Aku tidak tahu apakah dunia lebih banyak membicarakan kehilangan yang tidak terselesaikan atau kesedihan yang berhasil dihadapi meskipun tidak selalu sebahagia cerita dalam dongeng.
Aku terobsesi dengan angka-angka untuk memvalidasi bahwa perasaanku tidak lebih besar atau lebih besar kepada orang lain untuk meyakini siapa yang menang atau kalah. Bagiku cinta tidak semudah memberikan segalanya dan bahagia bersama. Aku merasa tidak mengenalnya.
Memangnya kenapa jika orang lebih banyak membicarakan kehilangan dan tidak selesainya urusan? Setelah kudengar dan bahkan mungkin kusaksikan sendiri, apakah akan kubawa tidur hingga bangun esok hari? Akankah ini mengubah rasa kehilanganku pada orang lain atau bahkan diriku sendiri?
Memangnya kenapa jika orang telah cukup banyak membicarakan kesedihan yang telah ditaklukkan oleh dua sejoli hingga menjalani kehidupan sebagaimana mestinya seperti orang lain? Apakah ini akan meningkatkan kecintaanku pada orang yang selalu menggenggam tanganku di atas ataupun di bawah diriku di mata dunia? Akanakah ini justru menjadi memoar pahit yang tidak ingin aku jalani?
Memangnya kenapa dan apa perlunya?
Puluhan tahun ini aku jalani dengan menghayati kisah orang lain seakan aku sendiri adalah pelakunya. Aku tidak tahu apakah aku hidup dalam bayang-bayang atau memang aku selalu suka mendramatisasi segala sesuatu supaya terlihat menarik di mata orang lain.
Bukan hal yang asing jika aku terbangun dengan perasaan terlampau senang karena aku bermimpi telah pindah rumah dan memiliki peternakan sapi atau kuda berhektar-hektar luasnya. Bukan pula hal yang tidak aku kenali jika aku bisa berhari-hari sedih atau mengalami suasana hati yang buruk hingga sangat buruk karena bermimpi kehilangan sesuatu, bertengkar dengan orang lain, atau menyadari mimpi indah yang tidak dapat aku raih.
Kapankah aku hidup di masa kini? Itulah hal yang membuatku menulis tulisanku malam ini. Aku jarang bisa menjawab pertanyaan sederhana tanpa berpikir panjang ke depan dan belakang atau memberikan pertanyaan balasan untuk memastikan bahwa jawabanku akan menciptakan keamanan pada diriku.
Oleh karenanya, jika satu cerita lebih banyak dinarasikan daripada yang lain, apa hubungannya denganku? Aku hanya akan bertanya-tanya, di antara sesuatu yang faktual, di manakah tempatku dan kecenderunganku, sehingga aku ingin menilai (atau menghakimi?) diriku dan posisiku di antara orang-orang.
Apakah aku cukup jarang? Apakah aku cukup unik? Apakah aku memiliki keistimewaan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin muncul karena aku kehilangan sebagian besar diriku yang kuyakini selama ini ada dan kukenal dengan baik. Nyatanya, aku seperti menjalani takdir orang lain.
Aku bahkan tidak tahu apakah kepalaku terisi oleh kenangan dan pemikiran orang lain atau milikku sendiri. Aku kebingungan dalam melakukan sesuatu, untuk siapa ini kulakan dan perlukah kuperjuangkan? Semua terasa membingungkan dan aku kehilangan arah.
Terkadang aku ingin mendengarkan cerita-cerita masa kecilku, mengenai aku yang bahagia dan memiliki banyak mimpi. Namun, penyimpan memori itu kupahami kini tak ubahnya orang biasa menghadapi anak kecil dengan selalu ceria, yang kutahu sekarang adalah kebohongan. Yang kutahu sekarang mereka bisa menyerang. Namun, penyimpan memori itu kini perlahan memudar ingatannya dan menghilang dari penglihatanku tanpa aku sempat mengucapkan perpisahan atau bahkan aku sempat menerima kata perpisahan dari mereka.
Panggilan yang tidak terjawab, pesan yang diketik secara tidak teratur karena gawai yang tidak sesuai dengan kapasitas pemiliknya, tuntutan dan tuntunan yang tersimpan di dalam otakku setelah berinteraksi selama puluhan tahun, semua membuat dadaku pernah sesak dan tidak terima. Aku tidak bisa mengakui begitu saja bahwa kegelapan mampu menenggelamkan wajah yang paling bersinar sekalipun. Aku sulit mengakui bahwa orang-orang yang kasih sayangnya sempurna pun memiliki keinginan yang dapat menyakiti.















