Tuesday, July 26, 2016

Siapkah Kita Untuk Menikah?






Mereka yang memiliki keinginan untuk memenuhi hakikat hidupnya sebagai manusia sepenuhnya, akan tiba saatnya untuk memutuskan menemukan pasangan hidupnya. Pertanyaannya mungkin bukan lagi mengenai, "Siapkah kita untuk menikah?" tetapi bagaimana "Mempersiapkan diri untuk menikah?"

Seorang perempuan 22 tahun, fresh graduate jurusan Ilmu Hubungan Internasional bertemu dengan calon suaminya yang berusia 25 tahun, seorang pegawai swasta di salah satu PTN Kota Magelang. Bagaimana terbersit kata "menikah" di benak orang-orang yang terhitung masih muda ini?

"Jodoh itu mungkin dekat dan berputar-putar di sekitarmu tanpa kau menyadarinya."

Kami berasal dari almamater yang sama, Universitas Airlangga. Mungkin pepatah yang mengatakan bahwa jodoh kita sesungguhnya dekat dengan kita atau berputar-putar di sekeliling kita tanpa kita sadari benar. Mungkin saja.

Dia adalah kakak angkatan kuliahku yang hanya sekedar kenal karena pernah mengambil mata kuliah yang sama saat semester 5. Saat itu, tidak sedikit pun terpikirkan olehku bahwa aku akan menjadi lebih dekat dengan orang ini.

Dia yang begitu pendiam dan cenderung 'tidak terlihat' sedangkan aku yang termasuk sebagai mahasiswa cukup aktif yang mengikuti beberapa organisasi baik di dalam maupun di luar kampus memiliki dunia yang berbeda. Teringat kata-kata salah satu dosenku, "Blind spot bisa jadi merupakan peluang atau pilihan terbaik yang kita miliki." Tak pernahkah aku berpikir tentang siapakah blind spot-ku? Tentu saja pernah. Akan tetapi, menurutmu, bagaimana mungkin aku bisa menemukan blind spot?

"Persamaan akan menjadi awal yang menyatukan tetapi jangan lengah, perbedaan akan lebih banyak ditemukan kemudian di dalam pernikahan yang sesungguhnya."

Saat itu, aku sedang berada di akhir semester 6 dan dia baru saja lulus sidang skripsi bahkan belum diwisuda dan memperoleh pekerjaan tetap.

"Aku ingin menikahimu," sebuah kata yang tegas dan jelas ia rangkai begitu dalam menelusup ke telingaku. Wajahku memerah semerah kerudung yang kukenakan, begitu katanya setelah kami menikah dan menceritakan ulang kenangan-kenangan pertemuan kami.

"Kau bercanda, Mas?" sontak aku menutup wajahku dengan malu.

"Aku serius, aku ingin menikahimu," jawabnya.

"Tapi.. tapi, aku sama sekali tidak mengenalmu. Begitu pun dirimu, juga tidak tahu apapun tentang aku," aku tergagap.

"Pikirkanlah. Keseriusanku tidak tergoyahkan oleh hal-hal yang kau ungkapkan." jawabnya telak. Membuatku berpikir sejuta kali lagi untuk menjawabnya. Antara bingung harus berkata apa dan mempercayai bahwa pagi ini aku belum bangun dari mimpi.

Tak pernah kuduga bahwa hari-hariku setelah ajakannya untuk menikah denganku tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Pada awalnya aku kegirangan bahwa ternyata di balik punggungku ada seseorang yang memandangku dari kejauhan. Namun, di sisi lain aku pun harus bertanggung jawab atas apa yang telah aku ketahui darinya. Aku mulai kehilangan fokus dan gundah. Orang tuaku bilang bahwa aku harus lulus dulu sebelum menikah. Mereka paling tahu bahwa anak perempuannya paling tidak bisa memikirkan hal-hal besar secara bercabang. Apa yang harus ku lakukan?


Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW bersabda:

"Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia."

(Muttafaq Alaihi dan Imam Lima)

Mitsaqan Ghalidza atau disebut perjanjian yang amat kokoh, yaitu pernikahan. Ya, bagi kami pernikahan merupakan sebuah janji paling suci yang ada di dunia ini. Kata mitsaqan ghalidza bahkan hanya disebutkan 4 kali di dalam Al-Qur'an. Menunjukkan bahwa maknanya begitu dalam dan kuat dalam kehidupan manusia. Upaya untuk melakukannya semata-mata dilakukan karena Allah.

Mengukur Diri

Bukan masalah kami sudah mapan atau belum, siap atau belum. Akan tetapi, bagaimana upaya kami dalam menjemputnya. Sejujurnya, jika menunggu aku lulus dahulu bisa dikatakan pihakkulah yang menunda adanya niatan suci ini. Namun, akulah yang menakar kemampuanku sendiri. Sampai batas itulah aku mampu untuk menjemputnya, insyaallah. Dan dirinya pulalah yang dapat menakar kemampuan dirinya sendiri, mengapa dia berani mengutarakan keinginan untuk menikahiku padahal dari segi finansial dia sama sekali belum mapan? Aku tidak tahu. Lillahi ta'ala.

Di antara keempat kategori perempuan itu, setidaknya aku pasti berada di antaranya walaupun aku tidak tahu dan tidak mau menebak-nebak aku yang mana. Kami sepakat bahwa jika niat yang baik akan diberi jalan oleh Allah, jika tidak maka kami akan dijauhkan dari segala hal yang lebih banyak membawa mudharat.

Menyamakan Visi

Kami kemudian banyak bertukar pikiran mengenai pandangan tentang masa depan. Misalnya, bagaimana pandangan tentang seorang istri yang menjadi wanita karir, bagaimana jika seorang istri menempuh pendidikan lebih tinggi daripada suami dan siapa yang akan menanggung biayanya, bagaimana cara terbaik dalam mendidik anak-anak kelak, bagaimana menjalin hubungan yang tetap erat antara anak (kami) dengan orang tua, di mana tempat yang tepat untuk ditinggali setelah menikah, kapan saja waktu yang harus diluangkan untuk saling berkunjung ke rumah orang tua, bagaimana mengelola uang bulanan, dan sebagainya.

Dari semua hal itu, secara garis besar kami memiliki pandangan yang sama. Yang paling melegakan bagiku adalah bahwa jika dengan segera setelah aku lulus dia menikahiku, aku diijinkan untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang S-2. Entah dengan cara apa dan kapan waktunya, yang jelas menurutnya, tidak ada yang salah dengan menuntut pendidikan tinggi bagi seorang perempuan bahkan lebih tinggi dari suaminya. Hal-hal teknis tidak menjadi kendala berarti selama hal-hal prinsip telah kami pegang dengan kokoh berlandaskan agama.

Jika telah dekat dengan perencanaan pernikahan, sebaiknya tanyakanlah banyak-banyak hal-hal yang mungkin akan dijumpai dalam pernikahan! Ingat, kalian akan hidup bersama selamanya. Namun, jangan bertanya tentang hal-hal tidak wajar dan di luar batas.

Menyiapkan Mental

Pernikahan bukanlah hal sederhana. Kalian harus siap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. Setiap detail kehidupan ketika lajang bisa jadi akan sangat berbeda ketika sudah menikah nanti. Cobalah untuk memikirkan mulai dari hal-hal kecil.

Misalnya, setelah menikah mungkin waktu untuk hang-out bersama sahabat akan berkurang tetapi akan lebih sering di rumah bersama pasangan. Setelah menikah mungkin akan lebih sering bangun pagi dan saling memperhatikan keperluan masing-masing pasangan ketimbang hanya menyiapkan sarapan sekenanya atau menyetrika baju sendiri secara dadakan. Setelah menikah mungkin akan hidup jauh dari orang tua dan tinggal di lingkungan yang sama sekali baru.

Jangan takut. Ini bukan untuk membuat mundur niat untuk menikah. Akan tetapi, ada baiknya memikirkan ini, karena sesiap apapun juga seseorang yang akan menikah, akan selalu ada hal-hal yang terjadi di luar dugaan.Setidaknya dengan mulai memperkirakan hal-hal kecil akan membantu alam bawah sadar untuk lebih cepat beradaptasi kelak.

Kesiapan Finansial

Kemampuan finansial menjadi salah satu tolok ukur bagaimana kehidupan pernikahan akan dapat berlangsung dengan baik. Penulis katakan salah satu karena memang bukan satu-satunya. Akan menjadi lebih ringan untuk perempuan karena ia tidak bertanggung jawab atas nafkah. Akan tetapi akan sangat berbeda dengan laki-laki karena ia adalah calon kepala keluarga.

Samakan pemahaman kalian mengenai siapa yang wajib memenuhi kebutuhan nafkah lahir di dalam keluarga. Pastikan bahwa pihak laki-laki dapat menunjukkan tanggung jawabnya kelak sebagai kepala keluarga. Tidak menutup kemungkinan bahwa pihak perempuan akhirnya juga dapat menjadi sumber penghasilan keluarga.

Di Indonesia, Jawa khususnya, kesiapan finansial yang biasanya menjadi tanggung jawab pihak perempuan adalah pesta pernikahan atau resepsi. Namun, hal tersebut bukan lagi menjadi sesuatu yang rigid dan tabu lagi untuk dibicarakan secara terang-terangan. Kedua belah pihak dapat mendiskusikannya dengan lebih terbuka.

Ada baiknya hal tersebut dibicarakan dalam-dalam karena tidak ada gunanya pesta yang begitu megah jika setelah menikah pasangan pengantin baru tersebut justru harus dikejar hutang. Menikah bukanlah untuk kebahagiaan sehari atau dua hari tetapi mencari kebahagiaan bersama-sama selamanya.


PS: Penulis juga akan me-review sebuah buku tentang pernikahan. Semoga menginspirasi, ya!
Share:

4 comments:

Anonymous said...

usia 22 dan 25 memang bagi sebagian orang tua masih terlalu muda untuk menikah, namun menurut saya sudah cukup umur untuk menikah ;)

Somebody said...

benar sekali mba vety, saya pun pada awalnya takut. di keluarga saya pun kebanyakan yg perempuan menikah di atas 25 th. tapi alhamdulillah hingga skrg ketakutan saya perlahan hilang :D

Destia Prawidya said...

Saya juga sebenarnya ingin sekali bisa menikah muda. Tapi Allah punya rencana indah di balik ini semua. Mungkin saat ini prioritas saya sedang untuk membahagiakan orang tua. Semoga bisa dipertemukan dengan lelaki baik dan benar" serius mengajak menikah. Aamiin :)

Somebody said...

Aamiin semoga mb Destia menemukan orang yang tepat yaa. Ridho orang tua melebihi segalanya mba, jadi insyaallah jika orang tua mb Destia ridho mb Destia untuk bersama orang tua dulu insyallah doa2 berikutnya juga mustajabah ^^