Saturday, May 14, 2022

Apa yang harus aku lakukan?

Benar, aku sekarang ragu aku bisa terbang tinggi
Benar, aku sekarang ragu aku bisa menembus langit
Apa yang aku lakukan seakan semua berlawanan dengan takdirku

Aku sudah mencoba segala hal untuk mengembalikan semua pada keadaan semula
Aku sudah mencoba semua supaya segalanya tidak memburuk
Tetapi yang aku dapat harapanku semakin menjauh

Aku tidak tahu sampai kapan aku akan bertahan
Aku tidak tahu apakah aku masih bisa hidup dengan menenangkan diriku
Aku sendiri pun telah lelah

Aku bahkan sudah tidak bisa bertanya lagi apa yang aku cari
Yang aku tanyakan adalah apa alasan untuk aku hidup setiap harinya
Dan bagaimana aku menghadapi hari ini dan hari esok?

Itu pun jika masih ada
Apa yang harus aku lakukan?

Sunday, March 27, 2022

Hey, Myself

Hey, myself. Don't you know that your soul is beautiful? You have lost your confidence cause you feel like a failure after you speak justice and helping others. You've lost almost everything you had. You're so innocent and pure. I can never leave you to remember your sincerity. But, I was just an antipole of my words.

Do you hate me?

I wish that you still love me although I've tough to you. I just want you to know that I am not rude. I am no cruel either. This is the way I've been taught for decades. I am the same, as clueless as you. 

Do you feel heartbroken?

I am the one who should hug you, but I am lost in the darkness. The sadness drowns me away. I am sorry to push you up and not understanding. I thought that you should be ignored, since I don't feel like I belong to you.

Do you feel lonely?

I should've known that you miss me and ask me for help. I should've known that I am lost without you.

I am sorry for everything. Starting all over again?

Segala yang Biasa

16 Maret 2022

Apakah orang-orang sepertiku benar-benar menjalani hidupnya sepenuh hati dan pikiran mereka? Apakah mereka tidak kewalahan memiliki dunia paralel dan berusaha menjalaninya dengan baik pada keduanya? Apakah aku aneh?

Aku mengalami mimpi-mimpi yang terasa nyata dan tidak bisa aku lepaskan dari kepalaku selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Perasaanku saat itu, hingga aku bangun, masih tertinggal. Emosi yang hadir, masih bisa aku rasakan hingga berhari-hari kemudian. Apakah aku normal?

Aku masih ingat bagaimana deburan ombak terasa menghanyutkan dari tepi pantai. Jejak kakiku di pasir pantai dan wajahku yang tersapu air laut, aku masih ingat bagaimana rasanya.

Aku menyusuri perbukitan yang berwarna biru kehijauan. Aku kesulitan mengayuh sepedaku karena tenagaku tidak sebegitu besarnya, seperti biasa. Namun, aku mampu melaluinya dan aku bahagia bisa menaklukkan bukit itu.

Aku menyusuri hutan, perbukitan, sungai, perkemahan yang semuanya berwarna coklat kehijauan. Aku seperti kembali lagi pada masa-masa remajaku. Mimpi ini begitu acak, hingga aku bisa sampai di pusat perkotaan yang tidak ramai sama sekali. Bangunan menjulang tinggi dan runcing-runcing. Semuanya berwarna biru keabuan. 

Ah, besok aku akan bertemu terapisku. Akan kutanyakan mengapa aku menulis ini dengan menangis.

Monday, February 21, 2022

Aku yang Belum Pernah Mencinta

Aku telah berada di tempat yang tepat. Aku bisa mendapatkan segala yang kuinginkan. Aku dapat mengambil setiap kesempatan dan menghadapi tantangan di depan mataku. Aku selalu berpikir setiap orang jika mau, pasti akan berada di tempatku kini. Tidak pernah terpikirkan apapun, kecuali bahwa semuanya aku terima dengan cuma-cuma.

Aku yang polos bersinar di mataku saat ini, yang aku tidak pernah sadari bahwa itu kulakukan karena perjuanganku. Aku seakan menerimanya tanpa ada yang kulakukan. Aku tidak pernah mengatakan terima kasih pada diriku dan mengatakan aku hebat telah meraih segalanya yang bisa kuraih. 

Aku tidak pernah menjaga perasaanku untuk tidak bertindak di luar batas kepada diriku. Kini, saat aku menyadari bahwa ada rasa kantuk yang tidak aku puaskan dan malam-malam panjang yang seakan terasa sekejap mata, aku telah kehilangan kecemerlanganku. Yang tersisa hanya perasaan tidak berguna dan rendah diri memandang kepalaku tergeletak bersama pikiranku yang tak utuh.

Aku berada pada titik kesadaran paling dalamku hingga histeria tidak mampu memuaskan kengerianku atas semua yang hilang. Aku tak mengerti cinta, bagaimana aku mencintai diriku dan mencintai orang lain. Aku tidak pernah memberikannya bahkan pada diriku sendiri. 

Aku tidak pernah mencintainya tanpa melihatnya membuktikan sesuatu yang dengan susah payah ia dapat. Aku juga tidak pernah memberikan cintaku cuma-cuma pada orang lain, kecuali ia menukarnya dengan suauatu yang menyenangkan dengan milikku. Bagaimana aku percaya orang lain mencintaiku? Aku tidak pernah belajar mencintai tanpa syarat.

Segala hal yang kujalani dan kubangun hampir 28 tahun runtuh dalam sekejap. Sudut mataku semakin mengecil karena menahan air mata yang keluar setiap harinya. Badanku lelah untuk mengatakan aku bisa melakukan semuanya seperti biasanya. Tidak akan ada yang berubah setelah ratusan tikaman yang aku rasakan dalam waktu sekejap. Kebahagiaan dan pencapaianku tentunya lebih banyak. Bukankah itu dapat menghiburku?

Tidak jika ternyata aku bahkan sudah tidak bisa memanggil memoriku satu per satu. Kepalaku kosong dan hatiku hampa. Diriku seperti kaleng biskuit yang telah habis dan diisi oleh keripik ketela yang sering dilakukan oleh nenekku. Bahkan kini, keripik ketela yang tidak selalu aku sukai itu habis atau tersisa dan membusuk yang kemudian harus dibuang. Apa yang tersisa dari diriku? Bisakah aku berbangga jika bisa menampung lebih banyak rasa dari orang lain dan merasakan hidup mereka alih-alih perasaan dan hidupku sendiri?

Hampir segala hal yang aku jalani selama puluhan tahun dalam hidupku hilang begitu saja dan tidak membekas. Aku kembali pada titik aku tidak dapat menerima semua ini, sama halnya saat kualami di awal 20-an. Upaya yang kulakukan untuk menerimanya hancur. Untuk apa aku terima jika selama ini hidup itu, pengalaman itu, pencapaian itu, semua tidak aku lakukan atas kehendakku? Untuk apa aku mengingatnya? Maka dari itu aku melupakannya begitu saja.

Namun, benar saja. Jiwaku yang terbebas terasa kosong dan aku merasa seperti tertinggal mengisi jiwaku daripada yang lain. Jauh di lubuk hatiku, aku bertanya-tanya, aku siapa? Aku tak memliki kepercayaan diri sedikit pun untuk mengatakan siapa aku karena yang kuingat hanya hal-hal buruk. 

Bagaimana aku harus belajar mencinta? Orang lain sudah selesai dan menerima apabila cinta mereka tak seperti gayung bersambut. Aku bahkan seperti bayi yang langsung menangis saat mengintip cahaya yang begitu terang. Bagaimana bisa aku mencintai dengan segala hal yang asing dan tidak aku ketahui?

Aku berharap bisa mencintai diriku lebih tulus saat itu.

Saturday, February 12, 2022

The Busy World, Isn't It Your Illusion? Slow Down

I try to restart my own project, making book review. Although it's kinda different than the usual review, I feel okay. 
Shot by: nurrohma (no permission to copy/edit)
  • Title: The Things You Can See Only When You Slow Down
  • Author: Haemin Sunim 
  • Year: 2012
  • Language: originally Korean, but I read English one
  • Interest: this book has a lot of beautiful illustration
1. “The world moves fast, but that doesn’t mean we have to.” p.15
Buku ini mengajak kita untuk berpikir ulang, benarkah dunia benar-benar sibuk hingga kita tertinggal? Atau mungkin itu hanya perasaan kita saja?
Aku sendiri pun berpikir kalau benar juga apa yang dikatakannya. Maksudku, dunia dengan miliaran orang dibandingkan denganku? Tidak adil! Aku hanya seorang yang sering kali membutuhkan jeda, sementara dunia tersusun atas orang-orang yang berjalan saling menggantikan atau melengkapi. Mengapa tak menjadi bagiannya? Mengapa memperbandingkan? Mengapa lepas darinya? Nikmati waktumu.

2. “The wave of emotion will naturally recede on its own as long as you don’t feed it by dwelling on it.” p.16
Perasaan campur aduk, amarah yang memuncak, hingga kesedihan adalah sesuatu yang sementara. Sebelum menumpahkannya pada orang lain ataupun memanifestasikan kepada tindakan yang kurang baik, sebaiknya coba pelajari apa yang sesungguhnya kita rasakan. Cari tahu penyebabnya, apakah itu nyata atau hanya bayangan kita? 

3. “Do memories cause you pain? Practice being in the present moment. Because memories are, in essence, thoughts.” p.19
Aku sering kali mengingat hal-hal pedih di masa lalu, hingga buku ini menohokku.

4. “Pat yourself on the back for the hard work you are doing. Then go to bed one hour earlier as a gift to your body.” p.35
Aku tidak pernah melakukan ini. Kubiarkan diriku tidur dengan pikiran-pikiran yang tak selesai. Ini adalah buku kedua yang memintaku menyayangi diriku sendiri dengan sangat menyentuh (buku yang pertama aku spill kemudian, ya). Tidur lebih awal dengan afirmasi sebagai hadiah setelah seharian bekerja keras dengan tidak mengatakan apapun kepada diri sendiri ternyata rasanya sungguh berbeda. Ada kepuasan tersendiri dan perasaan hangat yang mengalir di dalam diri.

5. “The most dangerous people are those who have passion but lack wisdom.” p.82
Penting untuk bekerja keras, tetapi jangan merasa tergoda pada ‘perasaan’ bekerja keras. Kita akan lebih peduli pada ‘terlihat bekerja keras’ daripada bekerja yang sesungguhnya.
 
6. “Leaving the room before the bridge is burned is a sign of maturity.” p.115
Sebelum emosi menenggelamkan dan menggelapkan pikiranmu, tinggalkan. Semua akan redam dengan sendirinya dan kau tidak akan menyesali tindakanmu saat kau dikendalikan oleh emosi.

7. “Do I want to live as a victim forever?” p.125
  • Buatlah tekat untuk berubah, melupakan, pergi, memulai hal baru, dsb. Kepalamu akan yakin, tetapi hatimu pasti berat. Tak apa, tetaplah beranjak meski harus merangkak.
  • Kunjungi lagi perasaanmu yang ingin kau ubah/tinggalkan. Beri kesempatan mereka untuk mengekspresikan diri. Apakah kau menangis, ototmu tegang, atau jantungmu berdetak tidak beraturan?
  • Biarkan semua yang kau rasakan benar-benar terasa hingga mereda perlahan.
  • Setelah reda, coba amati, apakah yang tinggal di dalam hatimu ketakutan, kesedihan, rasa malu, kesendirian atau yang lain? Bagaimana kalau coba meresponsnya dengan cara yang lain dan dengan tepat? Lakukan hal baru untuk kesepian, beri serimonial untuk kesedihan, dsb. Lama-lama kau akan memandang mereka dengan tersenyum.
8. “When someone does not like us, it is not our problem but theirs.” p.189
Jangan biarkan opini orang lain menentukan siapa dirimu. Mungkin kalau dalam ilmu sosiologi, ini erat kaitannya dengan labelling theory, yakni seseorang menjadi sesuatu karena orang lain melabeli dia dengan sesuatu. Seorang anak menjadi nakal bukan karena memang ia nakal, tetapi karena orang tuanya sering memanggilnya sebagai anak nakal.

9. “A cruel irony: The reward for someone who works hard is more work.” p.198
Aku ngga punya kata-kata apapun karena terlalu jelas?

10. “Do not turn down too many opportunities. If you insist you need more preparation, you may not be invited again when you finally feel ready.” p.214
Percaya ato ngga, ini mulai berlaku ke aku waktu aku dilamar mas reza. Kalo ditanya kok bisa siap nikah/kok bisa nerima lamaran orang lain? Aku ngga punya jawaban, kecuali, “Kalo nunggu siap, kita ngga akan siap sampe kapan pun.”

11. "Downcast and heartbroken, I know you were once me and I once you. So today, I pray for you.” p.27
The most touching part of this book. I almost cried read it in a public space.

12. “Bring all of your awareness into the present and take a deep breath. What do you hear? What does your body feel? What does the sky look like? Only when we slow down can we finally see clearly our relationships, our thoughts, our pain.”
Saat kita mencoba melihat segalanya dengan saksama, lebih dekat, maka perlahan kita akan terlepas dari perasaan yang menghantui. Bahwa sebenarnya kita hidup di masa kini. Bahwa sebenarnya kita hidup bukan atas kata orang lain. Dan bahwa sebenarnya cara hidup kita adalah atas kehendak diri kita sendiri.

Friday, February 11, 2022

Waktuku Sendiri

Ada beberapa hal yang sulit untuk tidak aku sesalkan meskipun terdengar tidak masuk akal. Waktu yang kuhabiskan tanpamu.

Tidak masuk akal jika aku merasa kau tidak ada. Nyatanya aku terus berada dalam pikiranmu. Namun, mengapa aku merasa kosong dan seperti memiliki duniaku sendiri saat kau tak di sisiku?

Apakah aku benar-benar telah memisahkan antara diri ini dengan dirimu? Kata orang cinta tidak mengenal batas ruang dan waktu, tetapi mengapa saat kau tidak nyata bisa aku rengkuh, aku merasa semua tidak bermakna?

Aku benar-benar merasa menyusuri ruang yang redup, meskipun udara terasa sejuk. Tidak ada kau bukan berarti semua tidak baik-baik saja. Justru aku merasa aneh, saat tidak ada kau aku menjelma menjadi 'aku' yang lain. Bagaimana bisa aku berbahagia dan menikmati waktu tanpa dirimu?

Bukankah ini terdengar seperti pelarian?

Tuesday, February 1, 2022

Orang Kecil yang Bersimpuh


Hari ini aku terbangun dengan perasaan agak enggan untuk beranjak keluar dan menemui orang lain, meskipun aku memiliki janji penting. Aku telah membuat reservasi dengan salon khusus wanita. Satu hal yang membuatku yakin untuk berangkat adalah saat aku memikirkan pegawai salon yang telah membuat plot jadwal reservasiku dan memplot stylish untuk keperluanku. Meski aku tahu jika kubatalkan, mereka tak rugi secara material, tetapi aku tidak sampai hati membiarkan mereka memiliki ekspektasi yang baik tentang hari ini. Aku mungkin akan merusak hari beberapa orang jika tidak datang. Atau, mungkin mereka sudah biasa?

Dalam 2 bulan ini aku intens menjalani perawatan di salon khusus wanita. Terhitung hingga hari ini aku sudah 4 kali melakukan perawatan, 2 kali bersama teman dan 2 kali aku datang sendiri. Aku yang biasanya sangat enggan pergi sendiri, pada akhirnya mengambil keberanian untuk mengambil langkah pertama yang aku pikir akan membuatku nyaman. Pada hari ini aku datangi sebuah salon yang sama sekali asing dan tidak pernah kuketahui sebelumnya. Setelah memasuki pintu masuk, beberapa keganjilan kurasakan, seperti para pegawai yang sudah bukan lagi tampak seperti anak muda yang biasanya memberikan pelayanan di front office. Namun, masih cukup normal dengan keramahan dan kesigapannya melayani pelanggan yang baru sekitar 3 orang karena aku datang ketika salon baru dibuka pukul 9.

Ruang perawatan tampak sangat teduh dengan pencahayaan yang tidak begitu terang. Nuansa hijau dipilih sebagai identitas dan branding. Terdapat 2 water wall di belakang kursi perawatan, tetapi tidak semua pelanggan bisa dapat pemandangan water wall yang terpantul melalui cermin di depan kursi pelanggan karena kursi pelanggan berderet sekitar 7-9 buah. Aku sebagai pelanggan pertama langsung memilih duduk di kursi yang memiliki pemandangan water wall itu.

Sekitar 1 jam perawatan pelanggan sudah bertambah hingga 2 kali lipat. Seorang pelanggan di seberangku sepertinya sedang melakukan perawatan kaki karena aku bisa melihat pihak salon sedang duduk di kursi pendek dan memijat kakinya, meskipun aku dan pelanggan itu terhalang cermin di depan kami. Selesai perawatan, pelayan menyampaikan bahwa perawatan selesai menggunakan Bahasa Jawa Krama Inggil (Bahasa Jawa dengan tingkatan paling tinggi).

"Bu, niki perawatanipun sampun nggih."
(Bu, ini perawatannya sudah ya.)

Namun, aku tidak dapat mendengar suara pelanggan tersebut, aku hanya bisa melirik jika pelayan itu kebingungan karena sepertinya ada yang belum dia selesaikan.

"Oh, niki dereng nggih. Kurang pendek, nggih?"
(Oh, ini belum ya. Kurang pendek, ya?)

Dia seperti bermonolog, tetapi aku bisa menyimpulkan kalau sebenarnya ada dialog yang tidak terdengar olehku.

"Kalau gitu saya potong lagi kukunya, nggih Bu."

Aku menangkap bahwa kuku pelanggan yang tadi sudah dipotong dan dibersihkan masih belum sesuai dengan permintaan atau selera pelanggan. Mengetahui situasi itu, sebagai pelanggan aku mengerti rasanya ingin mendapatkan pelayanan prima. Namun, sebagai sesama manusia, aku sungguh tidak tega melihat pelayan itu bersimpuh di bawah orang yang menyewa jasanya demi mendapatkan gaji senilai UMR Jogja. Sungguh, aku tak dapat menahan kegelisahan dalam hatiku, membayangkan ketika aku sendiri dihadapkan pada situasi sebagai pelayan dan kukira semua berjalan mudah, tetapi kenyataannya hidup sering kali keras kepada mereka yang tak memiliki senjata untuk sekadar berbicara mengenai isi hati dan pikiran mereka.

Aku hanya mampu berdoa semoga para pelayan ini mendapatkan upah yang layak dari atasan mereka, diberikan perlindungan, dan jaminan kerja. Tak ada lagi yang bisa kubantu saat itu, tetapi pengalamanku yang tidak lebih dari semenit itu begitu membekas di dalam hatiku. Aku rasa aku perlahan belajar untuk menerima. Setidak sesuai apapun kenyataan dengan keinginanku, aku coba pikirkan bagaimana perasaan orang lain. Kita bisa komunikasikan dengan jelas di awal hingga proses, alih-alih di akhir. Jika sudah dilakukan tetapi tak menghasilkan apapun, sudah. Itu kuasa Allah Swt. Manusia mulia karena bersabar. Orang lain yang berbuat tak sesuai kehendak hati, itu urusan mereka.

Thursday, January 27, 2022

Apa yang Terukur dan Apa yang Tidak Kita Ketahui

Aku tidak tahu apakah dunia lebih banyak membicarakan kehilangan yang tidak terselesaikan atau kesedihan yang berhasil dihadapi meskipun tidak selalu sebahagia cerita dalam dongeng.

Aku terobsesi dengan angka-angka untuk memvalidasi bahwa perasaanku tidak lebih besar atau lebih besar kepada orang lain untuk meyakini siapa yang menang atau kalah. Bagiku cinta tidak semudah memberikan segalanya dan bahagia bersama. Aku merasa tidak mengenalnya.

Memangnya kenapa jika orang lebih banyak membicarakan kehilangan dan tidak selesainya urusan? Setelah kudengar dan bahkan mungkin kusaksikan sendiri, apakah akan kubawa tidur hingga bangun esok hari? Akankah ini mengubah rasa kehilanganku pada orang lain atau bahkan diriku sendiri?

Memangnya kenapa jika orang telah cukup banyak membicarakan kesedihan yang telah ditaklukkan oleh dua sejoli hingga menjalani kehidupan sebagaimana mestinya seperti orang lain? Apakah ini akan meningkatkan kecintaanku pada orang yang selalu menggenggam tanganku di atas ataupun di bawah diriku di mata dunia? Akanakah ini justru menjadi memoar pahit yang tidak ingin aku jalani?

Memangnya kenapa dan apa perlunya? 

Puluhan tahun ini aku jalani dengan menghayati kisah orang lain seakan aku sendiri adalah pelakunya. Aku tidak tahu apakah aku hidup dalam bayang-bayang atau memang aku selalu suka mendramatisasi segala sesuatu supaya terlihat menarik di mata orang lain. 

Bukan hal yang asing jika aku terbangun dengan perasaan terlampau senang karena aku bermimpi telah pindah rumah dan memiliki peternakan sapi atau kuda berhektar-hektar luasnya. Bukan pula hal yang tidak aku kenali jika aku bisa berhari-hari sedih atau mengalami suasana hati yang buruk hingga sangat buruk karena bermimpi kehilangan sesuatu, bertengkar dengan orang lain, atau menyadari mimpi indah yang tidak dapat aku raih. 

Kapankah aku hidup di masa kini? Itulah hal yang membuatku menulis tulisanku malam ini. Aku jarang bisa menjawab pertanyaan sederhana tanpa berpikir panjang ke depan dan belakang atau memberikan pertanyaan balasan untuk memastikan bahwa jawabanku akan menciptakan keamanan pada diriku.

Oleh karenanya, jika satu cerita lebih banyak dinarasikan daripada yang lain, apa hubungannya denganku? Aku hanya akan bertanya-tanya, di antara sesuatu yang faktual, di manakah tempatku dan kecenderunganku, sehingga aku ingin menilai (atau menghakimi?) diriku dan posisiku di antara orang-orang. 

Apakah aku cukup jarang? Apakah aku cukup unik? Apakah aku memiliki keistimewaan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin muncul karena aku kehilangan sebagian besar diriku yang kuyakini selama ini ada dan kukenal dengan baik. Nyatanya, aku seperti menjalani takdir orang lain.

Aku bahkan tidak tahu apakah kepalaku terisi oleh kenangan dan pemikiran orang lain atau milikku sendiri. Aku kebingungan dalam melakukan sesuatu, untuk siapa ini kulakan dan perlukah kuperjuangkan? Semua terasa membingungkan dan aku kehilangan arah.

Terkadang aku ingin mendengarkan cerita-cerita masa kecilku, mengenai aku yang bahagia dan memiliki banyak mimpi. Namun, penyimpan memori itu kupahami kini tak ubahnya orang biasa menghadapi anak kecil dengan selalu ceria, yang kutahu sekarang adalah kebohongan. Yang kutahu sekarang mereka bisa menyerang. Namun, penyimpan memori itu kini perlahan memudar ingatannya dan menghilang dari penglihatanku tanpa aku sempat mengucapkan perpisahan atau bahkan aku sempat menerima kata perpisahan dari mereka. 

Panggilan yang tidak terjawab, pesan yang diketik secara tidak teratur karena gawai yang tidak sesuai dengan kapasitas pemiliknya, tuntutan dan tuntunan yang tersimpan di dalam otakku setelah berinteraksi selama puluhan tahun, semua membuat dadaku pernah sesak dan tidak terima. Aku tidak bisa mengakui begitu saja bahwa kegelapan mampu menenggelamkan wajah yang paling bersinar sekalipun. Aku sulit mengakui bahwa orang-orang yang kasih sayangnya sempurna pun memiliki keinginan yang dapat menyakiti.


Tuesday, October 26, 2021

Once at a time, everything will be in the right place

I send this flowers to the beautiful soul lies in me
Thanking her for blooming in the right time
Loving her for keeping her head up during the hardest time
Hugging her soul since it is the only one who understands her
Telling her everything's gonna be okay though the thunder and storm inside her is still beating
You are awesome
You are doing great
Once at a time, everything will be in the right place

Sunday, October 17, 2021

The Hate I Had

Since I felt betrayed in social relations, the anxious feeling to meet people was indescribable. I lost my energy to do almost everything related to people.


I hate small talks. I hate faking smile. I hate to perform perfectly in stage. I hate to speak fluently in academics during my brain lag. I hate managing event that held satisfyingly. I hate to post materials and learning videos during my episodes. I hate to check others' presence as if I am there too at the present.

I hate to think that people think I am okay. I hate to fake my presence. I hate to force my brain to tune in. I hate to participate in group conversation and tasks. I hate to listen to people noise and conversation. I hate to be surrounded by many people. I hate to attend social gatherings. I hate to meet people I know. I hate to answer any question in the air.

I hate to spread positive vibes in any occasion from my depression cave. I hate to keep myself awake during the day and being productive. I hate to criticize any social dysfunction while I am the dysfunctional itself. I hate faking my functional role in society. 

I hate to pretend I am less ill than someone who has physical illness. I hate to pretend that I could be the one anybody can rely on. I hate to act strong while I am surrender inside. I hate to pretend that I don't need any help. I hate to say sorry for my dysfunctional behavior. What should be sorry for an illness? Am I asking for this? But, why did I feel so guilty for not getting anything in the right place. I hate to pretend I am preparing my coming back after I am staying in my depression cave. 

I am at the point the hug doesn't feel warm and the words can't comfort me. Although you are honest and sincere, I am still that kind of distrust and socially awkward. It's not your fault. I am sorry, it's my brain who told me to do so. And also sorry for being honest, I hate to say sorry about this actually because I didn't think it's my fault. I don't want to be so overwhelmed having social life, but what can I do if my brain tells my feeling to do so? I couldn't control it. Now, I know what does this sentence means:

Can you just leave me alone?

 

Sunday, October 10, 2021

Mau Sampai Kapan?

Nggak mudah melalui ini semua bagi diriku sendiri. Nggak mudah menjadi saksi mata atas apa yang aku alami di hidupku. Mungkin juga nggak mudah bagi orang-orang di sekitarku yang bahkan hanya sambil lalu bertegur sapa denganku.

