Monday, April 20, 2020

Rasa

Terkadang aku memandangi potretmu
Satu-satunya yang aku miliki
Setelah rasa yang hanya bisa aku pendam sendiri
Tanpa ada yang mengetahui
Mungkin juga tanpa ada yang mengerti


Terkadang aku pun lupa dan melanjutkan hidup
Semua terjadi dengan normal
Aku masih berjalan menikmati udara
Dan berlari merasakan bara
Ingatan tentangmu bisa timbul tenggelam
Perasaan akan dirimu bisa meluap, kemudian senyap


Aku tak pernah berniat melukaimu
Dulu aku tak memperhitungkan apapun
Mencintaimu bukanlah pilihan
Tetapi aku tahu
Sesungguhnya menjagamu bisa jadi sebuah keputusan
Yang seharusnya bisa aku pertaruhkan
Dan aku pilih untuk mengabaikan

Hingga semua telah menjadi kenangan
Aku tak pernah menyadari apa artinya perasaan
Yang aku sangka mengganggu dan menyita waktu
Membuat aku selalu terburu-buru
Inginku segera usai
Aku ingin selesai

Tidak bisa aku pandang wajahmu
Begini saja kini aku merasa begitu pilu
Lalu kenapa tak kuwujudkan selagi bisa
Kenapa tak aku rasa selagi aku punya kesempatan
Satu-satunya kesempatan yang aku punya
Memaafkan diriku yang tak pernah belajar
Bagaimana hati merasa dan mempertimbangkan
Kini kutahu pentingnya memikirkan masa depan
Agar kita tidak tenggelam dalam penyesalan
Dan betapa lazimnya mengingat masa lalu
Walaupun datang seperti hantu
Ia mengajarimu hal-hal baru


_______________________________________________________________________
Some writers inspire me to write more and get my own book done. Oh really, should I? I feel stuck and not so productive during this outbreak. The thought that I'll be more productive cause I'll have some additional time to rest and chill is completely wrong. The anxiety is real and I have no idea why is my brain just Patrick-ing all the time. I ended up here to see whether my Patrick head will get the way to create a masterpiece soon or not.
PS: The writing doesn't reflect the author's personal life :)
Share:

0 comments: