Saturday, February 12, 2022

The Busy World, Isn't It Your Illusion? Slow Down

I try to restart my own project, making book review. Although it's kinda different than the usual review, I feel okay. 
Shot by: nurrohma (no permission to copy/edit)
  • Title: The Things You Can See Only When You Slow Down
  • Author: Haemin Sunim 
  • Year: 2012
  • Language: originally Korean, but I read English one
  • Interest: this book has a lot of beautiful illustration
1. “The world moves fast, but that doesn’t mean we have to.” p.15
Buku ini mengajak kita untuk berpikir ulang, benarkah dunia benar-benar sibuk hingga kita tertinggal? Atau mungkin itu hanya perasaan kita saja?
Aku sendiri pun berpikir kalau benar juga apa yang dikatakannya. Maksudku, dunia dengan miliaran orang dibandingkan denganku? Tidak adil! Aku hanya seorang yang sering kali membutuhkan jeda, sementara dunia tersusun atas orang-orang yang berjalan saling menggantikan atau melengkapi. Mengapa tak menjadi bagiannya? Mengapa memperbandingkan? Mengapa lepas darinya? Nikmati waktumu.

2. “The wave of emotion will naturally recede on its own as long as you don’t feed it by dwelling on it.” p.16
Perasaan campur aduk, amarah yang memuncak, hingga kesedihan adalah sesuatu yang sementara. Sebelum menumpahkannya pada orang lain ataupun memanifestasikan kepada tindakan yang kurang baik, sebaiknya coba pelajari apa yang sesungguhnya kita rasakan. Cari tahu penyebabnya, apakah itu nyata atau hanya bayangan kita? 

3. “Do memories cause you pain? Practice being in the present moment. Because memories are, in essence, thoughts.” p.19
Aku sering kali mengingat hal-hal pedih di masa lalu, hingga buku ini menohokku.

4. “Pat yourself on the back for the hard work you are doing. Then go to bed one hour earlier as a gift to your body.” p.35
Aku tidak pernah melakukan ini. Kubiarkan diriku tidur dengan pikiran-pikiran yang tak selesai. Ini adalah buku kedua yang memintaku menyayangi diriku sendiri dengan sangat menyentuh (buku yang pertama aku spill kemudian, ya). Tidur lebih awal dengan afirmasi sebagai hadiah setelah seharian bekerja keras dengan tidak mengatakan apapun kepada diri sendiri ternyata rasanya sungguh berbeda. Ada kepuasan tersendiri dan perasaan hangat yang mengalir di dalam diri.

5. “The most dangerous people are those who have passion but lack wisdom.” p.82
Penting untuk bekerja keras, tetapi jangan merasa tergoda pada ‘perasaan’ bekerja keras. Kita akan lebih peduli pada ‘terlihat bekerja keras’ daripada bekerja yang sesungguhnya.
 
6. “Leaving the room before the bridge is burned is a sign of maturity.” p.115
Sebelum emosi menenggelamkan dan menggelapkan pikiranmu, tinggalkan. Semua akan redam dengan sendirinya dan kau tidak akan menyesali tindakanmu saat kau dikendalikan oleh emosi.

7. “Do I want to live as a victim forever?” p.125
  • Buatlah tekat untuk berubah, melupakan, pergi, memulai hal baru, dsb. Kepalamu akan yakin, tetapi hatimu pasti berat. Tak apa, tetaplah beranjak meski harus merangkak.
  • Kunjungi lagi perasaanmu yang ingin kau ubah/tinggalkan. Beri kesempatan mereka untuk mengekspresikan diri. Apakah kau menangis, ototmu tegang, atau jantungmu berdetak tidak beraturan?
  • Biarkan semua yang kau rasakan benar-benar terasa hingga mereda perlahan.
  • Setelah reda, coba amati, apakah yang tinggal di dalam hatimu ketakutan, kesedihan, rasa malu, kesendirian atau yang lain? Bagaimana kalau coba meresponsnya dengan cara yang lain dan dengan tepat? Lakukan hal baru untuk kesepian, beri serimonial untuk kesedihan, dsb. Lama-lama kau akan memandang mereka dengan tersenyum.
8. “When someone does not like us, it is not our problem but theirs.” p.189
Jangan biarkan opini orang lain menentukan siapa dirimu. Mungkin kalau dalam ilmu sosiologi, ini erat kaitannya dengan labelling theory, yakni seseorang menjadi sesuatu karena orang lain melabeli dia dengan sesuatu. Seorang anak menjadi nakal bukan karena memang ia nakal, tetapi karena orang tuanya sering memanggilnya sebagai anak nakal.

9. “A cruel irony: The reward for someone who works hard is more work.” p.198
Aku ngga punya kata-kata apapun karena terlalu jelas?

10. “Do not turn down too many opportunities. If you insist you need more preparation, you may not be invited again when you finally feel ready.” p.214
Percaya ato ngga, ini mulai berlaku ke aku waktu aku dilamar mas reza. Kalo ditanya kok bisa siap nikah/kok bisa nerima lamaran orang lain? Aku ngga punya jawaban, kecuali, “Kalo nunggu siap, kita ngga akan siap sampe kapan pun.”

11. "Downcast and heartbroken, I know you were once me and I once you. So today, I pray for you.” p.27
The most touching part of this book. I almost cried read it in a public space.

12. “Bring all of your awareness into the present and take a deep breath. What do you hear? What does your body feel? What does the sky look like? Only when we slow down can we finally see clearly our relationships, our thoughts, our pain.”
Saat kita mencoba melihat segalanya dengan saksama, lebih dekat, maka perlahan kita akan terlepas dari perasaan yang menghantui. Bahwa sebenarnya kita hidup di masa kini. Bahwa sebenarnya kita hidup bukan atas kata orang lain. Dan bahwa sebenarnya cara hidup kita adalah atas kehendak diri kita sendiri.
Share:

0 comments: