Bahkan kali ini aku juga tidak ingin mengujimu. Cukup dengan beberapa kata, "Ah, betapa aku masih ingat rasanya," aku tahu kau akan segera berantakan. Terkadang aku hanya ingin menatapmu, sesederhana itu, dan bukan kepada yang lain. Akuilah bahwa kau telah memilih manusia biasa yang begitu lemah dihadapkan pada naluri berburunya, yaitu aku. Aku dahulu petualang dan kau masih nekat mengajakku membangun istana. Kau bilang aku bisa tinggal dengan nyaman di sana dan kau tidak akan pernah membiarkanku sendirian lagi, kesepian mungkin.
Kau yang menemukanku tercabik karena rasa lelah menghadapi
semua sendirian, berupaya melindungiku. Aku bukannya tidak bisa bangkit. Kata
orang diam berarti iya, tanpa pemberontakan berarti setuju. Namun, tidakkah kau
tahu bahwa tidak akan pernah cukup apapun yang kau berikan jika seekor elang
kau larang terbang. Puaskah memakan seonggok daging yang hanya pasrah dan diam
tanpa adanya sensasi meregang nyawa di ujung-ujung tenggorokanmu? Entahlah. Aku
rasa energiku telah kembali dan aku hampir selalu ingin bertualang lagi.
Namun, aku benci sekali untuk selalu mengujimu lagi dan
lagi. Perasaan ini menjadi lebih sering muncul. Aku tidak ingin melukaimu. Jika
terus terjadi, kau terluka dan aku bersalah, apakah perlahan kita akan mati?
Tanyalah dirimu.




0 comments:
Post a Comment