isa diutus sebagai nabi yang bisa diterima masyarakat melalui kemampuannya dalam melakukan pengobatan dan menyembuhkan penyakit atas izin Allah. Lembah Kegelapan merupakan tujuan Nabi Isa dan Maryam karena di sana banyak orang sakit yang diasingkan.

Kejadian-kejadian luar biasa yang dialami Nabi Isa merupakan tanda-tanda kenabian dari Allah. Nabi Isa bahkan bisa menghidupkan orang mati atas izin Allah supaya orang-orang beriman. Namun, umatnya tetap berkeras hati dan tidak mau mengikuti ajaran Nabi Isa kecuali beberapa hawari yang bisa dihitung jumlahnya.

Dalam perjalanan ke al-Quds, Maryam dan Nabi Isa melewati sebuah kolam bernama Ab-i Hayat. Penduduk di sekitar situ percaya bahwa setiap pagi Hari Raya malaikat akan turun ke kolam sehingga orang-orang yang menderita berbagai macam penyakit, cacat, buta, kusta, mandul, dan gangguan jiwa berbondong-bondong ke Ab-i Hayat untuk memohon kesembuhan.

Nabi Isa yang begitu prihatin melihatnya sehingga mendoakan kesembuhan mereka dan mengajak mereka untuk beriman. Mereka kemudian disuruh pulang ke rumah masing-masing dan membereskan tikar-tikar mereka. Meskipun ketakutan karena hari itu adalah hari Sabat, hari tidak boleh melakukan apapun, mereka tetap pulang dengan perasaan gembira.

Para rahib dan penguasa pun murka. Nabi Isa dianggap sesat karena telah melanggar adat hari Sabat. Mukjizat Nabi Isa yang mampu mengubah segumpal tanah menjadi burung yang terbang pun juga tidak dapat meluluhkan hati mereka. Meskipun hidup jauh dari keterlibatan politik dan duniawi, Nabi Isa dan Maryam tetap mendapat tekanan dari masyarakat dan penguasa.

Nabi Isa dikhianati oleh salah satu hawarinya ketika sedang melakukan perjalanan. Keberadaan Nabi Isa yang tersembunyi kemudian terungkap dan akhirnya ia dijatuhi hukuman mati. Maryam pun pedih mendengar berita anak lelakinya. Namun, ia hanya percaya dari suara hati dan pendengarannya yang tidak dapat dicapai orang lain bahwa Isa, anaknya, telah diangkat ke langit.


Sibel Eraslan menggunakan penuturan khas pendongeng dalam mengisahkan Maryam dan putranya, Isa. Pembaca secara tidak sadar akan diajak berpetualang ke zaman yang jauh dari peradaban modern dan penuh kejahilan. Novel Maryam patut menjadi rekomendasi bagi pembaca yang ingin lebih mengenal Maryam dari penafsiran Al-Qur'an. Di sini juga banyak dikutip ayat-ayat di dalam surah Al-Qur'an yang menggambarkan keagungan dan keteladanan sifat Maryam.

Bagi para pembaca muslimah, buku ini sangat cocok lantaran bisa menjadi salah satu referensi dalam mengembangkan diri melalui sifat-sifat terpuji dari salah satu wanita penghuni surga. Lay-out bukunya pun menarik sehingga pembaca tidak bosan membaca 463 halaman novel. Namun, pembaca terkadang harus membolak-balik halaman yang telah dibaca untuk mengingat-ingat kembali tokoh-tokoh yang diceritakan karena jumlahnya banyak. Karena ini merupakan novel terjemahan, maka terkadang syair-syair yang ada pun terkadang terdengar ganjil dan tidak seindah syair-syair asli dari bahasa Indonesia.
Share:

0 comments: