Hari ini aku terbangun dengan perasaan agak enggan untuk beranjak keluar dan menemui orang lain, meskipun aku memiliki janji penting. Aku telah membuat reservasi dengan salon khusus wanita. Satu hal yang membuatku yakin untuk berangkat adalah saat aku memikirkan pegawai salon yang telah membuat plot jadwal reservasiku dan memplot stylish untuk keperluanku. Meski aku tahu jika kubatalkan, mereka tak rugi secara material, tetapi aku tidak sampai hati membiarkan mereka memiliki ekspektasi yang baik tentang hari ini. Aku mungkin akan merusak hari beberapa orang jika tidak datang. Atau, mungkin mereka sudah biasa?
Dalam 2 bulan ini aku intens menjalani perawatan di salon khusus wanita. Terhitung hingga hari ini aku sudah 4 kali melakukan perawatan, 2 kali bersama teman dan 2 kali aku datang sendiri. Aku yang biasanya sangat enggan pergi sendiri, pada akhirnya mengambil keberanian untuk mengambil langkah pertama yang aku pikir akan membuatku nyaman. Pada hari ini aku datangi sebuah salon yang sama sekali asing dan tidak pernah kuketahui sebelumnya. Setelah memasuki pintu masuk, beberapa keganjilan kurasakan, seperti para pegawai yang sudah bukan lagi tampak seperti anak muda yang biasanya memberikan pelayanan di front office. Namun, masih cukup normal dengan keramahan dan kesigapannya melayani pelanggan yang baru sekitar 3 orang karena aku datang ketika salon baru dibuka pukul 9.
Ruang perawatan tampak sangat teduh dengan pencahayaan yang tidak begitu terang. Nuansa hijau dipilih sebagai identitas dan branding. Terdapat 2 water wall di belakang kursi perawatan, tetapi tidak semua pelanggan bisa dapat pemandangan water wall yang terpantul melalui cermin di depan kursi pelanggan karena kursi pelanggan berderet sekitar 7-9 buah. Aku sebagai pelanggan pertama langsung memilih duduk di kursi yang memiliki pemandangan water wall itu.
Sekitar 1 jam perawatan pelanggan sudah bertambah hingga 2 kali lipat. Seorang pelanggan di seberangku sepertinya sedang melakukan perawatan kaki karena aku bisa melihat pihak salon sedang duduk di kursi pendek dan memijat kakinya, meskipun aku dan pelanggan itu terhalang cermin di depan kami. Selesai perawatan, pelayan menyampaikan bahwa perawatan selesai menggunakan Bahasa Jawa Krama Inggil (Bahasa Jawa dengan tingkatan paling tinggi).
(Bu, ini perawatannya sudah ya.)
Namun, aku tidak dapat mendengar suara pelanggan tersebut, aku hanya bisa melirik jika pelayan itu kebingungan karena sepertinya ada yang belum dia selesaikan.
(Oh, ini belum ya. Kurang pendek, ya?)
Dia seperti bermonolog, tetapi aku bisa menyimpulkan kalau sebenarnya ada dialog yang tidak terdengar olehku.
"Kalau gitu saya potong lagi kukunya, nggih Bu."
Aku menangkap bahwa kuku pelanggan yang tadi sudah dipotong dan dibersihkan masih belum sesuai dengan permintaan atau selera pelanggan. Mengetahui situasi itu, sebagai pelanggan aku mengerti rasanya ingin mendapatkan pelayanan prima. Namun, sebagai sesama manusia, aku sungguh tidak tega melihat pelayan itu bersimpuh di bawah orang yang menyewa jasanya demi mendapatkan gaji senilai UMR Jogja. Sungguh, aku tak dapat menahan kegelisahan dalam hatiku, membayangkan ketika aku sendiri dihadapkan pada situasi sebagai pelayan dan kukira semua berjalan mudah, tetapi kenyataannya hidup sering kali keras kepada mereka yang tak memiliki senjata untuk sekadar berbicara mengenai isi hati dan pikiran mereka.
Aku hanya mampu berdoa semoga para pelayan ini mendapatkan upah yang layak dari atasan mereka, diberikan perlindungan, dan jaminan kerja. Tak ada lagi yang bisa kubantu saat itu, tetapi pengalamanku yang tidak lebih dari semenit itu begitu membekas di dalam hatiku. Aku rasa aku perlahan belajar untuk menerima. Setidak sesuai apapun kenyataan dengan keinginanku, aku coba pikirkan bagaimana perasaan orang lain. Kita bisa komunikasikan dengan jelas di awal hingga proses, alih-alih di akhir. Jika sudah dilakukan tetapi tak menghasilkan apapun, sudah. Itu kuasa Allah Swt. Manusia mulia karena bersabar. Orang lain yang berbuat tak sesuai kehendak hati, itu urusan mereka.



0 comments:
Post a Comment