semua ini seperti titik balik, menohokku begitu keras dan beringas. dulu apa yang aku pikir tengah meniti jembatan kayu dengan pegangan di pinggir-pinggirnya, kini aku sadar bahwa peganganku lepas. setengah terpeleset aku memberanikan diri menoleh ke belakang. semua, semuanya, kupikir telah aku tuai. ya! bukan hanya yang aku tanam, tapi yang pernah kami coba untuk tumbuhkan. kami, aku dan dia yang telah memutuskan untuk memelihara kerapuhan dan kepasrahan. pegangan yang saling merajut satu sama lain. kepercayaan akan hari esok yang pasti akan tumbuh lebih baik. keadaan yang memerangi mimpi dan mendukung keraguan untuk terus mengejar kami.
kami.
apa yang aku bayangkan adalah sebuah kiasan dan ditangkis oleh kelembutannya, ternyata sama seperti yang sebelum-sebelumnya. setidaknya sampai kini sebelum dia mengaakan apapun akan kebenaran.
kebenarankah? atau mungkin sesuatu yang coba dibenarkan, entah.
dan aku kini mulai terlepas dari rajutan yang menopang jalanku. belum kehilangan sampai benar seluruhnya mengendur. memudar, membuatku limbung dan terkatung-katung. aku tidak akan mencoba menggapaikan tanganku dan memohon belas kasihan. apabila memang harus aku terjatuh, ini adalah pilihanku. ini adalah apa yang telah aku tentukan. di bawah sana, mungkin aku akan lebih mulia. mungkin ada dunia yang mau mengambilku sebagai sesuatu yang pantas untuk diagungkan. bukan sebagai yang dipuja tetapi pantas, pantas untuk dianggap.




0 comments:
Post a Comment