![]() |
| Negeri 5 Menara (2012) karya Ahmad Fuadi source: nesca87.wordpress.com |
Menjaring ilmu tidak hanya dilakukan secara alami melalui kehidupan sehari-hari. Ilmu tentang kehidupan telah termaktubkan di dalam kitab-kitab suci yang diwahyukan Tuhan sejak nabi-nabi terdahulu hingga nabi pamungkas, Muhammad SAW, yaitu Al-Quranul Kariim. Memperdalam ilmu agama dan mencari selamat dunia akhirat merupakan buah kesadaran atas manusia yang ingin mengabdi pada Tuhan semata. Perjalanan Alif Fikri dalam menempuh ilmu di pondok pesantren tidak lain merupakan gagasan dari orang tuanya yang melek terhadap agama dan juga ilmu dunia.
Berawal dari keprihatinan sang ibu akan kualitas imam-imam yang ada masa kini, Alif digagas untuk melanjutkan pendidikan ke institusi non formal, yaitu sebuah pondok pesantren. Sang ibu berharap bahwa Alif dapat menjadi imam berkualitas yang dapat memperbaiki kehidupan masyarakat dari sisi dalam dengan pendekatan religi. Masa depan umat manusia dipegang kuncinya oleh para penggerak yang berkemampuan ulung dan berbudi luhur. Ibu Alif melihat bahwa sosok Buya Hamka adalah salah satu referensi yang patut dicetakkan pada pribadi anaknya bahkan sejak Alif masih berusia satu bulan di dalam kandungan.
Namun, keinginan sang ibu mendapat pertentangan dari Alif sendiri.
Alif rupanya telah merangkai cita-citanya untuk meneruskan pendidikan di SMA Bukittinggi bersama karibnya sejak madrasah, Randai. Mereka telah sepakat untuk merangkai janji bergelut dengan dunia pengetahuan bersama di SMA terbaik di Ujungpandang dan menjadi seorang Habibie.
Alif rupanya telah merangkai cita-citanya untuk meneruskan pendidikan di SMA Bukittinggi bersama karibnya sejak madrasah, Randai. Mereka telah sepakat untuk merangkai janji bergelut dengan dunia pengetahuan bersama di SMA terbaik di Ujungpandang dan menjadi seorang Habibie.
Perdebatan sengit antara Alif dan sang ibu diwarnai dengan pertarungan batin oleh Alif. Alif yang merasa sudah cukup mengunyah ilmu agama di bangku madrasah merasa titah ibunya keterlaluan. Baginya anak juga memiliki kehendak yang penting untuk didengar. Sedangkan sisi lain dari hatinya selalu terngiang-ngiang petuah guru mengajinya bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Petuah ini memukul telak Alif untuk terus-menerus mentaati ibunya bahkan seumur hidupnya.
Alif yang diganjal oleh perasaan yang berkecamuk menerima surat dari pamannya di Kairo. Surat tersebut berisi anjuran untuk mengikuti pendidikan di pondok pesantren ternama di Jawa Timur. Paman Alif mendemonstrasikan dalam suratnya bahwa Pondok Madani merupakan pondok modern dengan gaya pembelajaran yang berbeda dengan pondok-pondok pada umumnya, terutama dalam penggunaan bahasa pengantar yang bahasa Inggris dan bahasa Arab. Tanpa piker panjang akhirnya Alif memutuskan untuk meloloskan pilihan ini karena baginya tidak mungkin untuk menolak sedikit pun perintah amak yang sangat teguh pendirian.
Pondok Madani (PM) menyediakan lingkungan menakjubkan. Di atas tanah 10 hektar yang dihuni 3000 murid Alif menemukan 5 sahabat menaranya. Lingkungan PM di-setting menjadi lingkungan untuk para penuntut ilmu yang gigih. Setiap orang tinggal dalam asrama yang setiap kamarnya berisikan 40 orang. Di dalam ruangan ini tercipta sebuah masyarakat kecil yang menyediakan kesempatan bagi setiap orang untuk menjadi imam. Dengan bergantian menjadi imam salat berjamaah dalam satu kamar maka kepribadian pemimpin dibentuk senatural mungkin oleh pondok.
Adaptasi bahasa dilakukan oleh murid baru selama 4 bulan karena bahasa yang legal digunakan dalam segala aktivitas di Pondok Madani hanya bahasa Inggris dan Arab. Setiap murid PM harus mahir berpidato di podium dalam dua bahasa ini. Alif dan kawan-kawannya dicekoki oleh berbagai macam, ilmu tidak hanya agama yang pada awalnya Alif piker demikian.
Setiap penghuni PM adalah orang yang memiliki rutinitas padat, bangun pagi, solat lima waktu, belajar, hapalan, berolahraga, hingga mendalami seni. PM memfasilitasi anak didiknya dengan menyediakan lapangan sepak bola hingga lapangan basket. Kesenian mulai dari musik, teater, dan rupa juga diperhatikan sehingga mereka yang mencintai keindahan tidak akan merasa terabaikan saat memasuki lingkungan santri PM.
Bulan demi bulan dilalui dengan penuh perjuangan dan menemui puncaknya pada akhir semester. Ujian marathon selama 15 hari yang terdiri atas ujian lisan dan tulis menjadi kewajiban yang berat bagi Alif, Raja, Said, Baso, Atang, dan Dul. Namun, jerih payah mereka akhirnya terbayarkan saat mereka dapat memetik hasil di ujung tahun keberadaan mereka di PM.
Melalui wawancaranya dengan Ustad Khalid, salah satu gurunya, Alif belajar tentang ilmu keikhlasan. Iklhas yang selama ini Alif anggap sebagai pemanis bibir dan penghibur hati ternyata ada dan nyata. Di hadapan ustadnya Alif merasa malu untuk melakukan wawancara karena motivasi ingin melihat Sarah, putri ustad Khalid, walau hanya sekilas sedangkan ustad Khalid dengan terang mengatakan bahwa dirinya menggelontorkan seluruh jiwa dan raganya demi PM tanpa menginginkan imbalan sedikit pun. Wawancara singkat Alif dengan ustad Khalid membuat belenggu kebatuan hati Alif perlahan melunak.
Sahibul menara memiliki ikatan erat yang kokoh ibarat menara masjid PM. Di bawah menara PM mereka melukiskan mimpi-mimpi mereka di angkasa menembus fantasi masing-masing. Sayangnya, menginjak tahun terakhir di PM salah satu sahibul menara tidak dapat menyelesaikan ujian akhirnya karena terpanggil untuk segera pulang ke kampung halaman agar dapat berbakti ke sang nenek yang sudah renta. Kepulangan Baso membuat gundah kembali hati Alif. Alif merasa mendapatkan pembenaran untuk melepaskan diri dari PM dan menyusul ujian setingkat SMA seta mengikuti UMPTN. Menjadi Habibie adalah cita-citanya sejak kecil bersama Randai.
Berita kegundahan Alif dan tekadnya yang hampir bulat untuk meninggalkan PM membuat sang ayah terpaksa menyusul Alif ke Jawa Timur untuk menguatkan Alif pada detik-detik terakhir di PM. Sang ayah menjanjikan akan mendaftarkan Alif ujian penyetaraan dan UMPTN setelah meluluskan ujian akhir PM. Alif menyetujui tawaran itu dan membuat komitmen untuk berupaya penuh dalam menghadapi ujian akhir selama 30 hari. Dengan mantra man jadda wajada yang didoktrinkan Kyai Rais semenjak masuk di hari pertama akhirnya Alif berhasil menamatkan masa belajarnya di pondok selama 4 tahun.
Tumbuh menjadi manusia dewasa, tanpa disangka tiga sahibul menara melakukan reuni di kota London Satu per satu takdir terkuak dan setiap orang telah menemui benuanya, dunianya. Sahibul menara tersebar di berbagai belahan dunia yang diimpikannya dan masih terus-menerus merangkai hidup.
Novel negeri 5 menara yang menceritakan tentang perjalanan hidup 6 orang pembelajar yang gigih merupakan sumber motivasi dan alat pemacu bagi mereka yang loyo dan semangatnya memudar. Gaya bahasa yang digunakan oleh penulis ringan dan tidak berbelit-belit walupun pada baba-bab awal novel ini membosankan. Hal ini mungkin terjadi akibat penulis melakukan tindakan deskriptif dan ilustratif di bagian pendahuluan supaya pembaca tidak kebingungan.
Pengenalan tokoh dilakukan dengan baik oleh penulis. Karakter yang tercipta juga jelas dan ceritanya padat. Gaya penulis yang bisa ditandai adalah kegemarannya melakukan pengulangan beberapa potongan cerita seperti menyebutkan “..Sarah putri ustad Khalid..”, “..Sarah putri ustad Khalid..”, dan sebagainya agar pembaca tidak kesulitan untuk mengingat bagaimana jalan cerita dan posisi tokoh karena memang tokoh yang hadir banyak. Dengan membaca novel ini insyaallah, man jadda wajada, setiap orang yang bermalas-malasan akan terbangun dan malu untuk berpangku tangan dalam hiruk pikuk dunia. Negeri 5 Menara dapat dijadikan salah satu sumber bacaan yang menggugah terutama bagi pembaca yang mendambakan bacaan ringan tetapi berbobot.




0 comments:
Post a Comment