Rasa senang dan sedih mungkin sama-sama menjalar. Namun, kesedihan karena kehilangan akan tetap tinggal meskipun kau telah hidup bahagia. Tidak seperti rasa senang yang bisa dengan mudah hilang saat kau tenggelam dalam kesengsaraan. Lamanya ia tinggal terkadang membuatmu heran betapa kuatnya dirimu telah bertahan. Lamanya ia tinggal membuatmu tidak sadar ia telah menjelma sebagai kawan.
Yang ironi dari sebuah kehilangan adalah rasanya yang tidak pernah bisa musnah. Tidak bisa dilupakan seberapa kuat pun ingin dihapus dari ingatan. Sesuatu yang kita ingin hidup jauh-jauh tetapi justru selalu menghampiri ketika tak ada seseorang pun lagi.
Luka yang tertinggal dan trauma yang mengganjal membuat kita tidak hanya enggan mencoba tetapi bahkan takut untuk memulai lagi. Tahu akan beberapa kemungkinan tidak cukup. Kuat untuk menghadapinya merupakan persoalan lain. Tidak setiap orang siap untuk memulai dan dengan mudah berdamai kembali jika harus merasa pahit lagi. Berpura-pura bahwa kehilangan merupakan sesuatu yang normal karena telah dilalui berulang kali bukanlah cara yang dapat dimenangkan hati.
Kebahagiaan yang datang setelah periode yang kosong bukanlah obat atas kehilangan. Kebahagiaan bukanlah perayaan telah lepas dari kesedihan. Kenangan yang membebani bukan sesuatu yang harus selalu dilupakan. Pada titik yang kau pijaki setelah melalui masa-masa sulit, kau akan tahu betapa tidak sederhananya di balik segala sesuatu yang biasa.
Mereka yang mencoba memperlihatkan kesederhanaan dalam memaknai hidup tanpa sibuk menyimplifikasi kehidupan orang lain adalah cerminan bagaimana menghadapi kehilangan tanpa menghakimi kebahagiaan orang. Dan bahagia tidaknya diri kita, sedih tidaknya diri kita, tidak ada hubungannya dengan kesenangan dan kesengsaraan orang lain.
Tidak akan pernah sama rasanya meski berapa kalipun kau mencoba memahami. Walaupun kau rasakan sendiri, tak pernah ada hal yang benar-benar sama di dunia ini.




0 comments:
Post a Comment