Thursday, January 27, 2022

Apa yang Terukur dan Apa yang Tidak Kita Ketahui

Aku tidak tahu apakah dunia lebih banyak membicarakan kehilangan yang tidak terselesaikan atau kesedihan yang berhasil dihadapi meskipun tidak selalu sebahagia cerita dalam dongeng.

Aku terobsesi dengan angka-angka untuk memvalidasi bahwa perasaanku tidak lebih besar atau lebih besar kepada orang lain untuk meyakini siapa yang menang atau kalah. Bagiku cinta tidak semudah memberikan segalanya dan bahagia bersama. Aku merasa tidak mengenalnya.

Memangnya kenapa jika orang lebih banyak membicarakan kehilangan dan tidak selesainya urusan? Setelah kudengar dan bahkan mungkin kusaksikan sendiri, apakah akan kubawa tidur hingga bangun esok hari? Akankah ini mengubah rasa kehilanganku pada orang lain atau bahkan diriku sendiri?

Memangnya kenapa jika orang telah cukup banyak membicarakan kesedihan yang telah ditaklukkan oleh dua sejoli hingga menjalani kehidupan sebagaimana mestinya seperti orang lain? Apakah ini akan meningkatkan kecintaanku pada orang yang selalu menggenggam tanganku di atas ataupun di bawah diriku di mata dunia? Akanakah ini justru menjadi memoar pahit yang tidak ingin aku jalani?

Memangnya kenapa dan apa perlunya? 

Puluhan tahun ini aku jalani dengan menghayati kisah orang lain seakan aku sendiri adalah pelakunya. Aku tidak tahu apakah aku hidup dalam bayang-bayang atau memang aku selalu suka mendramatisasi segala sesuatu supaya terlihat menarik di mata orang lain. 

Bukan hal yang asing jika aku terbangun dengan perasaan terlampau senang karena aku bermimpi telah pindah rumah dan memiliki peternakan sapi atau kuda berhektar-hektar luasnya. Bukan pula hal yang tidak aku kenali jika aku bisa berhari-hari sedih atau mengalami suasana hati yang buruk hingga sangat buruk karena bermimpi kehilangan sesuatu, bertengkar dengan orang lain, atau menyadari mimpi indah yang tidak dapat aku raih. 

Kapankah aku hidup di masa kini? Itulah hal yang membuatku menulis tulisanku malam ini. Aku jarang bisa menjawab pertanyaan sederhana tanpa berpikir panjang ke depan dan belakang atau memberikan pertanyaan balasan untuk memastikan bahwa jawabanku akan menciptakan keamanan pada diriku.

Oleh karenanya, jika satu cerita lebih banyak dinarasikan daripada yang lain, apa hubungannya denganku? Aku hanya akan bertanya-tanya, di antara sesuatu yang faktual, di manakah tempatku dan kecenderunganku, sehingga aku ingin menilai (atau menghakimi?) diriku dan posisiku di antara orang-orang. 

Apakah aku cukup jarang? Apakah aku cukup unik? Apakah aku memiliki keistimewaan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin muncul karena aku kehilangan sebagian besar diriku yang kuyakini selama ini ada dan kukenal dengan baik. Nyatanya, aku seperti menjalani takdir orang lain.

Aku bahkan tidak tahu apakah kepalaku terisi oleh kenangan dan pemikiran orang lain atau milikku sendiri. Aku kebingungan dalam melakukan sesuatu, untuk siapa ini kulakan dan perlukah kuperjuangkan? Semua terasa membingungkan dan aku kehilangan arah.

Terkadang aku ingin mendengarkan cerita-cerita masa kecilku, mengenai aku yang bahagia dan memiliki banyak mimpi. Namun, penyimpan memori itu kupahami kini tak ubahnya orang biasa menghadapi anak kecil dengan selalu ceria, yang kutahu sekarang adalah kebohongan. Yang kutahu sekarang mereka bisa menyerang. Namun, penyimpan memori itu kini perlahan memudar ingatannya dan menghilang dari penglihatanku tanpa aku sempat mengucapkan perpisahan atau bahkan aku sempat menerima kata perpisahan dari mereka. 

Panggilan yang tidak terjawab, pesan yang diketik secara tidak teratur karena gawai yang tidak sesuai dengan kapasitas pemiliknya, tuntutan dan tuntunan yang tersimpan di dalam otakku setelah berinteraksi selama puluhan tahun, semua membuat dadaku pernah sesak dan tidak terima. Aku tidak bisa mengakui begitu saja bahwa kegelapan mampu menenggelamkan wajah yang paling bersinar sekalipun. Aku sulit mengakui bahwa orang-orang yang kasih sayangnya sempurna pun memiliki keinginan yang dapat menyakiti.


Tuesday, October 26, 2021

Once at a time, everything will be in the right place

I send this flowers to the beautiful soul lies in me
Thanking her for blooming in the right time
Loving her for keeping her head up during the hardest time
Hugging her soul since it is the only one who understands her
Telling her everything's gonna be okay though the thunder and storm inside her is still beating
You are awesome
You are doing great
Once at a time, everything will be in the right place

Sunday, October 17, 2021

The Hate I Had

Since I felt betrayed in social relations, the anxious feeling to meet people was indescribable. I lost my energy to do almost everything related to people.


I hate small talks. I hate faking smile. I hate to perform perfectly in stage. I hate to speak fluently in academics during my brain lag. I hate managing event that held satisfyingly. I hate to post materials and learning videos during my episodes. I hate to check others' presence as if I am there too at the present.

I hate to think that people think I am okay. I hate to fake my presence. I hate to force my brain to tune in. I hate to participate in group conversation and tasks. I hate to listen to people noise and conversation. I hate to be surrounded by many people. I hate to attend social gatherings. I hate to meet people I know. I hate to answer any question in the air.

I hate to spread positive vibes in any occasion from my depression cave. I hate to keep myself awake during the day and being productive. I hate to criticize any social dysfunction while I am the dysfunctional itself. I hate faking my functional role in society. 

I hate to pretend I am less ill than someone who has physical illness. I hate to pretend that I could be the one anybody can rely on. I hate to act strong while I am surrender inside. I hate to pretend that I don't need any help. I hate to say sorry for my dysfunctional behavior. What should be sorry for an illness? Am I asking for this? But, why did I feel so guilty for not getting anything in the right place. I hate to pretend I am preparing my coming back after I am staying in my depression cave. 

I am at the point the hug doesn't feel warm and the words can't comfort me. Although you are honest and sincere, I am still that kind of distrust and socially awkward. It's not your fault. I am sorry, it's my brain who told me to do so. And also sorry for being honest, I hate to say sorry about this actually because I didn't think it's my fault. I don't want to be so overwhelmed having social life, but what can I do if my brain tells my feeling to do so? I couldn't control it. Now, I know what does this sentence means:

Can you just leave me alone?

 

Sunday, October 10, 2021

Mau Sampai Kapan?

Nggak mudah melalui ini semua bagi diriku sendiri. Nggak mudah menjadi saksi mata atas apa yang aku alami di hidupku. Mungkin juga nggak mudah bagi orang-orang di sekitarku yang bahkan hanya sambil lalu bertegur sapa denganku.

Kadang aku bertanya-tanya, mengapa semua jadi seperti ini? Mengapa keadaan berubah drastis? Ke mana energi yang kumiliki selama ini untuk mengekspresikan segala hal di dalam kepalaku? Di titik mana semua tiba-tiba menjadi sesuatu yang begitu berbeda?

Pertanda itu sudah muncul sejak aku secara perlahan melepas ikatan satu per satu dengan orang lain. Aku bahkan berpikir, aku tidak sanggup menjalani hubungan kecuali dengan diriku sendiri. Aku merasa buruk bahkan sebagai seorang pasangan. Aku tidak pantas mendapatkan apapun dan siapapun. Aku tidak bisa menerima apapun tanpa memberikan timbal balik. Sejak kapan aku berpikir demikian?

Akan tetapi ini bukan tentang kisah cinta. Ini tentang diriku yang mungkin belum selesai dengan trauma di masa lalu. Atau mungkin diriku yang sedang kewalahan menghadapi trauma lain yang baru saja menerpa. Aku tak melihat seberkas cahaya pun di ujung kegelapan. Mau sampai kapan?

Monday, August 30, 2021

Saat Kembali ke Usia 18

Jika aku bisa memutar waktu dan diberi kesempatan untuk berbicara pada diriku yang berusia 18 tahun, akan aku katakan, 

"Jujurlah pada dirimu. Perasaanmu, kata hatimu, rasa benci dan cintamu. Nyatakan sebesarnya sama seperti kau masih 13. Hadapi dengan berani penolakan maupun penerimaan. Tanyakanlah apa maunya selain tarik ulur. Jangan takut kehilangan kebahagiaan semu. Rasa penasaranmu dan tanya mengapamu tidak akan hilang bahkan belasan tahun setelahnya. Kau harus menjaga keberanianmu menyala, menerangi jalanmu. Kau akan berterima kasih pada dirimu yang 18 tahun dan tak pernah surut cahayanya."

Tidak mudah, tetapi itu kan, asyiknya bermain skenario?

Sunday, February 14, 2021

Sebuah Pesan dan Rangkaian Pertanda

Saat aku merasa waktuku sangat sempit
Atau bahkan saat aku merasa aku tidak bisa memberi ruang pada diriku sendiri
Mungkin juga saat tiba-tiba aku merasa sangat lega semua sudah kuselesaikan dengan baik
Atau saat aku merasa aku mendapatkan segalanya lebih dari yang aku usahakan
Aku bersyukur masih dapat bertanya-tanya
Sedang ingin berbicara apakah Allah padaku?
Pesan apa yang ingin Dia sampaikan di tengah semua hal yang aku genggam dengan cuma-cuma?
Atau melalui pertanda apa yang harus kubaca saat keletihanku berujung pada kepasrahan?
Sesuatu apakah yang akan menjadi pertanda bahwa kali ini yang kulakukan adalah kebenaran?
Aku harap tidak sekalipun aku ingkar atau lalai
Melalui tetesan air mata di tengah hujan aku berbicara pada Yang Selalu Melihat
Melalui keheningan malam aku berbicara pada Yang Selalu Mendengar
Melalui napas yang tersengal aku meminta pada Yang Maha Memberi
Melalui rindu yang tidak dapat aku pahami aku memohon pada Yang Maha Mengasihi.


Thursday, January 7, 2021

Tumbuh


Kita tidak pernah tahu sampai kapan kita punya waktu
Kita tidak pernah tahu hingga sampai mana kita bisa tumbuh
Kita tidak pernah tahu apakah kita hanya bisa menjadi hijau di antara rerimbun
Ataukah akan menjadi hingga menguning setelah meneduhi yang lain sepanjang terik

Maka mencari tahu sampai titik mana kita bisa tumbuh merupakan keniscayaan

Kekecewaan paling dalam bukanlah berdamai dengan kegagalan
Melainkan menghadapi penyesalan karena tidak mengindahkan kesempatan

Tuesday, January 5, 2021

Perpisahan

Aku ingin kembali menarik waktu
Untuk mengucapkan perpisahan pada sesuatu yang tak bisa aku miliki
Untuk mengatakan cinta pada sesuatu yang tidak aku punyai
Untuk memenangkan hatiku 
Dan menenangkan egoku atas ketidakwarasanku
Mengabaikan pertanda dan harga sebuah percaya
Meremehkan getaran-getaran halus dalam hati
Tetapi justru mendengarkan bisikan-bisikan yang menjanjikan sesuatu yang semu

Mengapa aku tidak pernah bertanya
Akankah aku bahagia jika kehilangan semua?
Akankah aku bersedih jika semua masih sama?
Apakah benar ini yang aku inginkan?
Apakah salah jika ini yang aku butuhkan?

Aku justru bertanya
Mengapa tidak kulakukan?
Mengapa ragu?

Seharusnya tahu bahwa sesuatu yang salah mungkin terjadi
Saat aku berhenti mempertanyakan

Penyesalan tak pernah di depan, bukan?

~Tidak semua hal bisa dikatakan sebagai realitas

Habit

I skipped yesterday (whoops) as it was nothing
Just like the other day
One day is nothing, one thing is nothing
Until someday you realize
It becomes your habit
It becomes days, a week, a month
It grows much longer and also bigger

I don't know when did I skip my very first-night toothbrushing
It grows as a habit
Then, I have one of my molars gone
Now, I know, I am risking more than I can imagine
If I keep underestimating things

But, how should I come back to my origin?

Sunday, January 3, 2021

Menjadi Pemungkin


Ternyata hidup ini bukan hanya mengenai kesempurnaan. Adanya celah-celah yang tidak selalu presisi adalah ruang manusia untuk berseni. Seni untuk menjadi pemungkin, juga seni untuk dapat melihat bahwa kenyataan tak selalu seindah roman. Seni untuk mengakui bahwa dunia memiliki beragam warna, tetapi juga memahami bahwa tidak semua warna harus ada untuk menjadi sesuatu yang bermakna.


Semesta tidak diciptakan hanya karena sebuah tiupan. Di balik tiupan, setiap yang tercipta ada karena sebuah alasan. Apa arti perjalanan jika hanya untuk dinikmati sendiri. Apa arti kebebasan jika orang lain masih dalam belenggu. Apa arti kebahagiaan jika di atas kesengsaraan orang lain. Apa arti kesadaran tanpa ada kepedulian. Dan untuk memahami hakikat jalan yang kita lalui, kita hanya perlu mencoba hingga tau sampai mana kemungkinan bisa jadi milik kita. Sisanya tangan Tuhan yang akan bekerja. Cobalah sampai lelah, boleh berhenti tetapi jangan menyerah.

Saturday, January 2, 2021

Seeing The Different Part of Me

I think my life will get nicer if I had a cat

Which I can talk to

Whenever I had a bad day

Whenever somebody or myself hurt me

But, thinking about it a bit seriously

I just found the other part of me

I know now, I can't have just any cats

Cause I am selfish 

And I think I can't own a cat

Because I like cats, but not every cat

You know, I just found that there is still

And maybe will always be

Something I can't have a deal with

Still, I am too overwhelmed with myself


When will I get ready?



~Second day of 30 hari bercerita. I wonder what would change within a month. 

Haven't I Done Enough?

Do you ever feel like you've never done enough?

It haunts me all the time

When I think I am good enough

I do my best I can

I give all I have

I sacrifice my precious time to build a nice place

But, seeing the reaction

Suddenly, my under-head voice tells me I have never done enough

In listening to the valuable advice

And understanding others' feelings


I think pursuing my dreams will give me the serenity

I think focusing on my own path will take me to the best part of my life

I think doing my best what I'm best at will make me the best version of me

But, it seems not enough


You know, so many times I doubted myself

Whether I'm just ignorant and selfish or this is just my limit

Would it be better if I was just taking it as routines?

Giving my maximum but not my best

Dividing my attention into some priorities rather than an ultimate priority


Once again it haunts me

Haven't I done enough?

Am I ignorant?

Or is it just me that not capable at all?


What do I do?



~Considering it as my first writing in 2021 for the first day of January. I took the 30 hari bercerita challenge.

Sunday, November 1, 2020

Tempat


Sebuah lagu yang bertahun-tahun lalu sering kuputar
Terdengar samar tetapi menggema di hati
Dalam sebuah perjalanan panjang yang asing
Terkadang bahagia bisa sesederhana berjumpa kembali
dengan sesuatu yang pernah kita akrabi

Setiap tempat memiliki warna dan rasanya sendiri-sendiri
Namun, akan selalu ada satu orang,
Bagaimana pun berbedanya persinggahan-persinggahan itu
Kau akan selalu ingat
Ada orang yang selalu kau ingin untuk melihat ke arah yang sama
Berbagi aroma pada setiap sudut yang kau kunjungi

Kawaanku bilang,
Hati kita, setiap sudut ada yang punya
Meskipun orang datang dan berlalu
Akan selalu ada tempat bagi setiap orang-orang itu
Teori Ruang Hati.

Saturday, May 9, 2020

Setiap Kehilangan Tak Pernah Sama


Tidak pernah mudah. Mengatakan bahwa kau mengerti rasanya kehilangan. Tidak semudah kau bersimpati atas kebahagiaan. Kehilangan seperti rasa yang eksklusif dimiliki oleh orang yang berhasil mengolah tragedi dalam ketenangan. Tidak akan pernah sama mengatakan, "Aku ikut senang," dengan, "Mengatakan aku ikut sedih."

Rasa senang dan sedih mungkin sama-sama menjalar. Namun, kesedihan karena kehilangan akan tetap tinggal meskipun kau telah hidup bahagia. Tidak seperti rasa senang yang bisa dengan mudah hilang saat kau tenggelam dalam kesengsaraan. Lamanya ia tinggal terkadang membuatmu heran betapa kuatnya dirimu telah bertahan. Lamanya ia tinggal membuatmu tidak sadar ia telah menjelma sebagai kawan.

Yang ironi dari sebuah kehilangan adalah rasanya yang tidak pernah bisa musnah. Tidak bisa dilupakan seberapa kuat pun ingin dihapus dari ingatan. Sesuatu yang kita ingin hidup jauh-jauh tetapi justru selalu menghampiri ketika tak ada seseorang pun lagi.

Luka yang tertinggal dan trauma yang mengganjal membuat kita tidak hanya enggan mencoba tetapi bahkan takut untuk memulai lagi. Tahu akan beberapa kemungkinan tidak cukup. Kuat untuk menghadapinya merupakan persoalan lain. Tidak setiap orang siap untuk memulai dan dengan mudah berdamai kembali jika harus merasa pahit lagi. Berpura-pura bahwa kehilangan merupakan sesuatu yang normal karena telah dilalui berulang kali bukanlah cara yang dapat dimenangkan hati.

Kebahagiaan yang datang setelah periode yang kosong bukanlah obat atas kehilangan. Kebahagiaan bukanlah perayaan telah lepas dari kesedihan. Kenangan yang membebani bukan sesuatu yang harus selalu dilupakan. Pada titik yang kau pijaki setelah melalui masa-masa sulit, kau akan tahu betapa tidak sederhananya di balik segala sesuatu yang biasa.

Mereka yang mencoba memperlihatkan kesederhanaan dalam memaknai hidup tanpa sibuk menyimplifikasi kehidupan orang lain adalah cerminan bagaimana menghadapi kehilangan tanpa menghakimi kebahagiaan orang. Dan bahagia tidaknya diri kita, sedih tidaknya diri kita, tidak ada hubungannya dengan kesenangan dan kesengsaraan orang lain. 

Tidak akan pernah sama rasanya meski berapa kalipun kau mencoba memahami. Walaupun kau rasakan sendiri, tak pernah ada hal yang benar-benar sama di dunia ini. 

Monday, May 4, 2020

Arti Jauh


Aku tak pernah merasa setidak berdaya ini. Jauh darimu terasa membunuhku. Aku sampai hampir lupa bagaimana rasa hangat menjalar dari genggamanmu. Aku hampir lupa bagaimana caraku tersenyum saat bahagia menatap wajahmu.

Kini saat aku peluk tubuhmu, aku dihantui pemikiran bahwa ini hanyalah angan semu. Aku hanya tidak ingin ini berakhir. Aku tidak ingin menghadapi kenyataan setelah ini. Bahwa kau mungkin akan kembali jauh dan aku akan kembali merindukanmu.

Aku tahu ini bukan lagi sekedar harapan. Karena kita sadar akan masing-masing kepastian. Bahwa kita tidak akan saling meninggalkan. Dan hati kita tidak akan saling menduakan. Namun, cinta saja tidak cukup untuk menikam kerinduan.

Aku peluk erat tubuhmu seakan ini adalah yang terakhir kali. Dengan rasa frustrasi yang membuatku percaya bahwa tidak akan ada kesempatan lain lagi. Aku berharap dunia berhenti dan membiarkan aku memiliki setiap bagian darimu tanpa kecuali. Apakah kau juga merasakan ini?

Dalam sisa waktuku yang aku tidak tahu berapa lama yang dapat kita sepakati, aku hanya ingin sejenak menghilang dari kenyataan. Bahwa kita yang saling memiliki, suatu saat akan menghadapi kengerian mencoba mengingat-ingat bagaimana cara hidup kita sebelum ini. Walaupun hanya sementara waktu, setiap detiknya yang memaksa kita bertahan akan membuatku ketakutan bahwa perlahan aku akan kehilangan jejak-jejak keberadaanmu. Membuatku merasa kau menjadi tidak nyata. Hanya samar-samar dalam bayang-bayang. Hingga lelah aku mengendalikan pikiranku yang terpaut padamu yang tidak sesuai dengan penginderaanku bahwa kau tak di sampingku.

Bisakah kau menahan diri sejenak, memberiku izin untuk merasakan dirimu ada dalam duniaku bahkan walaupun hanya satu detik lebih lama lagi? Kau mungkin akan dengan mudah pergi. Dan aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi.

Thursday, April 23, 2020

Talking to The Moon















I can never imagine
That someday I'll talk to the moon
Rather than to myself
To seek your soul
Scattered in the air
That I wish my eyes can catch it
My hands can hold it
My heart will be pleased about it

For your existence that never be mine
I got a thought
For me to just act it up
As if you were there
Talking back to me
Through the wind
And feeling your presence
Under the moonlight


Here is Bruno Mars talking to the moon and I remember something important in life. We don't have the rewind button for careless decisions.

Monday, April 20, 2020

Rasa

Terkadang aku memandangi potretmu
Satu-satunya yang aku miliki
Setelah rasa yang hanya bisa aku pendam sendiri
Tanpa ada yang mengetahui
Mungkin juga tanpa ada yang mengerti


Terkadang aku pun lupa dan melanjutkan hidup
Semua terjadi dengan normal
Aku masih berjalan menikmati udara
Dan berlari merasakan bara
Ingatan tentangmu bisa timbul tenggelam
Perasaan akan dirimu bisa meluap, kemudian senyap


Aku tak pernah berniat melukaimu
Dulu aku tak memperhitungkan apapun
Mencintaimu bukanlah pilihan
Tetapi aku tahu
Sesungguhnya menjagamu bisa jadi sebuah keputusan
Yang seharusnya bisa aku pertaruhkan
Dan aku pilih untuk mengabaikan

Hingga semua telah menjadi kenangan
Aku tak pernah menyadari apa artinya perasaan
Yang aku sangka mengganggu dan menyita waktu
Membuat aku selalu terburu-buru
Inginku segera usai
Aku ingin selesai

Tidak bisa aku pandang wajahmu
Begini saja kini aku merasa begitu pilu
Lalu kenapa tak kuwujudkan selagi bisa
Kenapa tak aku rasa selagi aku punya kesempatan
Satu-satunya kesempatan yang aku punya
Memaafkan diriku yang tak pernah belajar
Bagaimana hati merasa dan mempertimbangkan
Kini kutahu pentingnya memikirkan masa depan
Agar kita tidak tenggelam dalam penyesalan
Dan betapa lazimnya mengingat masa lalu
Walaupun datang seperti hantu
Ia mengajarimu hal-hal baru


_______________________________________________________________________
Some writers inspire me to write more and get my own book done. Oh really, should I? I feel stuck and not so productive during this outbreak. The thought that I'll be more productive cause I'll have some additional time to rest and chill is completely wrong. The anxiety is real and I have no idea why is my brain just Patrick-ing all the time. I ended up here to see whether my Patrick head will get the way to create a masterpiece soon or not.
PS: The writing doesn't reflect the author's personal life :)

Wednesday, March 25, 2020

Hari yang Kau Nanti

Kau bukanlah orang yang mudah tersanjung jika dipuji cantik. Namun, hari ini aku tidak bisa menahan untuk tidak mengatakannya. Meskipun kau kikuk, tak ada seorang pun yang bisa menahannya.

Dari ribuan hari yang kau lewati, mungkin ini adalah hari yang paling kau nanti-nanti. Aku tahu bagaimana rasanya, menunggu selama itu dan akhirnya menemukan bagian dari jiwamu.

Hari ini adalah hari terakhirmu menggenggam tanganku sebagai seseorang yang berusaha selalu hadir saat kau sedih maupun senang, sebagai seorang sahabat. Beberapa saat setelah ini akan ada tangan lain yang akan menuntunmu dan tak akan melepaskanmu, selamanya.

Aku bertanya pada dirimu, "Apakah kau benar-benar mencintainya?" Itu adalah caraku untuk mengatakan, "Apakah kau benar-benar yakin akan melakukan ini? Seberapa yakinkah dirimu?" 

Aku tidak meragukanmu. Hanya saja, aku masih tetap khawatir. Yang aku ingat dari dirimu, kau telah banyak kali terjatuh dan bangkit. Terkadang kau lari dan urusan tidak selesai. Namun, kali ini, kau tak akan pernah bisa lari. Apakah kau siap?

Aku terlalu sayang jika kau harus merasakan sesuatu yang tidak perlu sebelum masamu datang. Tetapi untuk mencapai kepastian, kau harus mencoba dan mencoba itu berpotensi menciptakan luka. Dan untuk yang satu ini, bukankah melewati batas jika masih percobaan?

Pelupuk mataku sudah basah karena rasa haru yang memuncak. Kau mungkin akan kesepian di suatu malam karena merindukan keluargamu. Kau mungkin akan merasa asing terhadap orang yang kau pilih untuk mencintaimu. Kau mungkin tidak pernah mengenal dirimu yang seperti itu. Namun, kau harus menghadapinya karena bantuan tak akan datang begitu saja.

Aku begitu bahagia untukmu. Tahukah kau, salah satu misi hidupku adalah mengantarkanmu pada seseorang yang bisa kuandalkan untuk menjagamu. Maka pesanku, kuatlah dan sabarlah jika kau merasa lelah atau pun kewalahan. Belasan tahun mengenalmu, aku tahu kau tidak akan menyerah.

Hari ini merupakan awal dari segalanya. Semua benar-benar akan berubah setelah ini. Namun, ingatlah, aku masih akan sama seperti saat ini, yang terus mengharapkan kebahagiaan untukmu.

"Someone who witnessed you grow as a woman
officially concedes you to your husband,
to make a lot of memories,
to love each other unconditionally,
and together to live under His guidance."


Blitar, 20 Maret 2020.

Saturday, February 29, 2020

Hati yang Patah




Kita semua adalah hati yang patah
Yang terluka semaunya karena amarah
Yang jatuh sesukanya oleh kata-kata indah

Kita semua adalah hati yang merekah
Yang tak redup meskipun lelah
Yang selalu rindu walaupun berpisah

Hati kita yang sulit dipahami membuat kita menderita sendiri
Sering kali menyalahkan orang lain untuk menenangkan diri
Mencari sejuta alasan untuk menyelamatkan diri
Melukai orang lain agar tidak merasakan sakit sendiri

Aku berkali-kali telah patah
Namun, hati bisa tumbuh lagi meski tak pernah mudah
Aku katakan padanya, "Jangan berlari jika kau belum bisa berdiri!"
Tapi hati tak punya telinga
Ia terus meronta
Mengejar apa yang membuatnya terpesona
Kebahagiaan bukan ukuran yang ditetapkan
Hati yang patah tak selalu ingin berpindah
Meski berulang kali mencoba, yang indah akan tetap indah
Yang luka, tak akan membuatnya jera

Thursday, February 20, 2020

Kesempatan dan Keraguan

Suatu ketika aku pernah berjanji untuk menjadi yang terbaik dalam segalanya, menjadi diriku dengan sebaiknya. 
Hingga pada suatu titik, diriku sendiri yang hendak menghentikanku dengan keterbatasannya. 
Mimpi buruk itu tidak datang dari mana pun tetapi dari keyakinan yang naik turun, dari kepercayaan yang timbul tenggelam, dan dari kemampuan yang diragukan. 
Lupa bahwa ada yang selalu menjaga dan memelihara diri dan mimpi meski kita menyerah karena terlalu yakin Tuhan tak percaya kita lagi. 
Kali ini dan lain kali, aku beri dan akan selalu aku beri diriku kesempatan kedua lagi.