Kadang aku bertanya-tanya, mengapa semua jadi seperti ini? Mengapa keadaan berubah drastis? Ke mana energi yang kumiliki selama ini untuk mengekspresikan segala hal di dalam kepalaku? Di titik mana semua tiba-tiba menjadi sesuatu yang begitu berbeda?

Pertanda itu sudah muncul sejak aku secara perlahan melepas ikatan satu per satu dengan orang lain. Aku bahkan berpikir, aku tidak sanggup menjalani hubungan kecuali dengan diriku sendiri. Aku merasa buruk bahkan sebagai seorang pasangan. Aku tidak pantas mendapatkan apapun dan siapapun. Aku tidak bisa menerima apapun tanpa memberikan timbal balik. Sejak kapan aku berpikir demikian?

Akan tetapi ini bukan tentang kisah cinta. Ini tentang diriku yang mungkin belum selesai dengan trauma di masa lalu. Atau mungkin diriku yang sedang kewalahan menghadapi trauma lain yang baru saja menerpa. Aku tak melihat seberkas cahaya pun di ujung kegelapan. Mau sampai kapan?

Monday, August 30, 2021

Saat Kembali ke Usia 18

Jika aku bisa memutar waktu dan diberi kesempatan untuk berbicara pada diriku yang berusia 18 tahun, akan aku katakan, 

"Jujurlah pada dirimu. Perasaanmu, kata hatimu, rasa benci dan cintamu. Nyatakan sebesarnya sama seperti kau masih 13. Hadapi dengan berani penolakan maupun penerimaan. Tanyakanlah apa maunya selain tarik ulur. Jangan takut kehilangan kebahagiaan semu. Rasa penasaranmu dan tanya mengapamu tidak akan hilang bahkan belasan tahun setelahnya. Kau harus menjaga keberanianmu menyala, menerangi jalanmu. Kau akan berterima kasih pada dirimu yang 18 tahun dan tak pernah surut cahayanya."

Tidak mudah, tetapi itu kan, asyiknya bermain skenario?

Sunday, February 14, 2021

Sebuah Pesan dan Rangkaian Pertanda

Saat aku merasa waktuku sangat sempit
Atau bahkan saat aku merasa aku tidak bisa memberi ruang pada diriku sendiri
Mungkin juga saat tiba-tiba aku merasa sangat lega semua sudah kuselesaikan dengan baik
Atau saat aku merasa aku mendapatkan segalanya lebih dari yang aku usahakan
Aku bersyukur masih dapat bertanya-tanya
Sedang ingin berbicara apakah Allah padaku?
Pesan apa yang ingin Dia sampaikan di tengah semua hal yang aku genggam dengan cuma-cuma?
Atau melalui pertanda apa yang harus kubaca saat keletihanku berujung pada kepasrahan?
Sesuatu apakah yang akan menjadi pertanda bahwa kali ini yang kulakukan adalah kebenaran?
Aku harap tidak sekalipun aku ingkar atau lalai
Melalui tetesan air mata di tengah hujan aku berbicara pada Yang Selalu Melihat
Melalui keheningan malam aku berbicara pada Yang Selalu Mendengar
Melalui napas yang tersengal aku meminta pada Yang Maha Memberi
Melalui rindu yang tidak dapat aku pahami aku memohon pada Yang Maha Mengasihi.


Thursday, January 7, 2021

Tumbuh


Kita tidak pernah tahu sampai kapan kita punya waktu
Kita tidak pernah tahu hingga sampai mana kita bisa tumbuh
Kita tidak pernah tahu apakah kita hanya bisa menjadi hijau di antara rerimbun
Ataukah akan menjadi hingga menguning setelah meneduhi yang lain sepanjang terik

Maka mencari tahu sampai titik mana kita bisa tumbuh merupakan keniscayaan

Kekecewaan paling dalam bukanlah berdamai dengan kegagalan
Melainkan menghadapi penyesalan karena tidak mengindahkan kesempatan

Tuesday, January 5, 2021

Perpisahan

Aku ingin kembali menarik waktu
Untuk mengucapkan perpisahan pada sesuatu yang tak bisa aku miliki
Untuk mengatakan cinta pada sesuatu yang tidak aku punyai
Untuk memenangkan hatiku 
Dan menenangkan egoku atas ketidakwarasanku
Mengabaikan pertanda dan harga sebuah percaya
Meremehkan getaran-getaran halus dalam hati
Tetapi justru mendengarkan bisikan-bisikan yang menjanjikan sesuatu yang semu

Mengapa aku tidak pernah bertanya
Akankah aku bahagia jika kehilangan semua?
Akankah aku bersedih jika semua masih sama?
Apakah benar ini yang aku inginkan?
Apakah salah jika ini yang aku butuhkan?

Aku justru bertanya
Mengapa tidak kulakukan?
Mengapa ragu?

Seharusnya tahu bahwa sesuatu yang salah mungkin terjadi
Saat aku berhenti mempertanyakan

Penyesalan tak pernah di depan, bukan?

~Tidak semua hal bisa dikatakan sebagai realitas

Habit

I skipped yesterday (whoops) as it was nothing
Just like the other day
One day is nothing, one thing is nothing
Until someday you realize
It becomes your habit
It becomes days, a week, a month
It grows much longer and also bigger

I don't know when did I skip my very first-night toothbrushing
It grows as a habit
Then, I have one of my molars gone
Now, I know, I am risking more than I can imagine
If I keep underestimating things

But, how should I come back to my origin?

Sunday, January 3, 2021

Menjadi Pemungkin


Ternyata hidup ini bukan hanya mengenai kesempurnaan. Adanya celah-celah yang tidak selalu presisi adalah ruang manusia untuk berseni. Seni untuk menjadi pemungkin, juga seni untuk dapat melihat bahwa kenyataan tak selalu seindah roman. Seni untuk mengakui bahwa dunia memiliki beragam warna, tetapi juga memahami bahwa tidak semua warna harus ada untuk menjadi sesuatu yang bermakna.


Semesta tidak diciptakan hanya karena sebuah tiupan. Di balik tiupan, setiap yang tercipta ada karena sebuah alasan. Apa arti perjalanan jika hanya untuk dinikmati sendiri. Apa arti kebebasan jika orang lain masih dalam belenggu. Apa arti kebahagiaan jika di atas kesengsaraan orang lain. Apa arti kesadaran tanpa ada kepedulian. Dan untuk memahami hakikat jalan yang kita lalui, kita hanya perlu mencoba hingga tau sampai mana kemungkinan bisa jadi milik kita. Sisanya tangan Tuhan yang akan bekerja. Cobalah sampai lelah, boleh berhenti tetapi jangan menyerah.

Saturday, January 2, 2021

Seeing The Different Part of Me

I think my life will get nicer if I had a cat

Which I can talk to

Whenever I had a bad day

Whenever somebody or myself hurt me

But, thinking about it a bit seriously

I just found the other part of me

I know now, I can't have just any cats

Cause I am selfish 

And I think I can't own a cat

Because I like cats, but not every cat

You know, I just found that there is still

And maybe will always be

Something I can't have a deal with

Still, I am too overwhelmed with myself


When will I get ready?



~Second day of 30 hari bercerita. I wonder what would change within a month. 

Haven't I Done Enough?

Do you ever feel like you've never done enough?

It haunts me all the time

When I think I am good enough

I do my best I can

I give all I have

I sacrifice my precious time to build a nice place

But, seeing the reaction

Suddenly, my under-head voice tells me I have never done enough

In listening to the valuable advice

And understanding others' feelings


I think pursuing my dreams will give me the serenity

I think focusing on my own path will take me to the best part of my life

I think doing my best what I'm best at will make me the best version of me

But, it seems not enough


You know, so many times I doubted myself

Whether I'm just ignorant and selfish or this is just my limit

Would it be better if I was just taking it as routines?

Giving my maximum but not my best

Dividing my attention into some priorities rather than an ultimate priority


Once again it haunts me

Haven't I done enough?

Am I ignorant?

Or is it just me that not capable at all?


What do I do?



~Considering it as my first writing in 2021 for the first day of January. I took the 30 hari bercerita challenge.

Sunday, November 1, 2020

Tempat


Sebuah lagu yang bertahun-tahun lalu sering kuputar
Terdengar samar tetapi menggema di hati
Dalam sebuah perjalanan panjang yang asing
Terkadang bahagia bisa sesederhana berjumpa kembali
dengan sesuatu yang pernah kita akrabi

Setiap tempat memiliki warna dan rasanya sendiri-sendiri
Namun, akan selalu ada satu orang,
Bagaimana pun berbedanya persinggahan-persinggahan itu
Kau akan selalu ingat
Ada orang yang selalu kau ingin untuk melihat ke arah yang sama
Berbagi aroma pada setiap sudut yang kau kunjungi

Kawaanku bilang,
Hati kita, setiap sudut ada yang punya
Meskipun orang datang dan berlalu
Akan selalu ada tempat bagi setiap orang-orang itu
Teori Ruang Hati.