Tuesday, May 19, 2015

Alasan


Di tengah keterasinganku terhadap diriku sendiri, aku mencoba mengingatkan diriku lagi.

Kau tahu, kau adalah salah satu alasan mengapa aku harus bertahan, kuat, dan tegar. Ya! Karena aku pasti harus lebih bersyukur dengan hidupku yang seperti ini. Aku tidak perlu berjuang hingga berdarah-darah bukan untuk mendapatkan hal yang serupa denganmu? Dan aku tahu pasti kau pasti memahaminya bahkan jika kau pernah merasa iri. Aku pasti akan menyelesaikan ini semua.
Bahwa engkau masih tetap bisa percayaiku. Bahwa aku masih sama kawanmu yang dulu. Bahwa aku masih tidak takut bermimpi seperti beberapa tahun lalu. Bahwa aku pasti menirumu untuk bangkit berulang kali walau sakit dan perih. Bahwa aku akan berniat mengejarmu atau membawamu lari meskipun aku tahu kita akan jatuh ratusan kali. Ingatkah kau tentang aku yang seperti itu?
Aku bahkan merasa asing. Apakah ini tandanya aku yang tak ingat?
Kemarin kita menghadapi hari seperti ketika subuh baru merayap ke bumi. Saat doa-doa dan pengharapan khusyuk didengungkan. Udara pagi penuh akan cita-cita dan rencana yang akan kita lakukan sepanjang hari. Namun, kini kau tahu, saat siang begitu terik kita merasa bahwa kita terlalu lelah untuk melakukan itu semua. Itu terlalu banyak dan waktu kita tidaklah luas. Begitulah kita berdiskusi lewat telepati.
Menurutmu, apa yang akan kau lakukan dengan ini? Aku kehabisan ide. Jangan katakan bahwa kau ingin bersandar di bawah rindang pepohonan dalam situasi seperti ini. Ah, iya, kau ingin. Baiklah. Walaupun aku asing bagi diriku sendiri, setidaknya kau tidak asing bagiku. Kau tahu kan aku suka kupu-kupu?
Tapi, kau mungkin tidak tahu mimpi konyolku adalah menikah dengan lelaki Jogja-an yang bersahaja dan memikat dalam diam di bawah blangkonnya.
Dan kau tahu kan, aku suka sekali terlihat mencolok dengan penampilan yang tidak pernah sederhana?
Jangan tertawa jika ternyata aku pernah cerita.

Kukulum senyum. Pagi itu memang begitu indah hingga mentari tidak lagi hanya seberkas cahaya subuh. Hiduplah hidup. Jangan mati dulu sebelum aku genggam tanganmu meskipun dalam diam atau terpaku.
Share:

0 comments: