Mereka yang memiliki keinginan untuk memenuhi hakikat
hidupnya sebagai manusia sepenuhnya, akan tiba saatnya untuk memutuskan
menemukan pasangan hidupnya. Pertanyaannya mungkin bukan lagi mengenai,
"Siapkah kita untuk menikah?" tetapi bagaimana "Mempersiapkan
diri untuk menikah?"
Seorang perempuan 22 tahun, fresh graduate jurusan Ilmu
Hubungan Internasional bertemu dengan calon suaminya yang berusia 25 tahun,
seorang pegawai swasta di salah satu PTN Kota Magelang. Bagaimana terbersit
kata "menikah" di benak orang-orang yang terhitung masih muda ini?
"Jodoh itu mungkin dekat dan berputar-putar di sekitarmu tanpa kau menyadarinya."
Kami berasal dari almamater yang sama, Universitas
Airlangga. Mungkin pepatah yang mengatakan bahwa jodoh kita sesungguhnya dekat
dengan kita atau berputar-putar di sekeliling kita tanpa kita sadari benar.
Mungkin saja.
Dia adalah kakak angkatan kuliahku yang hanya sekedar kenal
karena pernah mengambil mata kuliah yang sama saat semester 5. Saat itu, tidak
sedikit pun terpikirkan olehku bahwa aku akan menjadi lebih dekat dengan orang
ini.
Dia yang begitu pendiam dan cenderung 'tidak terlihat'
sedangkan aku yang termasuk sebagai mahasiswa cukup aktif yang mengikuti
beberapa organisasi baik di dalam maupun di luar kampus memiliki dunia yang
berbeda. Teringat kata-kata salah satu dosenku, "Blind spot bisa jadi
merupakan peluang atau pilihan terbaik yang kita miliki." Tak pernahkah
aku berpikir tentang siapakah blind spot-ku? Tentu saja pernah. Akan tetapi,
menurutmu, bagaimana mungkin aku bisa menemukan blind spot?
"Persamaan akan menjadi awal yang menyatukan tetapi jangan lengah, perbedaan akan lebih banyak ditemukan kemudian di dalam pernikahan yang sesungguhnya."
Saat itu, aku sedang berada di akhir semester 6 dan dia baru
saja lulus sidang skripsi bahkan belum diwisuda dan memperoleh pekerjaan tetap.
"Aku ingin menikahimu," sebuah kata yang tegas dan
jelas ia rangkai begitu dalam menelusup ke telingaku. Wajahku memerah semerah
kerudung yang kukenakan, begitu katanya setelah kami menikah dan menceritakan
ulang kenangan-kenangan pertemuan kami.
"Kau bercanda, Mas?" sontak aku menutup wajahku
dengan malu.
"Aku serius, aku ingin menikahimu," jawabnya.
"Tapi.. tapi, aku sama sekali tidak mengenalmu. Begitu
pun dirimu, juga tidak tahu apapun tentang aku," aku tergagap.
"Pikirkanlah. Keseriusanku tidak tergoyahkan oleh
hal-hal yang kau ungkapkan." jawabnya telak. Membuatku berpikir sejuta
kali lagi untuk menjawabnya. Antara bingung harus berkata apa dan mempercayai
bahwa pagi ini aku belum bangun dari mimpi.
Tak pernah kuduga bahwa hari-hariku setelah ajakannya untuk
menikah denganku tidak akan sama lagi seperti sebelumnya. Pada awalnya aku
kegirangan bahwa ternyata di balik punggungku ada seseorang yang memandangku
dari kejauhan. Namun, di sisi lain aku pun harus bertanggung jawab atas apa
yang telah aku ketahui darinya. Aku mulai kehilangan fokus dan gundah. Orang
tuaku bilang bahwa aku harus lulus dulu sebelum menikah. Mereka paling tahu
bahwa anak perempuannya paling tidak bisa memikirkan hal-hal besar secara
bercabang. Apa yang harus ku lakukan?
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW bersabda:
"Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia."
(Muttafaq Alaihi dan Imam Lima)
Mitsaqan Ghalidza atau disebut perjanjian yang amat kokoh,
yaitu pernikahan. Ya, bagi kami pernikahan merupakan sebuah janji paling suci
yang ada di dunia ini. Kata mitsaqan ghalidza bahkan hanya disebutkan 4 kali di
dalam Al-Qur'an. Menunjukkan bahwa maknanya begitu dalam dan kuat dalam
kehidupan manusia. Upaya untuk melakukannya semata-mata dilakukan karena Allah.
Mengukur Diri
Bukan masalah kami sudah mapan atau belum, siap atau belum.
Akan tetapi, bagaimana upaya kami dalam menjemputnya. Sejujurnya, jika menunggu
aku lulus dahulu bisa dikatakan pihakkulah yang menunda adanya niatan suci ini.
Namun, akulah yang menakar kemampuanku sendiri. Sampai batas itulah aku mampu
untuk menjemputnya, insyaallah. Dan dirinya pulalah yang dapat menakar
kemampuan dirinya sendiri, mengapa dia berani mengutarakan keinginan untuk
menikahiku padahal dari segi finansial dia sama sekali belum mapan? Aku tidak
tahu. Lillahi ta'ala.
Di antara keempat kategori perempuan itu, setidaknya aku pasti
berada di antaranya walaupun aku tidak tahu dan tidak mau menebak-nebak aku
yang mana. Kami sepakat bahwa jika niat yang baik akan diberi jalan oleh Allah,
jika tidak maka kami akan dijauhkan dari segala hal yang lebih banyak membawa
mudharat.
Menyamakan Visi
Kami kemudian banyak bertukar pikiran mengenai pandangan
tentang masa depan. Misalnya, bagaimana pandangan tentang seorang istri yang
menjadi wanita karir, bagaimana jika seorang istri menempuh pendidikan lebih
tinggi daripada suami dan siapa yang akan menanggung biayanya, bagaimana cara
terbaik dalam mendidik anak-anak kelak, bagaimana menjalin hubungan yang tetap
erat antara anak (kami) dengan orang tua, di mana tempat yang tepat untuk
ditinggali setelah menikah, kapan saja waktu yang harus diluangkan untuk saling
berkunjung ke rumah orang tua, bagaimana mengelola uang bulanan, dan
sebagainya.
Dari semua hal itu, secara garis besar kami memiliki
pandangan yang sama. Yang paling melegakan bagiku adalah bahwa jika dengan
segera setelah aku lulus dia menikahiku, aku diijinkan untuk melanjutkan
pendidikanku ke jenjang S-2. Entah dengan cara apa dan kapan waktunya, yang
jelas menurutnya, tidak ada yang salah dengan menuntut pendidikan tinggi bagi
seorang perempuan bahkan lebih tinggi dari suaminya. Hal-hal teknis tidak
menjadi kendala berarti selama hal-hal prinsip telah kami pegang dengan kokoh
berlandaskan agama.
Jika telah dekat dengan perencanaan pernikahan, sebaiknya
tanyakanlah banyak-banyak hal-hal yang mungkin akan dijumpai dalam pernikahan!
Ingat, kalian akan hidup bersama selamanya. Namun, jangan bertanya tentang
hal-hal tidak wajar dan di luar batas.
Menyiapkan Mental
Pernikahan bukanlah hal sederhana. Kalian harus siap
terhadap perubahan-perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. Setiap detail kehidupan
ketika lajang bisa jadi akan sangat berbeda ketika sudah menikah nanti. Cobalah
untuk memikirkan mulai dari hal-hal kecil.
Misalnya, setelah menikah mungkin waktu untuk hang-out
bersama sahabat akan berkurang tetapi akan lebih sering di rumah bersama
pasangan. Setelah menikah mungkin akan lebih sering bangun pagi dan saling
memperhatikan keperluan masing-masing pasangan ketimbang hanya menyiapkan
sarapan sekenanya atau menyetrika baju sendiri secara dadakan. Setelah menikah
mungkin akan hidup jauh dari orang tua dan tinggal di lingkungan yang sama
sekali baru.
Jangan takut. Ini bukan untuk membuat mundur niat untuk
menikah. Akan tetapi, ada baiknya memikirkan ini, karena sesiap apapun juga
seseorang yang akan menikah, akan selalu ada hal-hal yang terjadi di luar
dugaan.Setidaknya dengan mulai memperkirakan hal-hal kecil akan membantu alam
bawah sadar untuk lebih cepat beradaptasi kelak.
Kesiapan Finansial
Kemampuan finansial menjadi salah satu tolok ukur bagaimana
kehidupan pernikahan akan dapat berlangsung dengan baik. Penulis katakan salah
satu karena memang bukan satu-satunya. Akan menjadi lebih ringan untuk
perempuan karena ia tidak bertanggung jawab atas nafkah. Akan tetapi akan
sangat berbeda dengan laki-laki karena ia adalah calon kepala keluarga.
Samakan pemahaman kalian mengenai siapa yang wajib memenuhi
kebutuhan nafkah lahir di dalam keluarga. Pastikan bahwa pihak laki-laki dapat
menunjukkan tanggung jawabnya kelak sebagai kepala keluarga. Tidak menutup
kemungkinan bahwa pihak perempuan akhirnya juga dapat menjadi sumber
penghasilan keluarga.
Di Indonesia, Jawa khususnya, kesiapan finansial yang
biasanya menjadi tanggung jawab pihak perempuan adalah pesta pernikahan atau
resepsi. Namun, hal tersebut bukan lagi menjadi sesuatu yang rigid dan tabu
lagi untuk dibicarakan secara terang-terangan. Kedua belah pihak dapat
mendiskusikannya dengan lebih terbuka.
Ada baiknya hal tersebut dibicarakan dalam-dalam karena
tidak ada gunanya pesta yang begitu megah jika setelah menikah pasangan
pengantin baru tersebut justru harus dikejar hutang. Menikah bukanlah untuk
kebahagiaan sehari atau dua hari tetapi mencari kebahagiaan bersama-sama
selamanya.
PS: Penulis juga akan me-review sebuah buku tentang
pernikahan. Semoga menginspirasi, ya!




4 comments:
usia 22 dan 25 memang bagi sebagian orang tua masih terlalu muda untuk menikah, namun menurut saya sudah cukup umur untuk menikah ;)
benar sekali mba vety, saya pun pada awalnya takut. di keluarga saya pun kebanyakan yg perempuan menikah di atas 25 th. tapi alhamdulillah hingga skrg ketakutan saya perlahan hilang :D
Saya juga sebenarnya ingin sekali bisa menikah muda. Tapi Allah punya rencana indah di balik ini semua. Mungkin saat ini prioritas saya sedang untuk membahagiakan orang tua. Semoga bisa dipertemukan dengan lelaki baik dan benar" serius mengajak menikah. Aamiin :)
Aamiin semoga mb Destia menemukan orang yang tepat yaa. Ridho orang tua melebihi segalanya mba, jadi insyaallah jika orang tua mb Destia ridho mb Destia untuk bersama orang tua dulu insyallah doa2 berikutnya juga mustajabah ^^
Post a Comment